Dan ketika telah datang kebenaran kepadamu, segeralah tinggalkan kebathilan, dan segera ikuti kebenaran itu

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS. An Nur: 59) ~ Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An Nur: 61) ~ Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. (QS. An Nur: 64) ~ Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) kepada Allah dan beramal shalih serta mengatakan; ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim’. (QS. Fushshilat: 33)


Berpegang Teguh Dengan As-Sunnah Adalah Jalan Keselamatan

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak juga celaka.” (QS. Thaha: 123)

Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara bersama-sama dan janganlah kalian berpecah belah…” (QS. Ali Imran: 103)

Yang dimaksud dengan tali Allah adalah al-Qur’an, sebagaimana tercantum dalam hadits. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua buah pegangan : salah satunya adalah Kitabullah; dan itulah tali Allah. Barang siapa yang mengikutinya maka dia akan berada di atas hidayah. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.” (HR. Muslim)

Wahai Robb kami - hidupkanlah kami diatas Islam dan Sunnah dan Matikanlah kami diatas Islam dan Sunnah

Arsip Terurut

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30
 

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


RssFeed

Message Board



Silahkan tinggalkan message

Jadwal Sholat

Shalat fardhu atau Shalat lima waktu wajib dilaksanakan tepat pada waktunya
Allah Subhanahu Ta'ala berfirman: “Sesungguhnya Shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisaa’: 103).

Tracking Place

Kata Mutiara




Semakin Anda memahami lebih banyak tentang dunia di sekitar Anda, semakin bergairah dan penasaran terhadap kenyataan hidup dalam hidup Anda.Gairah adalah salah satu elemen pokok yang meringankan upaya dan mengubah kegiatan-kegiatan yang biasa-biasa saja menjadi suatu pekerjaan yang dapat dinikmati.

Semakin besar “Mengapa” Anda akan semakin besar energi yang mendorong Anda untuk meraih sukses.

Mimpi tidak hanya membantu Anda berhadapan dengan kegagalan, tetapi mereka juga memotivasi Anda secara konstan.

Mimpi masa kini adalah kenyataan hari esok.

Anda bisa, jika Anda berpikir bisa, selama akal mengatakan bisa. Batasan apakah sesuatu masuk akal atau tidak, kita lihat saja orang lain, jika orang lain telah melakukannya atau telah mencapai impiannya, maka impian tersebut adalah masuk akal.

Menuliskan tujuan akan sangat membantu dalam menjaga alasan melakukan sesuatu.

Apakah kita bisa untuk mengemban misi kita? Insya Allah kita bisa, karena Allah Mahatahu, Allah tahu sampai dimana potensi dan kemampuan kita. Jika kita tidak merasa mampu berarti kita belum benar-benar mengoptimalkan potensi kita.

Jika target obsesi itu baik, maka memiliki obsesi bukan hanya baik, tetapi harus. Karena motivasi dari sebuah obsesi sangat kuat.

Untuk menjadi sukses, Anda harus memutuskan dengan tepat apa yang Anda inginkan, tuliskan dan kemudian buatlah sebuah rencana untuk mencapainya.

Bisakah kita meraih sukses yang lebih besar lagi?

Merumuskan Visi dan Misi adalah salah satu bentuk dalam mengambil keputusan, bahkan pengambilan keputusan yang cukup fundamental. Visi dan Misi Anda akan menjiwai segala
gerak dan tindakan di masa datang.

Jangan takut dengan gagalnya meraih visi, kegagalan meraih visi sebenarnya bukan suatu kegagalan, tetapi merupakan keberhasilan yang Anda tempuh meski tidak sepenuhnya.

Visi itulah yang akan menuntun perjalanan hidup Anda.

Menciptakan kebiasaan baru adalah salah satu dari kunci sukses. Jika anda ingin sukses Anda harus mulai menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang akan membawa Anda kepada kesuksesan.

Jika Anda ingin menang— dalam bisnis, karir, pendidikan, olah raga, dsb— maka Anda harus memiliki kebiasaan-kebiasaan seorang pemenang pula.

Jika Anda ingin suatu kehidupan yang berbeda, buatlah keputusan yang berbeda juga.

Tengoklah kembali perjalanan Anda saat ini, akan menuju kemana? Apakah ke arah yang lebih baik, atau ke arah yang lebih buruk, atau tetap saja seperti saat ini? Tetapkanlah sebuah putusan dan jalanilah menuju konsekuensinya.

Potensial pilihan Anda begitu melimpah, keputusan Anda dapat saja merubah hidup Anda secara dramatis dalam waktu singkat.

Hanya satu motivasi yang ada, yaitu Allah. Adapun motivasi lainnya harus dalam rangka “karena dan/atau untuk” Allah.

Cinta terbesar dan cinta hakiki bagi orang yang beriman ialah cinta kepada Allah. Sehingga cinta kepada Allah-lah yang seharusnya menjadi motivator terbesar dan tidak terbatas.

Sukses yang sudah Anda alami di masa lalu akan membantu untuk memotivasi Anda di masa yang akan datang.

Jika Allah yang menjadi tujuan, kenapa harus dikalahkan oleh rintangan-rintangan yang kecil di hadapan Allah? Jika mencari nafkah merupakan ibadah, semakin kerja keras kita, insya Allah semakin besar pahala yang akan diberikan oleh Allah. Jika nafkah yang didapat merupakan bekal untuk beribadah, maka semakin banyak nafkah yang didapat, semakin banyak ibadah yang bisa dilakukan.

Uang + Ahklaqul Karimah akan menjadi modal yang sangat berharga baik untuk Anda sendiri, maupun untuk kemajuan Umat Islam. Kejarlah keduanya.

Jika niat sudah terpancang karena Allah, tidak akan ada halangan yang bisa menghentikan seseorang melakukan sesuatu. Niat karena Allah ialah motivator yang utama dan seharusnya menjadi satu-satunya motivator kita.

Jangan sampai kita terlena untuk memenuhi kekayaan duniawi yang sifatnya hanya sementara saja, hingga kita lupa akan tugas kita yang sesungguhnya di dunia ini yaitu mengumpulkan perbekalan untuk menuju kampung akhirat yang kekal. Jadi perkayalah diri Anda baik dengan materi maupun dengan ruhani, dan bagikan kekayaan tersebut kepada orang-orang yang ada disekitar Anda, terutama yang lebih membutuhkan.

Ada peluang dan ancaman dibalik harta yang kita miliki.

Tindakan kita akan mengacu kepada apa yang ada dalam pikiran kita.

Jangan terpaku dengan asumsi dan persepsi sendiri, karena bisa salah. Cobalah mulai membuka pikiran Anda terhadap pikiran orang lain, tentu saja dengan filter nilai-nilai yang Anda anut.

Seperti perkelahian orang yang kecil dengan orang yang besar, jika mengadu tenaga atau kekuatan tentu saja si kecil akan kalah, tetapi dengan kecerdikan, si besar bisa dikalahkan.

Sudahkah Anda melihat dan meneliti apa yang sudah Anda lakukan dan membuat rencana ke depan agar lebih baik?

Proyek besar tidak bisa diselesaikan sekaligus, tetapi harus dibagi-bagi kebagian yang kecil dan dapat dikendalikan.

Anda hanya memerlukan rencana yang sederhana dan tetap sederhana, yang penting Anda konsisten menjalankannya.

Dua hal yang perlu Anda ketahui sebelum memulai bisnis, pertama ketahuilah bahwa bisnis itu tidak mudah, kedua bekali diri Anda dengan sikap dan keterampilan yang memadai. Tetapi yakinlah bahwa Anda bisa.

