|
Dan ketika telah datang kebenaran kepadamu, segeralah tinggalkan kebathilan, dan segera ikuti kebenaran itu
|



Mengapa kita berda'wah?


Sibukkanlah dirimu dengan mengingat Allah

Jiwa....
Allah adalah segalanya

Al-Miizan: Timbangan dari segala perbuatan

Isi ulang imanmu, jangan di tunda lagi!

Jadilah cahaya yang selalu menyinari


Islam adalah??

Touching your heart ^_^



Asmaul Husna

True Love

Why ?
Sadarkah kalian jika membeli produk yahudi sama saja dengan berinfaq kepada musuh kita untuk membeli peluru yang merobek jantung saudara kita sendiri.
Dan janganlah kalian menjadi pengikut para musuh Allah sebab lama tidaknya kalian pasti akan dihadapkan dipengadilan Allah untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kalian itu, dengarlah dan dengar.. sebelum kalian meyesal dengan penyesalan yang abadi.


|
FASE BULAN SAAT INI
|
![]() Jazakumullah kepada yang telah berkunjung ke halaman ini, semoga bermanfaat bagi yang membacanya yang sudah berkunjung: |
|
Tidak diragukan lagi bahwasanya tidaklah seorang hamba yang hidup di dunia ini, apakah dari kalangan orang mu'min ataupun kafir, dari kalangan orang yang ta'at ataupun pelaku maksiat, melainkan pasti mereka berupaya dan berusaha agar terhindar dari kesesatan, karena manusia semua meyakini bahwa kesesatan tidak akan menghasilkan kecuali kehancuran dan kebinasaan. Sehingga mereka berusaha untuk tidak tersesat dengan cara masing-masing yang mereka anggap benar.
Tetapi amat sangat disayangkan sekali, diantara manusia ada yang berusaha menjauhkan diri dari kesesatan dengan beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai bentuk pendekatan diri kepada-Nya dengan amalan-amalan yang tidak di ajarkan dalam Islam. Dalam artian, mereka beramal dengan amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam , sama sekali. Sehingga mereka inilah orang-orang yang lari dari kesesatan dengan cara kesesatan pula.
Ketahuilah… perkara keduniawian pada asalnya hukumnya adalah mubah, sampai ada dalil yang mengharamkannya, sementara ibadah itu hukum asalnya adalah haram untuk dikerjakan sampai ada dalil shahih yang memerintahkannya. Inilah kaidah yang harus dipegang oleh setiap muslim baik itu dari sisi I'tiqod, ibadah maupun mu'amalah, sehingga tidak membuat kita bermudah-mudah membuat suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya, dan bertakwalah kepada Allah…" ( QS. Al Hujurat : 1)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya, "Melalui ayat ini Allah Ta'ala mengajarkan adab kepada hamba-Nya yang mukmin berupa pengagungan dan penghormatan terhadap apa yang dikerjakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maksudnya janganlah kalian mengagungkan (mengamalkan disertai keyakinan akan kebaikannya-pent) suatu amal sebelum Allah dan RasulNya menetapkan bolehnya amal tersebut, tetapi hendaklah kalian ittiba' dalam segala perkara agama". Sufyan Ats Tsauri mengatakan, "baik itu perkataan maupun perbuatan (amal lisan maupun amal badan-pent). (Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim)
Mereka yang berhujjah dengan bid'ah hasanah:
Sebagian para pelaku bid'ah jika dikatakan kepadanya bahwa apa yang dikerjakannya adalah bid'ah dan tidak ada tuntunannya dari syari'at maka biasanya mereka mengatakan, "Bukankah ini baik? Masak sih dzikir aja mesti dilarang karena dilakukan bersama ?!".
Salah satu cara terbaik menjawab syubhat ini adalah diajak dialog kepadanya kepada suatu hal yang diingkarinya namun dia sendiri melakukannya. Contoh dialognya :
Pelaku bid'ah: "Masak dzikir atau tahlilan aja dilarang, memang kamu siapa? Ini kan baik?! Gak ada dalil yang melarangnya."
Penuntut 'ilmu: "seandainya anda mau shalat shubuh 4 raka'at bagaimana? Bukankah semakin banyak takbir, ruku' dan sujudnya semakin baik ?"
Pelaku bid'ah: "Tidak boleh!"
Penuntut 'ilmu: "Mana dalil yang melarangnya? Apakah ada hadits, 'la tushalli shubhi arba'a rak'atiin (janganlah kamu shalat shubuh 4 raka'at!) ?"