Rencana adalah jembatan menuju mimpimu, jika tidak membuat rencana berarti tidak memiliki pijakan langkahmu menuju apa yang kamu cita-citakan.

Putuskan apa yang Anda inginkan, kemudian tulislah sebuah rencana, maka Anda akan menemukan kehidupan yang lebih mudah dibanding dengan sebelumnya.

Rencana memberikan arah langkah Anda.

Kunci pengelolaan waktu yang efektif: mengeset prioritas dan konsentrasi pada satu pekerjaan pada satu waktu.

Untuk mencapai puncak, Anda harus melalui anak tangga dan terus menerus naik, maka Anda akan mencapai puncak yang Anda inginkan.

Jika sukses merupakan akibat, tentu saja ada sebabnya. Jadi langkah pertama jika Anda ingin sukses ialah dengan mengetahui terlebih dahulu sebab-sebab yang membuat orang lain sukses.

Apa yang membedakan Anda dengan orang lain yang sukses? Jawabannya karena Anda tidak mengerjakan apa yang orang sukses kerjakan.

Segala sesuatu yang kita kejar selalu menuntut bayaran. Hal yang paling umum yang diperlukan saat mengejar cita-cita ialah mengganggu zona nyaman.

Suatu saat mungkin Anda merasa dunia ini bau terasi, kemana pun Anda pergi bau terasi selalu tercium. Sebelum Anda memutuskan bahwa dunia ini penuh dengan terasi, periksalah diri Anda mungkin ada terasi pada kumis atau pakaian Anda.

Untuk mengubah sikap, ternyata tergantung pada diri Anda sendiri.

Menghilangkan sifat dengki pada diri kita akan membantu kita menuju kesuksesan baik dunia maupun akhirat.

Dengan disiplin bukan saja kita tidak mendapatkan sangsi, tetapi dengan disiplin kita akan meraih sukses, terhindar (insya Allah) dari kecelakaan, dan disiplin juga adalah ibadah.

Bermimpilah, buatlah tujuan dari mimpi Anda, buatlah rencana, lakukan rencana, dan capailah mimpi Anda.

Mungkin saja di tempat lain rezeki Anda sudah menunggu.

Jika Anda mempunyai misi mulia, jangan takut untuk gagal, bukan hasil yang akan dinilai, tetapi usaha Anda untuk mencapainya.

Jika kegagalan menghampiri Anda bukan berarti Anda harus menyerah, tetapi cari jalan lain, kemudian kerjakan lagi. Sekali lagi, jangan cepat menyerah.

Menyerah adalah salah satu cara untuk gagal.

Jangan lupakan kegagalan, tetapi ambilah hikmahnya.

Lupakan kekecewaan, karena harapan dimasa depan masih terbentang luas dan begitu cerah.

Jika sudah tidak ada harapan, cobalah jalan yang lain. Masih banyak jalan lain yang bisa membawa Anda menuju kesuksesan.

Anda telah mendapatkan sesuatu yang berharga pada kegagalan sebelumnya, sehingga kini Anda telah lebih bijaksana, lebih berpengalaman, dan lebih terampil.

Diantara ribuan peluang dan kesempatan, di sana ada kesuksesan, namun dikelilingi dengan kegagalan. Ambil kesempatan dan peluang tersebut, biarkan Anda gagal dalam proses menemukan kesuksesan tersebut.

Setiap kegagalan yang Anda buat adalah anak tangga Anda menuju puncak, yaitu sukses. Setiap kegagalan yang Anda temukan, memberikan arah yang jelas menuju sukses.

Kegagalan:

  • dapat memberikan kekuatan
  • ladang mendapatkan pahala
  • dapat menggali potensi Anda
  • mengembangkan kreatifitas Anda.

Apabila apa yang sudah Anda rencanakan dan Anda mimpikan tidak terwujud dengan sukses, maka langkah yang paling baik Anda ambil adalah bertawakal pada Allah SWT

Jadi, berharaplah banyak, tetapi jangan kecewa jika gagal.

Kecewa atau tidak, semua tergantung Anda, tergantung bagaimana Anda menyikapi kegagalan. Berharap sedikit hanya akan menghambat Anda mengoptimalkan potensi Anda.

Lebih banyak Anda mencoba, akan mendekatkan Anda kepada sukses, meskipun Anda akan mengalami banyak kegagalan.

Namun cuma itulah yang kita diperlukan, karena kita sering tidak tahu mana yang akan berhasil.

Kebahagian yang didapatkan oleh orang yang menghindari kekecewaan adalah kebahagian yang semu, dia bukan bahagia tetapi hanya tidak kecewa saja.

Banyak perusahaan yang dimulai dengan modal besar bangkrut, sebaliknya bisnis dengan modal kecil banyak yang berhasil. Jadi bukan uang yang menentukan keberhasilan Anda!

Ubahlah sudut pandang Anda terhadap kegagalan, maka Anda tidak akan kecewa terhadap kegagalan yang Anda alami, setidaknya kekecewaan Anda akan sedikit atau sementara saja.

Allah SWT mungkin memberikan ujian berupa kegagalan dan kehilangan kepada kita untuk mengajarkan hikmah kepada kita.

Mungkin, kegagalan, masalah, dan lingkungan yang tidak menyenangkan adalah sebagian dari skenario Allah SWT dalam membina diri kita.

Jangan hiraukan opini negatif Anda, bentuklah kebiasaan beraksi agresif dan positif terhadap ancaman, masalah, dan kegagalan. Fokuskan diri Anda pada sasaran akhirnya, terlepas apapun yang terjadi saat ini.

Jika sikap kita benar, pengalaman mengecewakan akan memberikan hikmah yang membuat kita bahagia.

Mari kita sama-sama belajar kepada pengalaman. Bukan saja pengalaman diri kita saja, tetapi kita juga bisa belajar pada pengalaman orang lain. Pengalaman adalah guru yang bijak.

Ketekunan dan kesabaran jika digabungkan menjadi modal yang sangat besar untuk meraih sukses.

Keberhasilan Anda adalah ditentukan oleh Anda sendiri dan takdir Allah SWT. Bukan oleh orang lain.

Ketimbang tersinggung dengan ejekan dan kritikan, akan lebih baik jika kita malah mengambil manfaatnya. Kadang ejekan dari musuh lebih jujur dari pada pujian seorang teman.

Para pemenang mangambil tanggung jawab terhadap hidupnya. Mereka tidak pernah menyalahkan orang lain atau pun lingkungan. Mereka tidak suka mencari-cari alasan terhadap kegagalan mereka.

Dengan hidup di atas garis, kita tidak akan mandeg dengan alasan kondisi atau apa pun yang terjadi pada diri kita. Hidup kita akan lebih hidup. Kita akan bergairah dan memiliki determinasi yang tinggi dalam mencapai cita-cita kita.

Orang yang biasa berdalih tidak akan mengambil pelajaran dari kesalahan dan kegagalan, kerena dia sudah siap untuk berdalih lagi.

Tidak akan ada keberhasilan tanpa tindakan. Tidak akan tindakan tanpa keberanian. Jadi tidak akan keberhasilan tanpa keberanian. Sukses sejalan dengan keberanian.

Jika wawasan Anda akan semakin luas, Anda akan menemukan jalan-jalan baru untuk meraih sukses. Insya Allah dalam waktu yang tidak lama ketakutan pada diri Anda akan hilang.

Jangan takut menambah saingan dengan membina orang lain, rezeki Allah begitu melimpah di bumi ini. Dan Allah telah menetapkan rezeki bagi setiap makhluk-Nya bahkan hewan melata sekalipun.

Ketakutan-ketakutan akan membatasi Anda untuk melakukan berbagai hal yang sangat berarti bagi Anda.

Mulailah sekarang juga untuk melangkah, menuju tujuan Anda meskipun selangkah demi selangkah tetapi akan membawa Anda ke tujuan, asal arah yang Anda tempuh benar.

Mimpi memang sangat perlu untuk memelihara gairah hidup dan kemajuan, tetapi mimpi tanpa disertai tindakan hanyalah seperti pepesan kosong belaka.

Aplikasi atau tindakanlah yang membuat orang sukses, tentu saja setelah mimpi yang tinggi dan ilmu yang mencukupi.

Bagaimanapun mimpi yang bernilai tinggi otomatis memerlukan pengorbanan yang tinggi pula dan kerja yang terfokus.

Diam tidak pasti, bertindak tidak pasti, kalau begitu mendingan kita bertindak.

Semakin berkerja keras kita, semakin beruntung kita. Apalagi jika niat kita lurus, tidak ada kerja keras kita yang sia-sia. Allah Mahatahu, sehingga pasti akan tahu apa yang terbaik bagi kita, termasuk mungkin kita harus lebih banyak berusaha.

Sedetik waktu terlewat, tidak akan pernah bisa kembali. Maka jangan sia-siakan waktu yang kita miliki.

Sesungguhnya waktu adalah hidup, dan hidup sendiri adalah menjalani waktu. Sejauh mana Anda menghargai waktu, berarti sejauh itulah Anda menghargai hidup Anda.

Bekerjalah sebaik mungkin, pikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi, sehingga jika kemungkinan tersebut datang kita sudah siap. Bisa saja esok akan lebih sulit.

Ketidakpastian selalu menyertai kita, jangan lari, percuma. Yang perlu dilakukan ialah gunakanlah kreatifitas Anda untuk mencari solusi-solusi baru dan tetaplah semangat untuk
mengaplikasikan solusi-solusi tersebut.

Mungkin saja setiap masalah dan tantangan yang kita anggap sulit itu masih ada solusinya, namun belum terpikirkan oleh kita.

Hindarilah membatasi diri Anda, pikiran-pikiran Anda, atau mimpi-mimpi Anda, sebab, apa yang kita lakukan atau apa yang kita buat esok hari tidak pernah terpikirkan hari ini.

Manusia sudah diberi kemampuan untuk berkreasi.

Tidak ada waktu yang lebih baik selain sekarang untuk memulai hidup yang baik. Anda tidak perlu untuk menciptakan ulang kehidupan anda di waktu yang sudah lewat. Mulailah meskipun hanya dengan satu langkah, yang penting anda memulai, jangan ditunda untuk besok.

Jika Anda ingin beruntung, persiapkan diri Anda dengan membina sikap Anda dan membekali diri dengan berbagai keterampilan yang memadai.

Anak bebek akan bertingkah seperti ayam saat menganggap dirinya ayam. Sebaliknya anak bebek bertingkah laku sebagai mana bebek lainnya saat dia sadar kalau dia itu bebek. Fenomena ini juga berlaku pada manusia, dia akan bertingkah sesuai dengan anggapan pada dirinya sendiri.

Sekali kita underestimate terhadap diri sendiri, kita akan rugi, karena potensi kita akan terkungkung oleh batas yang terlalu sempit dibandingkan dengan batas yang sebenarnya.
Cacat atau kekurangan lainnya mem ang akan membatasi kebebasan kita di suatu sisi. Namun kebebasan itu banyak dan bermacam-macam, jika salah satu kebebasan kita terpenjara,
kita masih bisa mencari kebebasan yang lainnya.

Jangan menganggap diri kita tidak mampu sebelum mencoba, belajar, dan berlatih.

Kita memiliki keunikan masing-masing yang dapat menjadi keunggulan kita masing-masing.

Jika Anda belum merasa memiliki keunggulan saat ini, mungkin Anda belum memiliki semangat yang tinggi dan motivasi yang kuat dalam rangka menggali potensi Anda. Untuk meraih keunggulan lebih tinggi kita memerlukan bantuan orang lain.

Dalam mengahadapi perubahan dan untuk menjadi manusia unggul ada satu jalan yang tidak boleh tidak harus kita lakukan, yaitu selalu memperbaiki diri terus-menerus.

Allah SWT memerintahkan kita untuk mau berpikir tentang penciptaan-Nya yang begitu menakjubkan, rumit, dan kompleks. Namun semua itu telah Allah SWT tundukan untuk kita. Ini sebagai tanda bahwa manusia memiliki kemampuan (dari Allah) untuk menundukan apa yang ada di langit dan di bumi.

Mengevaluasi apa yang kita lakukan dan semua pencapaian kita. Apapun hasilnya akan menjadi fondasi kuat untuk kehidupan kita dimasa mendatang yang lebih baik.

Lalui kesulitan dan betakwalah, maka kemudahan pun akan datang.




A Muslims Pledge

 

My Friend

Kepada rekan, sahabat atau kawan yang punya website atau weblog dapat tukar link disini, silahkan klik "Contact Me" untuk memasukkan alamat url kalian agar dapat kami tampilkan di halaman weblog ini.
Fisabilillah Weblog

Invitation is mine and Inviting is my mission


Takutlah kepada Allah di mana saja engkau berada, ikutilah segala kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya. Dan pergaulilah sekalian manusia dengan budi pekerti yang baik.

Sesungguhnya kamu sekalian tidak akan sanggup mempengaruhi manusia dengan hartamu, maka dari itu pengaruhilah mereka dengan wajah yang manis dan budi pekerti yang baik

Mengapa kita berda'wah?







Barangsiapa menganggap ringan kewajiban (dakwah) ini, padahal ia merupakan kewajiban yang dapat mematahkan tulang punggung dan membuat orang gemetar, maka ia tidak bisa melaksanakan secara kontinyu kecuali atas pertolongan Allah. Ia tidak akan bisa memikul dakwah kecuali atas bantuan Allah SWT dan tidak akan bisa teguh di atasnya kecuali dengan keikhlasan pada-Nya. Orang yang berada di jalan ini siangnya berpuasa, malamnya qiyam (shalat) dan ucapannya penuh dengan dzikir. Sungguh hidup dan matinya hanya untuk Allah Rabbal Alamin, yang tiada sekutu bagi-Nya.
(Tafsir Fii Zhilaalil Qur’an, Sayyid Quthb)

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung". (Ali Imran: 104)





Selengkapnya klik disini

Menjawab Semua Fitnah Terhadap Islam

Ya Allah dzat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, Ya Allah tampakanlah pada kami kebenaran sebagai kebenaran, dan anugerahkanlah pada kami untuk mengikutinya, serta tampakkan pada kami kebatilan itu sebagai kebatilan dan anugerahkan pada kami untuk menjauhinya. Ya Allah teguhkanlah kami sebagaimana kau teguhkan Musa as, ya Allah tolonglah kami sebagaimana Rasulullah dan para Sahabatnya kau tolong, Ya Allah berilah hidayah pada kami, keluarga kami, anak keturunan kami dan kepada seluruh Ummat Nabi Muhammad saw. Jadikanlah dakwah sebagai maksud hidup kami, dan matikanlah kami dalam dakwah, Ya Allah, lapangkanlah dada kami untuk menerima Islam...