Pelaku bid'ah: "Memang gak ada dalil yang melarang, tapi tuntunan dari Rasul adalah 2 raka'at. Walaupun kamu anggap baik tapi gak ada tuntunannya."
Penuntut 'ilmu: "Nah, sekarang anda mengakui bahwa amalan bukan dilihat dari selera kita apakah itu baik atau tidak, tapi karena tak ada contohnya. Lantas dzikir jama'i dan tahlilan yang anda lakukan juga tidak ada tuntunannya!! Bukankah anda mengingkari apa yang anda pegang?"
Namun dialog diatas bukanlah dimaksudkan untuk mengajak antum untuk rajin berjidal (debat) bukan pula untuk memojokkan anda yang masih berkutat dengan kebid'ahan. Akan tetapi saya cantumkan demi memperbaiki cara beragama kita bersama, menyadarkan orang yang belum sadar tentang bid'ah yang dilakukannya, serta memurnikan kembali ajaran Islam agar bersih dari TBC (Takhayyul, Bid'ah, Churofat).
Karena kita tahu, bahwasannya mengamalkan amalan yang tidak di contohkan Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam adalah sesuatu kesesatan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam dalam hadits yang di riwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam At Tirmidzi dari sahabat Al 'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu :
Artinya : " Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama) karena seluruh yang bid'ah itu adalah kesesatan ".
Berkata Ibnu Rajab: "Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam: "(Kullu bid'atin dholaalah = semua bid'ah adalah sesat)" merupakan kata (qa'idah) yang menyeluruh dan tidak ada pengecualian sedikitpun (dengan mengatakan, "Ada Bid'ah Hasanah", pent.) dan merupakan dasar yang agung dari dasar2 agama." (Jaami' Bayaanil 'Ilmi wa Fadhlih hal.549)
Berkata Ibnu Hajar: "Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam: "(Kullu bid'atin dholaalah = semua bid'ah adalah sesat)" merupakan qa'idah syar'iyyah yang menyeluruh baik lafazh maupun maknanya. Adapun lafazhnya, seolah-olah mengatakan: "Ini hukumnya bid'ah dan semua bid'ah adalah sesat."
Maka, bid'ah tidak termasuk bagian dari syari'at, karena semua syari'at adalah petunjuk (bukan kesesatan, pent.), apabila telah tetap bahwa hukum yang disebut itu adalah bid'ah, maka berlakulah "semua bid'ah adalah sesat" baik secara lafazh maupun maknanya, dan inilah yang dimaksud. (Fathul Baary 13/254)
Dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Barangsiapa yang membuat-buat dalam urusan (agama) kami ini apa-apa yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak (Shahih Bukhari, kitab Ash Shulh no.2697 dan Shahih Muslim kitab Al Aqdhiyah no.1718)
Dalam riwayat yang lain dari Imam Muslim, "Barangsiapa yang beramal suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak".
Dari hadits diatas, lafaz "fii amrinaa" mencakup seluruh perkara yang baru, baik perkara I'tiqodiyah, qouliyah maupun 'amaliyah, ibadah maupun mu'amalah, pokoknya segala perkara yang baru yang dinisbahkan kepada din, inilah yang dinamakan bid'ah. Hal ini disinyalir dari hadits yang diriwayatkan oleh banyak ahli hadits, seperti Imam Abu Dawud, Ibnu Abi Ashim dan lainnya serta dishahihkan Syaikh Al-Albani :
"…maka sesungguhnya seluruh yang ditambah-tambah (dalam agama) adalah bid'ah…"
Berkata Al-Hafizh Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullahu ta'ala ketika mengomentari hadits ini : " ini merupakan peringatan dari Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam untuk tidak mengikuti perkara-perkara yang diada-adakan (bid'ah) " . [ Jami'ul 'Ulum Wal Hikam ].
Beliau juga mengatakan : " Maka siapapun yang mengada-ada dalam agama, kemudian dia menyandarkan bahwa itu dari agama Islam dalam keadaan tidak ada dasar dari agama Islam yang menunjukkan hal tersebut, maka itu (perkara baru dalam agama) adalah kesesatan. Dan Islam berlepas diri darinya, baik berupa masalah-masalah aqidah atau amalan-amalan atau perkataan-perkataan yang zhahir dan yang batin " . [ Jamiul 'Ulum Wal Hikam ] .
Berkata Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma :
Artinya : " ikutilah oleh kalian (apa yang bawa oleh Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam), dan janganlah kalian membuat bid'ah karena kalian telah di cukupi " [ dikeluarkan oleh Ath-Thabrani. Lihat kitab Al-Bid'ah Wa Atsaruha As-sayyi Fil Ummah ] .
Berkata imam Asy-Syafi'i rahimahullah :
Artinya : " Barangsiapa yang ber-istihsan ( menganggap baik suatu amalan tanpa disertai dalil ) maka sungguh dia telah membuat syari'at baru " [ Al-Bid'ah ] .
Maka dari perkataan Imam Syafi'i ini dapat kita pahami bahwasannya orang yang berbuat bid'ah, maka dia telah terjatuh ke dalam dosa yang besar yaitu usaha untuk menandingi Allah dalam menetapkan syari'at-Nya. Karena sesungguhnya Allah telah membatasi amalan-amalan dan ibadah lewat perantaraan Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam Sehingga apa yang diajarkan Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam , atau yang diamalkan oleh beliau maka itulah Islam. Dan itulah batasan syari'at Islam, maka barang siapa yang mendatangkan amalan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam , kemudian menyatakan bahwa itu dari Islam maka dia telah berusaha menandingi Allah dalam membuat syari'at; dan dia telah menyandarkan sifat yang keji terhadap Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam, yaitu "pengkhianat ".
Karena agama Islam telah sempurna dan semua perkara telah di sampaikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam maka barang siapa yang mendatangkan amalan-amalan yang baru yang tidak pernah diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam kemudian menyandarkannya kepada Islam, sesungguhnya secara tidak langsung dia telah menuduh Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam telah mengkhianati risalah yang ia bawa dari Allah 'Azza wajalla.
Berkata Al-Imam Malik rahimahullah:
Artinya : " Barang siapa yang membuat kebid'ahan di dalam Islam kemudian dia mengaggap bahwa kebid'ahan itu baik, maka dia telah menuduh bahwa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam adalah pengkhianat risalah. Karena sesugguhnya Allah telah berfirman : " pada hari ini telah aku sempurnakan bagi kalian bagi kalian dan aku sempurnakan ni'mat-Ku atas kalian dan aku ridhai Islam itu sebagai agama kalian " [Al-Maidah : 3 ] maka apapun yang bukan agama pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam maka pada hari ini pula bukan dari agama (Islam) ".
Mengenal Makna Bid'ah
Definisi bid'ah yang paling baik adalah yang disampaikan Imam Asy Syathibi dalam kitab beliau yang agung Al 'Itishom, yaitu "jalan yang baru dalam din yang menyerupai syari'at yang dimaksudkan dengannya untuk beribadah kepada Alloh Ta'ala".
Maka dapat diterangkan kriteria suatu amal itu disebut bid'ah jika sebagai berikut :
1. Dilakukan secara terus menerus
2. Baru, tidak ada contoh atau tidak ada dalil syar'i yang shahih
3. Menyerupai syariat baik dari sisi sifatnya atau dari sisi tujuan dilakukannnya amal tersebut, yakni untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Jika terkumpul pada suatu amal 3 kriteria diatas, maka amal itu disebut bid'ah. Meskipun amal itu dipandang baik oleh banyak orang tidaklah mengubah statusnya berubah menjadi boleh, baik apalagi disunnahkan !! Sebagaimana perkataan sahabiyun jalil (sahabat Rasul yang agung) Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, "Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya". Juga dari beliau, "ittiba'lah (mengikuti Rasul dan sahabatnya) kalian, dan jangan berbuat bid'ah, karena sesungguhnya kalian telah dicukupi !".
Sifat-sifat syari'at:
a. Tertentu waktunya
contoh : shalat, maka kalau kemudian seseorang melakukan suatu shalat yang dia menentukan waktunya atau hanya mengikuti pendapat seseorang tanpa ada dalil dari syari'at Islam itulah dia bid'ah.
b. Tertentu tempatnya
contoh : thawaf, jika thawaf haji adalah di Ka'bah, maka kalau ada seseorang membuat thawaf versi baru dengan melakukan thawafnya di Masjid Nabawi di Madinah maka itulah bid'ah.