Muhasabah dan Tausiyah

Allah Mengajarkan Cinta


Pernahkah hatimu merasakan kekuatan mencintai
Kamu tersenyum meski hatimu terluka karena yakin ia milikmu,
Kamu menangis kala bahagia bersama karena yakin ia cintamu
Cinta melukis bahagia, sedih, sakit hati, cemburu, berduka
Dan hatimu tetap diwarnai mencintai, itulah dalamnya cinta

read more...

Sibukkanlah dirimu dengan mengingat Allah

Kehidupan ini berlalu sangat cepat... Malaikat maut yang diserahi tugas akan segera mencabut nyawa kita, mari bersegeralah bertindak selama jantung kita masih berdetak...kita sekali-kali tidak dapat mengundurkannya barang sejenak...

Jiwa....

Allah menggabungkan dua jiwa, yakni jiwa jahat dan jiwa yang tenang sekaligus dalam diri manusia, dan mereka saling bermusuhan dalam diri seorang manusia. Disaat salah satu melemah, maka yang lain menguat. Perang antar keduanya berlangsung terus hingga si empunya jiwa meninggal dunia. Adalah sungguh merugi orang-orang yang jiwa jahatnya menguasai tubuhnya. Seperti sabda Rasulullah, "..barang siapa yang diberi petunjuk Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkannya maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk". Sifat lalai, tidak mau belajar agama, sombong dan tidak peduli merupakan beberapa cara untuk membiarkan jiwa jahat dalam tubuh kita berkuasa. Sedangkan sifat rendah hati, mau belajar, mau melakukan instropeksi (muhasabah) merupakan cara untuk memperkuat jiwa kebaikan (jiwa tenang) yang ada dalam tubuh kita.
~Ibnul Qayyim Al Jauziyyah~

Allah adalah segalanya



Laa Ilaha Ilallah, tiada Ilah kecuali hanya Allah semata. Tidak ada yang membuat tenang, kecuali hanya Allah saja. Tidak ada tempat berlindung, kecuali hanya Allah saja. Tidak ada yang selalu dirindukan, kecuali hanya Allah saja. Tidak ada yang dicintai, kecuali hanya Allah saja.

Al-Miizan: Timbangan dari segala perbuatan

"Kami akan memasang timbangan-timbangan yang tepat pada hari kiamat". [Al-Anbiya : 47]
"Adapun orang yang berat timbangan-timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.".
[Al-Qari'ah : 6-9]

Isi ulang imanmu, jangan di tunda lagi!

Bila engkau jarang berdzikir mengingat Allah dan maka akan tumbuh titik hitam dihatimu yang menyebabkan engkau cenderung berbuat maksiat dan merasa jauh dari nilai-nilai agama.

Jadilah cahaya yang selalu menyinari







Jika engkau bertanya bagaimana menyalakan cahaya di dalam diri engkau? Jawabnya mudah, dekatkanlah diri engkau dengan sumber cahaya yang membuat diri engkau bercahaya. Semakin dekat engkau dengan sumber cahaya semakin bersinar terang diri engkau. Semakin engkau jauh dari sumber cahaya, semakin gelap hidup engkau.

Hidup seseorang sangat ditentukan oleh cara berpikirnya dan cara bertindaknya. Jika cara berpikir dan cara bertindaknya diterangi oleh cahaya Ilahi Robbi maka dampak yang ditimbulkan adalah kebahagiaan bagi sekelilingnya. Namun sebaliknya, jika cara berpikir dan cara bertindaknya diselimuti kegelapan dampak yang ditimbulkan adalah penderitaan bagi sekelilingnya.

Bagi orang yang hidupnya bercahaya, sudah tidak lagi memikirkan dirinya sendiri sebab dirinya sudah menjadi lentera yang terus menerus menyala, mengajarkan, menyembuhkan dan menyinari jalan bagi orang-orang yang hidup dalam kegelapan. Tiada lagi kata yang sanggup untuk menggambarkan kebaikan, ketulusan, keikhlasan, kedermawanan, kearifan & kasih sayangnya untuk sesama.

Maukah engkau menjadi cahaya dalam kehidupan ini ?












Dalam hening lamunanku dalam setiap denyut nadiku hatiku berontak, seraya berteriak hilangkah indahnya jiwa itu… jiwa yang slalu agungkan namaMu disetiap nafasku jiwa yang slalu suci ikhlas menyembahMu…

Kini kembali tersadar merenung tuk dapatkan kembali cahayaMu seakan kalimat-kalimat tauhid itu tidaklah cukup tidaklah puas jiwa yang hina ini tuk slalu memujaMu Yaa Rabbi… tidaklah cukup waktu dan ilmu yang ku punya tuk dengungkan, tuk lafadzkan kalimat-kalimat muliaMu Yaa Wahiid, Yaa Jabbar!

Namun taklah pula sering kuingat Engkau dikala ku senang, dikala ku sedih mengingkatkan betapa hinanya diri ini diri yang tiada pandai bersyukur atas segala nikmatMu walaupun takkan luput Engkau menyayangiku memberkahi aku tanpa batas jarak dan waktu Engkaulah Tuhanku Yaa Allah… dengan segenap jiwa ragaku dengan setulus niat suci dan asaku Segala puji bagiMu, segala hatur hormat dan pujaku atasMu… Laa ilaaha Illallah, Muhammadar Rasulullah Yaa Samii’ul ‘aliim…





Islam adalah??

Allah Allah Azza wa Jalla berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" [QS. Ar-ruum: 30]

Touching your heart ^_^

Seperti lilin yang menerangi dengan cahayanya didalam kamar hati seseorang.
Ya Robb... Jadikanlah Al-Quran cahaya dalam hatiku....


Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.
[QS. Al-A'raaf: 204]


Banggalah karena kita adalah seorang MUSLIM...


Allah mengilhamkan ilmu kepada siapa saja yg Ia kehendaki


Jika engkau ingin mengetahui kedekatan dirimu kepada Allah, lihatlah hatimu, rasakanlah apa yang Allah telah berikan kepada hatimu

Asmaul Husna

Dia-lah ALLAH yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang Membentuk Rupa, yang Mempunyai Nama-Nama yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. Al-Hasyr: 24)

Hanya milik ALLAH asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. Al-A'râf: 180)


Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
[QS.Al-Maaidah: 54]

True Love

"Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala cemburu dan cemburunya Allah bila seseorang mendatangi apa yang Allah haramkan atasnya."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Why ?

Karena Islam adalah agama rahmat. Yang menjadi tuntunan bagi manusia untuk mengisi hidupnya, bukan hanya untuk kebahagiaan kehidupan dunia, namun juga untuk meniti jalan menuju mardhatillah, kebahagiaan sejati di akhirat nanti. Ia bukan saja agama yang mengatur kemaslahatan manusia dalam hubungannya dengan Allah SWT Sang Pencipta, namun juga dalam berhubungan dengan manusia lain serta alam semesta

 

No israel product

Sadarkah kalian jika membeli produk yahudi sama saja dengan berinfaq kepada musuh kita untuk membeli peluru yang merobek jantung saudara kita sendiri.

Dan janganlah kalian menjadi pengikut para musuh Allah sebab lama tidaknya kalian pasti akan dihadapkan dipengadilan Allah untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kalian itu, dengarlah dan dengar.. sebelum kalian meyesal dengan penyesalan yang abadi.



Info produk yahudi klik disini

My Partner

Best resolution 1024 x 768 in mozilla firefox

Ahlan wasahlan on my personal weblog


FASE BULAN SAAT INI


Jazakumullah kepada yang telah berkunjung ke halaman ini, semoga bermanfaat bagi yang membacanya

yang sudah berkunjung:
Syukran Jazilan kathiroh ^_^

Recent Blog Post





“Katakanlah: Sesungguhnya inilah jalanku, aku berdakwah (menyeru manusia) kepada agama Allah di atas ilmu. Yang menjalankan demikian adalah aku dan orang-orang yang mengikuti jejakku. Dan Maha Suci Allah dan aku tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik (yakni tidak termasuk orang yang menyekutukan Allah dengan yang lainnya).” (Yusuf: 108)

“Barangsiapa yang masih tetap hidup dari kalian sepeninggal aku, maka sungguh dia akan melihat perselisihan yang keras. Oleh sebab itu wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ur rasyidin, gigitlah sunnah para khalifah itu dengan gigi gerahammu.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam kitab As-Sunnah hadits ke 55).





Sifat dan Karakteristik Khawarij

Thursday, November 20, 2008

Oleh: al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewwed
 
Ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam membagi-bagikan harta rampasan perang di desa Ju'ronah -pasca perang Hunain- beliau memberikan seratus ekor unta kepada Aqra' bin Habis dan Uyainah bin Harits. Beliau juga memberikan kepada beberapa orang dari tokoh quraisy dan pemuka-pemuka arab lebih banyak dari yang diberikan kepada yang lainnya. Melihat hal ini, seseorang (yang disebut Dzul Khuwaisirah) dengan mata melotot dan urat lehernya menggelembung berkata: "Demi Allah ini adalah pembagian yang tidak adil dan tidak mengharapkan wajah Allah". Atau dalam riwayat lain dia mengatakan kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam: "Berbuat adillah, karena sesungguhnya engkau belum berbuat adil!".
Sungguh, kalimat tersebut bagaikan petir di siang bolong. Pada masa generasi terbaik dan di hadapan manusia terbaik pula, ada seorang yang berani berbuat lancang dan menuduh bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam tidak berbuat adil. Mendengar ucapan ini Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dengan wajah yang memerah bersabda:
 
Siapakah yang akan berbuat adil jika Allah dan rasul-Nya tidak berbuat adil? Semoga Allah merahmati Musa. Dia disakiti lebih dari pada ini, namun dia bersabar. (HR. Bukhari Muslim)
 
Saat itu Umar bin Khathab radhiallahu 'anhu meminta izin untuk membunuhnya, namun Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam melarangnya. Beliau menghabarkan akan munculnya dari turunan orang ini kaum reaksioner (khawarij) sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikutnya:
 
Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya, salah seorang di antara kalian akan merasa kalah shalatnya dibandingkan dengan shalat mereka; puasanya dengan puasa mereka; mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari buruannya. (HR. al-Ajurri, Lihat asy-Syari'ah, hal. 33)
 
Demikianlah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mensinyalir akan munculnya generasi semisal Dzul Khuwaisirah -sang munafiq-. Yaitu suatu kaum yang tidak pernah puas dengan penguasa manapun, menentang penguasanya walaupun sebaik Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
 
Dikatakan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bahwa mereka akan keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya. Yaitu masuk dari satu sisi dan keluar dari sisi yang lain dengan tidak terlihat bekas-bekas darah maupun kotorannya, padahal ia telah melewati darah dan kotoran hewan buruan tersebut.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang bagus bacaan al-Qur'annya, namun ia tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca.
 
Sesungguhnya sepeninggalku akan ada dari kaumku, orang yang membaca al-Qur'an tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka akan keluar dari Islam ini sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. Kemudian mereka tidak akan kembali padanya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk. (HR. Muslim)
 
Dari riwayat ini, kita mendapatkan ciri-ciri dari kaum khawarij, yakni mereka dapat membaca al-Qur'an dengan baik dan indah; tapi tidak memahaminya dengan benar. Atau dapat memahaminya tapi tidak sampai ke dalam hatinya. Mereka berjalan hanya dengan hawa nafsu dan emosinya.
Ciri khas mereka lainnya adalah: "Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan orang-orang kafir" sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
 
Sesungguhnya akan keluar dari keturunan orang ini satu kaum; yang membaca al-Qur'an, namun tidak melewati kerongkongannya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala. Mereka akan keluar dari Islam ini sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. Jika sekiranya aku menemui mereka, pasti aku bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum 'Aad. (HR. Bukhari Muslim)
 
Sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap seorang yang shalih dan keluarganya yaitu Abdullah –anak dari shahabat Khabbab bin Art radhiallahu 'anhu. Mereka membantainya, merobek perut istrinya dan mengeluarkan janinnya. Setelah itu dalam keadaan pedang masih berlumuran darah, mereka mendatangi kebun kurma milik seorang Yahudi. Pemilik kebun ketakutan seraya berkata: "Ambillah seluruhnya apa yang kalian mau!" Pimpinan khawarij itu menjawab dengan arif: "Kami tidak akan mengambilnya kecuali dengan membayar harganya". (Lihat al-Milal wan Nihal)
 
Maka kelompok ini sungguh sangat membahayakan kaum muslimin, terlepas dari niat mereka dan kesungguhan mereka dalam beribadah. Mereka menghalalkan darah kaum muslimin dengan kebodohan. Untuk itu mereka tidak segan-segan melakukan teror, pembunuhan, pembantaian dan sejenisnya terhadap kaum muslimin sendiri.
 
Ciri berikutnya adalah: kebanyakan di antara mereka berusia muda, dan bodoh pemikirannya karena kurangnya kedewasaan mereka. Mereka hanya mengandalkan semangat dan emosinya, tanpa dilandasi oleh ilmu dan pertimbangan yang matang. Sebagaimana yang terdapat dalam riwayat lainnya, ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda umurnya, bodoh pemikirannya. Mereka berbicara seperti perkataan manusia yang paling baik. Keimanan mereka tidak melewati kerongkongannya, mereka keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya. Di mana saja kalian temui mereka, bunuhlah mereka. Sesungguhnya membunuh mereka akan mendapatkan pahala pada hari kiamat. (HR. Muslim)
 
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjuluki mereka dengan gelaran yang sangat jelek yaitu "anjing-anjing neraka" sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa bahwa dia mendengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
Khawarij adalah anjing-anjing neraka. (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Dlilalul Jannah)
 
Diriwayatkan pula dari Sa'id bin Jamhan, beliau berkata: "Saya masuk menemui Ibnu Abi Aufa dalam keadaan beliau telah buta, aku berikan salam kepadanya. Ia pun menjawab salamku, kemudian bertanya: "Siapakah engkau ini?". Aku menjawab: "Saya Sa'id bin Jamhan". Dia bertanya lagi: "apa yang terjadi pada ayahmu?" Aku menjawab: "Dia dibunuh oleh sekte Azariqah". Maka Ibnu Abi Aufa mengatakan tentang azariqah: "Semoga Allah memerangi Azariqah, sungguh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah menyampaikan kepada kami:
 
Ketahuilah bahwa mereka adalah anjing-anjing penduduk neraka".
 
Aku bertanya: "Apakah sekte azariqah saja atau seluruh khawarij?" Beliau menjawab: "Seluruh khawarij". (As-Sunnah Ibnu Abi Ashim hal. 428 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Dhilalul Jannah)
.
Beliau shalallahu 'alaihi wasallam juga memuji orang-orang yang membunuh mereka. Sebaliknya beliau shalallahu 'alaihi wasallam mencerca mayat-mayat mereka dengan kalimat "sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit".
 