c. Tertentu jenisnya
contoh : zakat, untuk orang Indonesia zakat fitrahnya adalah beras karena itulah makanan pokoknya, maka kalau ada seseorang zakatnya berupa anggur merah meskipun mahal dan dikeluarkan sebanyak seribu kilo tetaplah tidak diterima, itulah dia bid'ah.
d. Tertentu jumlahnya
contoh : shalat shubuh, disyari'atkan sebanyak dua raka'at. Maka kalau ada seseorang shalat shubuh kurang atau lebih dari 2 rakaat dengan sengaja dan menganggapnya baik, maka itulah bid'ah.
e. Tertentu tata caranya
contoh : niat, jika seseorang hendak melaksanakan shalat atau puasa atau ibadah lainnya maka haruslah disertai dengan niat didalam hati. Jika ada yang melafazhkan niat seperti "ushalli fardha dzuhri" atau selainnya maka dia telah melakukan tata cara tambahan, karena hal ini tidak ada tuntunannya dalam syari'at. Kalau shalat dan menuntut ilmu adalah sama-sama ibadah, bahkan bersetubuhnya suami istri juga ibadah, seandainya benar ada lafazh niat shalat, maka apa lafazh niat menuntut ilmu dan bersetubuhnya suami istri?!
Bedakan Bid'ah dengan Masholihul Mursalah (perkara duniawi)
Kalau perkara duniawi (yang jelas tidak ada hubungannya dengan ibadah) jelas tidak diingkari kebolehannya selama hal itu membawa kebaikan walaupun itu baru semua, akan tetapi kalau membawa madharat dan menyelisihi syari'at barulah hal itu diingkari. Karena perkara yang menjadi urusan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah yang berkaitan syari'at dinul Islam. Beliau bersabda :
"engkau lebih mengetahui tentang perkara duniamu" (HR. Muslim)
Macam – Macam Bid'ah :
Setelah kita mengetahui bahwsanya seluruh bid'ah di dalam agama adalah kesesatan, maka kita perlu mengetahui macam-macam bid'ah yang sesat itu. Maka bid'ah didalam agama ada dua macam, yang keduanya adalah kesesatan. [Mauqif ahli sunnah waljama'ah ]
a) Bid'ah Haqiqiyah :
yaitu bid'ah yang sama sekali tidak ada dalil yang jelas dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah, maka contoh bid'ah yang jenis ini adalah sangat banyak, diantaranya adalah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, atau sebaliknya, sebagaimana bila ada seseorang yang mengharamkan atas dirinya makan ikan, atau makan daging, dengan maksud bertaqarrub kepada Allah Azza wajalla, atau mengaharamkan pakaian tertentu atas dirinya dari pakaian yang dihalalkan, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, seperti kelompok ingkarus sunnah, tarekatnya orang-orang sufi, pengakuan adanya nabi setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan yang lainnya.
b) Bid'ah Idhafiyyah
Yaitu suatu bid'ah yang memiliki dua pandangan, yang dilihat dari satu sisi seakan-akan ia memiliki dalil, namun kalau diperhatikan dari sisi rincian amalan yang dilakukannya, kaifiatnya, bentuknya, maka hal tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Dan contoh bid'ah yang jenis ini tidak kalah banyaknya dari jenis yang pertama.
Diantaranya: merayakan maulid Nabi Shallallahu alaihi wasallam.
Dari satu sisi mungkin yang mengamalkannya berdalil dengan nashnash yang bersifat umum yang menganjurkan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sehingga Nampak bahwa hal tersebut dianjurkan. Namun bila ditinjau dari amalan tersebut secara seksama, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengajarkan kepada kita perayaan tersebut sebagai wujud cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Para sahabat dan tabi'in, serta yang setelahnya, demikian pula para ulama yang masyhur seperti Imam Ahmad, Imam Syafi'I, Imam Malik dan yang lainnya dari para Imam Ahlis Sunnah Wal-jama'ah, tidak pernah menganjurkan dan membahasnya. Kalaulah hal tersebut disyari'atkan, maka sudah tentu mereka lebih utama mengamalkannya.
Adapun dalil yang dijadikan hujjah oleh mereka yang menganjurkan perayaan maulid, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Qatadah radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari Senin,