Diriwayatkan dari Abu Ghalib bahwa ia berkata: "Pada saat aku berada di Damaskus. Tiba-tiba didatangkanlah tujuh puluh kepala dari tokoh-tokoh Haruriyyah (khawarij) dan dipasang di tangga-tangga masjid. Pada saat itu datanglah Abu Umamah radhiallahu 'anhu–sahabat Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam– dan masuk ke masjid. Beliau shalat dua rakaat, dan keluar dan menghadap kepala-kepala tadi dengan meneteskan air mata. Beliau memandangnya beberapa saat seraya berkata: "Apa yang dilakukan oleh iblis-iblis ini terhadap ahlul Islam?" (tiga kali diucapkan). Dan beliau berkata lagi: "Anjing-anjing neraka" (juga tiga kali diucapkan). Kemudian beliau berkata:
 
"Mereka sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit, dan sebaik-baik mayat adalah orang yang dibunuh olehnya." (tiga kali).
 
Kemudian beliau menghadap kepadaku seraya berkata: "Wahai Abu Ghalib sesungguhnya engkau berada di negeri yang banyak tersebar hawa nafsu dan banyak kekacauan". Aku menjawab: "Ya". Beliau berkata: "Semoga Allah subhanahu wata'ala melindungimu dari mereka". Aku katakan: "Tetapi mengapa engkau menangis?". Beliau menjawab: "Karena kasih sayangku kepada mereka, sesungguhnya mereka dulunya adalah golongan Islam". Aku bertanya kepadanya: "Apakah yang kau sampaikan itu sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam atau sesuatu yang kau sampaikan dari pendapatmu?!" Beliau menjawab: "Kalau begitu berarti aku sangat lancang, jika aku menyampaikan apa yang tidak aku dengar dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam" sekali, dua kali dan seterusnya hingga beliau menyebutnya sampai tujuh kali. (Hadits hasan diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam asy-Syari'ah hal. 156; lihat takhirjnya secara rinci dalam al-Wardul Waqthuf oleh syaikh Abu Abdirrahman Fauzi al-Atsari hal. 95).
 
Demikianlah betapa kerasnya peringatan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam terhadap kaum khawarij dan betapa jeleknya julukan-julukan yang beliau ucapkan kepada mereka. Yang demikian itu karena akibat yang ditimbulkan oleh gerakan mereka sangat besar, yakni kekacauan dan pertumpahan darah di antara sesama kaum muslimin. Padahal nilai nyawa seorang mukmin lebih tinggi dari kesucian Arafah. Seperti Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam ucapkan pada hari Arafah:
 
Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian suci, seperti sucinya hari ini, di bulan ini, di negeri ini. (Bukhari-Muslim)
 
Yakni lebih suci dari hari yang suci yaitu hari Arafah di bulan suci yaitu Dzulhijjah dan negeri yang suci yaitu Makkah dan Arafah.
Berkata imam al-Ajurri tentang khawarij: "Tidak ada perselisihan di antara para ulama yang dulu maupun sekarang, bahwa khawarij adalah kaum yang jelek. Mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata'ala dan Rasul-Nya shalallahu 'alaihi wasallam, walaupun mereka melakukan shalat, puasa dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Hal yang demikian tidak bermanfaat bagi mereka, karena mereka adalah kaum yang menyelewengkan makna al-Qur'an sesuai dengan hawa nafsu mereka dan mengkaburkan pemahamannya terhadap kaum muslimin. (Lihat asy-Syari'ah al-Ajurri, hal. 32)
 
Apakah setelah ini pantas orang-orang yang mengaku Ahlus sunnah berdalil atas perbuatan yang mereka lakukan dengan apa yang dilakukan oleh khawarij untuk mencaci-maki dan menghujat para penguasa di hadapan umum?
 
Seperti apa yang dilakukan oleh khawarij gaya baru dan pengikutnya ketika mereka mencaci-maki pemerintah, kemudian dipenjara berkilah dengan ucapannya: "Kenapa kalian –wahai para penguasa– ketika ada orang yang mengkritik, ditangkap, dipenjara dan diperangi? Bukankah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, orang yang paling mulia, ketika dikritik oleh seseorang: "Berbuat adillah, sesungguhnya engkau tidak berbuat adil!" beliau shalallahu 'alaihi wasallam membiarkannya bebas merdeka?.*)
 
Lihatlah teladan yang dipakai mereka adalah perkataan Dzul Khuwaisirah kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam yang sudah kita ceritakan di muka. Padahal Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam marah dan menyebut dia sebagai bibit khawarij, dan beliau perintahkan kepada kita untuk memeranginya dan menjuluki mereka dengan julukan-julukan yang jelek. Wallahul musta'an.

Posted at 06:22 am by khadafi
Post comment |

Apakah sah shalat di belakang seorang ahli bid’ah dan orang yang menurunkan kain/sarung melebihi mata kakinya?

Alangkah bahagianya seorang hamba tatkala manusia disibukkan dengan urusan dunia, dia mampu membasahi anggota wudhunya. Kemudian dengan pakaiannya yang indah dia ayunkan langkahnya untuk memenuhi panggilan Tuhannya. Bersama orang-orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, dia hadapkan wajahnya kepada Dzat yang telah menciptakannya. Di rumah Allah dia bermunajat dalam rukuk dan sujudnya yang panjang.

Alangkah indah hidup seorang hamba ketika manusia terlena dengan buaian kursi dan kasur empuk, dia mampu terjaga sambil membasahi lisannya dengan dzikrullah. Dia selalu menjaga shalat berjama'ahnya di rumah Allah. Dia rapatkan dan luruskan shafnya, menaikkan sarungnya di atas mata kaki, karena dia tahu hukumnya.

Bukankah Rasulullah -Shollallahu 'alaihi wasallam- telah mengajarkan kepada umatnya bagaimana seorang muslim berpakaian? Termasuk bagaimana seorang berpakaian jika hendak melaksanakan shalat.

Abdullah bin 'Umar -radhiyallahu 'anhu- berkata, bahwa Rasulullah -Shollallahu 'alaihi wasallam- bersabda,

لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى صَلَاةِ رَجُلٍ يَجُرُّ إِزَارَهُ بَطَرًا

"Allah tidak melihat shalat orang yang menarik pakaiannya dengan sombong". [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (781)]

Ini adalah ancaman yang amat keras bagi orang yang meleretkan dan melabuhkan celana atau pakaiannya melebihi kedua mata kakinya. Dia tak akan dipandang oleh Allah, kecuali dengan pandangan murka. Bahkan sebelumnya ketika masih dalam kehidupan dunia ini mereka tidak diberi penjagaan dan perhatian oleh Allah akibat besarnya dosa yang mereka perbuat.

Ibnu Mas'ud -radhiyallahu 'anhu- berkata, Saya telah mendengar Rasulullah -Shollallahu 'alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ أَسْبَلَ إِزَارَهُ فِيْ صَلَاتِهِ خُيَلَاءَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ جَلَّ ذِكْرُهُ فِيْ حِلٍّ وَلَا حَرَامٍ

"Barangsiapa yang memanjangkan pakaiannya melebihi mata kakinya ketika shalat dengan sombong, maka dia tidaklah tergolong dalam kehalalan dan keharaman Allah." [HR. Abu Dawud (637). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' (6012)]

Syaikh Masyhur Hasan Salman -hafizhahullah- berkata saat mengomentari hadits ini, "Maksudnya: Allah tidak memberikan kebaikan terhadap perbuatannya yang halal dan sikapnya yang telah menjauhi yang haram. Maka kehormatan dirinya telah jatuh di hadapan Allah. Dan Allah tidak akan melihatnya, serta tidak ada yang bisa diambil ibrah dengannya dan tidak pula dengan perbuatannya. [Lihat Al-Qoul Al-Mubin (hal.34)]

Muhaddits Negeri India, Syamsul Haq Al-Azhim Abadiy-rahimahullah- berkata, "Dia tidak termasuk dalam golongan orang yang dibebaskan dosa-dosanya." Maknanya: Sesungguhnya Allah tidak mengampuninya. Allah juga tak akan mencegahnya perbuatan-perbuatannya yang jelek. Allah tak akan memberikannya surga, dan tak pula mencegahnya dari neraka. Dia tidak melakukan perbuatan halal, dan dia tidak memiliki kehormatan di sisi Allah -Ta'ala-".[Lihat Aunul Ma'bud (2/240)]

Ada pula yang mengatakan, "Dia tidak termasuk bagian dari agama Allah sedikitpun." Artinya: Sesungguhnya dia telah berlepas diri dari Allah dan dia telah menyelisihi agama-Nya.[Lihat Badzlul Majhud (4/297), Faidhul Qodhir (6/52), dan Al-Majmu' (3/177)]

Jadi, hadits itu menunjukkan haramnya menurunkan pakaian hingga menutupi kedua mata kaki dalam shalat, jika bertujuan sombong. Namun jangan dipahami bahwa isbal (melabuhkan celana di bawah mata kaki), jika tak sombong, maka tak mengapa, atau jika di luar sholat, maka tak mengapa. Ini adalah pemahaman yang keliru, sebab hadits lain menunjukkan bahwa isbal sekalipun tak sombong, maka tetap diberi ancaman oleh Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu 'alaihi wasallam- sebagaimana nanti –Insya'Allah- akan kami bahas pada edisi mendatang tentang masalah ini lebih rinci. Isbal secara muthlaq haram hukumnya, baik sombong atau tidak; baik dalam sholat atau di luar sholat !!

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman -hafizhahullah- berkata, "Sungguh telah kami isyaratkan tentang haramnya isbal, sama saja apakah karena sombong atau tidak, pada kesalahan yang lalu. Barang siapa yang menurunkan pakaiannya bukan karena sombong, maka perbuatannya tersebut adalah wasilah (pengantar) menuju hal itu (yakni, kesombongan)". [Lihat Al-Qoul Al-Mubin fi Akhtho' Al-Mushollin (hal.34), bagian footnote (3)]

Ibnu QoyyimAl-Jauziyyah telah berkata ketika men-syarah hadits yang berkaitan dengan isbal, "Sisi makna hadits ini –wallahu a'lam: "Sesungguhnya isbal (menurunkan pakaian di bawah matakaki) adalah perbuatan maksiat".[Lihat At-Tahdzib ala Sunan Abi Dawud (6/50)]

Yang perlu diingat disini, bahwa larangan dan pengharaman isbal, bukan hanya pada sarung, bahkan mencakup celana, sorban, jubah, dan lainnya. Ini perlu kami jelaskan, karena ada sebagian orang menyangka bahwa larangan isbal cuma pada sarung, tanpa yang lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah-rahimahullah- berkata, "Panjangnya gamis, celana sirwal, dan seluruh pakaian, jika terlampau panjang, maka seorang tak boleh membuatnya lewat di bawah mata kaki sebagaimana yang telah dicantumkan oleh hadits-hadits yang ada dari Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam-. Isbal itu terdapat pada celana sirwal, sarung, dan gamis". Maksudnya, beliau melarang dari isbal".[LihatMajmu' Al-Fatawa (22/144)]

Untuk itu, wajib bagi orang yang mau shalat untuk "memperhatikan pakaiannya ketika mengendor dengan menaikkannya. Sehingga ia tidak digolongkan sebagai orang yang menyeret pakaian karena kesombongan, sebab dia tidak sengaja menurunkannya. Terkadang pakaian itu hanya mengendor, lalu ia naikkan pakaian tersebut dan memperhatikannya. Tak ragu lagi bahwa orang seperti ini dimaafkan.

Adapun orang yang sengaja menurunkan pakaian, baik yang berupa bisytan, celana atau gamis, maka masuk dalam ancaman tersebut serta tidak ada maaf bagi yang menurunkan pakaian seperti ini. Sebab hadits-hadits shahih yang melarang isbal mencakup yang terucap, baik makna dan tujuan-tujuannya.


Maka setiap muslim wajib waspada terhadap isbal dan bertakwa kepada Allah dalam perkara ini. Yakni agar ia tidak menurunkan pakaian melebihi mata kakinya, dalam rangka mengamalkan hadits-hadits shahih tersebut, serta waspada dari kemarahan dan siksaan Allah. Allahlah yang memiliki taufik.". [Lihat MajalahAd-Da'wah (edisi 920), dan Majmu'Fatawa Syaikh bin Baz (219)]

  • Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz– rahimahullah - tentang Imam yang Mubtadi' (Ahli Bid'ah) dan Orang yang Menurunkan Sarung Melebihi Mata Kakinya

Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah- telah ditanya, "Apakah sah shalat di belakang seorang ahli bid'ah dan orang yang menurunkan sarung melebihi mata kakinya?"

Beliau menjawab, "Ya (sah). Shalat di belakang ahli bid'ah dan di belakang orang yang menurunkan sarungnya (musbil) atau orang-orang yang bermaksiat lainnya adalah sah. Demikian salah satu dari dua pendapat yang kuat. Selama bid'ah tersebut tidak mengkafirkan orangnya. Jika bid'ahnya itu mengkafirkan orangnya, seperti Jahmiyyah atau sejenisnya dari orang-orang yang bid'ahnya mengeluarkan mereka dari lingkup Islam, maka shalatnya tidak sah.

Oleh sebab itu orang-orang yang diberi tanggung-jawab memilih imam, hendaklah mereka

memilih imam seorang yang selamat dari kebid'ahan dan kefasikan, serta perilakunya diridhoi. Karena keimaman adalah amanat yang sangat agung dan seorang imam merupakan teladan bagi kaum muslimin. Maka tidak boleh menyerahkannya kepada ahlul bid'ah atau orang fasik, dalam keadaan mampu menyerahkan kepada selain mereka. Sedangkan isbal merupakan bagian dari sejumlah kemaksiatan yang harus ditinggalkan dan

diwaspadai, karena sabda Nabi -Shollallahu 'alaihi wasallam- :

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِيْ النَّارِ

"Sarung yang ada di bawah mata kaki tempatnya di neraka". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (5887), dan An-Nasa'iy dalam Sunan-nya (5331)]


Pakaian selain sarung (izar), seperti gamis, celana bisytu, dan sejenisnya, hukumnya sama seperti hukum sarung (izar). Sesungguhnya ada riwayat yang shahih dari Rasulullah -Shollallahu 'alaihi wasallam- , bahwasanya beliau bersabda,

ثَلَاَثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


الْمَنَّانُ الَّذِيْ لَا يُعْطِيْ شَيْئًا إِلَّا مِنَّةً وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْفَاجِرِ وَالْمُسْبِلُ إِزَارَهُ


"Tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah, Dia tidak melihat mereka di hari kiamat dan Dia tidak menyucikan mereka, serta mendapat adzab yang sangat pedih: Orang yang menurunkan pakaiannya (melewati mata kaki) dan orang yang mengungkit-ungkit (pemeberian), yaitu orang yang tidak memberikan sesuatu, kecuali diungkit-ungkit; dan menginfakkan barangnya dengan sumpah yang dusta". [HR. Muslim dalam Shohih-nya(106),


Abu Dawud dalam Sunan-nya (4087), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (1211), An-Nasa'iy dalam Sunan-nya (2564), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (2208)]


ika menyeret (menurunkan) sarung itu karena sombong, maka yang demikian itu dosanya lebih besar dan lebih dekat kepada siksaan yang segera, karena sabda Nabi -Shollallahu 'alaihi wasallam-,

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak melihatnya di hari kiamat". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3465), Muslim dalam Shohih-nya (2085), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4085 & 3465), An-Nasa'iy dalam Sunan-nya (5334 & 5335)dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3576)]

Maka wajib bagi setiap muslim agar waspada terhadap segala yang diharamkan oleh Allah atasnya berupa isbal dan lainnya". [Lihat Majalah Ad-Da'wah (edisi 913)]

Sesungguhnya perkara ini sangatlah menyedihkan kita dan setiap orang yang memiliki kecemburuan terhadap agamanya, yang memiliki kemauan besar untuk kebahagiaan umatnya.