lalu beliau menjawab:
"pada hari itu aku dilahirkan, dan diturunkan kepadaku (Al-Qur'an)".
Hadits ini sama sekali bukan dalil tentang bolehnya merayakan maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam, ditinjau dari beberapa sisi :
Pertama: hadits ini menjelaskan tentang keutamaan hari senin, dan bukan tahun kelahiran beliau Shallalahu alaihi wasallam. Sehingga jika ingin mengikuti hadits ini, maka semestinya dengan menghidupkan keutamaan hari Senin tersebut dengan cara berpuasa, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Bukannya dengan merayakan tahunnya. Hal ini mirip halnya seperti orang yang mengatakan : "Saya hanya ingin mengerjakan shalat wajib sekali sepekan", sementara Allah dan Rasul-Nya memerintahkan dia untuk melaksanakannya 5 kali sehari semalam.
Kedua: terjadinya perselisihan dikalangan para ulama tentang penentuan tanggal hari kelahiran beliau Shallallahu alaihi wasallam,ada yang mengatakan 12 Rabi' Al-Awwal, ada yang mengatakan tanggal 8 Rabi' Al-Awwal, adapula yang mengatakan tanggal 18 Rabi' Al-Awwal, ada yang mengatakan tanggal 2, ada lagi yang mengatakan tanggal 10, dan mungkin ada lagi yang lainnya. Berbeda halnya dengan hari kelahiran beliau, yang telah dipastikan bahwa beliau lahir pada hari Senin, sebagaiman yang telah tersebut dalam hadits.
Ketiga: bahwa pada hari Senin terdapat sebab lain yang menyebabkan beliau menyukai berpuasa pada hari Senin, disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Amalan-amalan dihadapkan pada setiap hari Senin dan Kamis, maka aku suka amalanku dihadapkan dalam keadaan aku berpuasa". (HR.An-Nasaai dengan sanad yang shahih).
Sedangkan keutamaan ini tidak terdapat pada tahun kelahiran beliau Shallallahu 'alaihi wasallam.
Keempat: sangat berbeda antara puasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pada hari Senin, dengan perayaan maulid yang dirayakan oleh sebagian kaum muslimin tersebut. Sebab berpuasa adalah ibadah khusus yang tidak boleh dilakukan dalam hari raya, sebagaimana yang disebutkan oleh Umar bin Khatthab Radhiallahu 'anhu tentang dua hari raya: Idul Fithri dan Idul Adha: "ini adalah dua hari yang mana Rasulullah shallallahu laihi wasallam melarang berpuasa pada kedua hari itu: hari berbukanya kalian dari puasa kalian, dan yang kedua adalah hari kalian makan dari sembelihan kalian" (HR.Bukhari)
Sementara apa yang kita saksikan dari perayaan maulid, yang keadaannya seperti hari raya, yang disuguhkan berbagai macam makanan, telur-telur yang diwarnai, dan di sebagian tempat dengan cara menghamburkan harta dalam perkara yang tidak bermanfaat.
Agama Islam telah Sempurna
Allah Ta'ala berfirman : "…pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan bagi kalian nikmatKu, dan Aku ridha Islam sebagai agama bagi kalian (QS. Al Maidah : 3)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat diatas dalam kitab tafsirnya, "Hal ini merupakan kenikmatan terbesar dari Allah untuk ummat ini, hingga mereka tidak membutuhkan agama yang lainnya, tidak pula butuh kepada Nabi selain Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Oleh sebab itu Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan Dia mengutus beliau kepada jin dan manusia. Tiada sesuatu pun yang halal melainkan apa yang telah beliau halalkan, dan tidak ada yang haram melainkan apa yang telah beliau haramkan. Tidak agama kecuali apa yang telah beliau syari'atkan. Segala sesuatu yang beliau kabarkan adalah benar adanya dan jujur, tiada kedustaan maupun perselisihan didalamnya." (Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim)
Semoga Allah memberikan kepada kaum muslimin pemahaman yang benar dalam menjalankan agama ini. Amin ya mujibas saailin.
Muroja'ah: Abu Husain Rasyid Al Maidani dan bulletin al-Jihad ma'had Ibnul Qoyyim Balikpapan
Daftar Putaka :
1. Jamiul 'Ulum Wal Hikam
2. Al-Bid'ah Wa Atsaruha As-Sayyi Fil Ummah
3. Hilyatul Auliya
4. Mauqif Ahlissunnah Wal Jamaah