Tatkala kita melihat laki-laki dan perempuan yang ada di hadapan kita menyelisihi dalil-dali ini. Kita lihat laki-laki dalam keadaan menurunkan pakaiannya, sambil menyeret ujung dan tepi pakaiannya di atas tanah. Sedangkan para wanita tidak menutup bagian atas badannya. Para wanita tersebut memendekkan pakaian mereka, sehingga tampaklah kepala, leher, dan dada mereka. Kemudian mereka berjalan di jalan-jalan dalam keadaan memakai wewangian, berhias dan membuka auratnya. Mereka berpakaian tetapi telanjang, dan berjalan sambil melenggang. Mereka tampakkan perhiasan-perhiasan mereka dan postur tubuh mereka di tempat yang terlihat oleh manusia yang dekat maupun jauh. Tidak ada upaya dan kekuatan, kecuali dari Allah.

Sumber :

Buletin Jum'at Al-Atsariyyah edisi 56 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te'ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel


Posted at 05:57 am by khadafi
Post comment |

PERKARA YANG SALAH DALAM MENCINTAI ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA DAN RASULULLAH SHALALLAHU 'ALAIHI WASSALAM

Tafsir Qur'an Surat Ali Imran: 31-32...

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman didalam Al-Qur'an Al-Karim:
Katakanlah," Bila kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (QS. Ali Imran {3}: 31-32).


MUQADIMAH.

Manusia yang paling terpuji di dunia ini adalah nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam. Beliau diutus oleh Allah Subhanahu Wata'ala sebagai penutup nabi dan utusan, diutus sebagai rahmatul lil 'alamin. Nama beliau Shalallahu 'Alaihi Wassalam sering disebut di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ditulis oleh ahli atsar bahkan setiap saat namanya disebut; ketika adzan dan iqamah dikumandangkan, ketika orang islam sedang shalat dan ketika mereka membaca hadits atau mendengar namanya. Sunnah belia Shalallahu 'Alaihi Wassalam ditulis, diamalkan, dibela dan disebarluaskan.

Akan tetapi kita menjumpai sebagian kaum muslimin ada yang memuliakan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam dengan cara yang tidak diridhai oleh Allah Subhanahu Wata'ala seperti mengadakan peringatan maulid nabi, Isra'Mi'raj, membuat shalawat khusus yang tidak ada tuntunannya dan amalan bid'ah lainnya. Lalu bagaimana seharusnya umat Islam mencintai beliau menurut pandangan As-Sunnah dan para pembelanya yang setia. Dengan merujuk penafsiran ayat diatas, mari kita ikuti pembahasannya semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua.


ASBABUL NUZUL.

Ada empat pendapat yang menerangkan sebab turunnya ayat ini :

1. Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam berdiri dihadapan bangsa Quraisy, waktu itu mereka sedang sujud kepada patung. Lalu Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,"Wahai kaum Quraisy engkau menyelisihi agama ayahmu nabi Ibrahim 'Alaihissalam." Mereka menjawab,"Kami sujud dalam rangka cinta kepada Allah, agar menjadi hamba yang paling dekat kepada-Nya." Lalu turunlah ayat ini. Sebagaimana keterangan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhuma.
  
2.Orang Yahudi berkata,"Kami ini anak Allah dan yang paling dikasih-sayangi maka turunlah ayat ini." Lalu Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam memperlihatkan ayat ini kepada mereka, akan tetapi mereka menolaknya. Keterangan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhuma juga.
  
3.Ada orang yang berkata kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam,"Kami cinta kepada Allah." Maka Allah Subhanahu Wata'ala ingin membuktikan kebenaran cintannya lalu turun ayat ini. Keterangan dari Hasan dan Ibnu Juraij.
  
4.Orang Nashrani Najran berkata kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam,"Kami cinta kepada Nabi Isa 'Alaihissalam karena Allah." Maka turunlah ayat ini, maksudnya jika benar cintamu kepada Allah maka ikuti aku (Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam) Tafsir Thabari 3/231.


TAFSIR AYAT SECARA UMUM.

Syaikh Abdurahman bin Nashir as-Sa'di Rahimahullah berkata,"Ayat ini bagaikan timbangan utnuk mengetahui orang yang cinta kepada Allah Subhanahu Wata'ala dengan sebenarnya dan orang yang hanya mengaku-ngaku. Sedangkan tanda mencintai Allah Subhanahu Wata'ala jika dia mengikuti Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan menjadikannya sebagai panutan,memenuhi apa yang menjadi seruannya dan meninggalkan apa yang menjadi larangannya. Tidak mungkin orang itu dicintai Allah, diridhai dan diberi pahala melainkan bila dia membenarkan apa yang datang kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam berupa Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan mengamalkan apa yang menjadi perintah dan meninggalkan larangannya. Barang siapa yang melaksanakan ini semua, dia dicintai Allah dan diberi balasan seperti orang yang dicintai-Nya, diampuni dosanya dan ditutupi aibnya. Jika kamu ditanya," Bagaimana hakikat ittiba' kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan bagaimana caranya? Maka jawablah: Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintah, meninggalkan larangan dan membenarkan beritanya." (Tafsir Al-Karimur Rahman, 1/268).


HAKIKAT CINTA KEPADA ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA.

Al-Hafidh Abul Farah Abdurahman bin Rajab Al-Hambali berkata,"Cinta yang benar harus ittiba' dan menerima, dengan mencintai semua yang dicintai dan membenci semua yang dibenci, sebagaimana Allah Subhanahu Wata'ala berfirman didalam surat At-Taubah [9]:24 dan surat Ali Imran [3]:31, dan sebagaimana disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim bersumber dari Anas bin Malik Radhiyallahu'anhu, Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda ."Ada tiga perkara, barang siapa yang tiga perkara itu ada padanya ia akan menjumpai manisnya iman: (1) apa bila Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari pada selainnya, (2) dan bila mencintai seseorang tidaklah mencintainya melainkan karena Allah, (3) dan dia benci bila dia kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan, sebagaimana dia benci bila dilemparkan kedalam neraka." Maka barangsiapa dia cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, benar-benar cinta, maka hatinya harus mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, dan membenci apa yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, dia harus meridhai apa yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya dan memurkai apa yang dimurkai oleh Allah dan Rasul-Nya. Anggota badannya harus mengamalkan apa yang dicintai-Nya dan meninggalkan apa yang dibenci-Nya. Jika anggota badan mengerjakan sesuatu yang menyelisihi ketentuan diatas, yaitu melaksanakan sebagian apa yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, atau meninggalkan sebagian yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya berupa kewajiban yang dia mampu, ini tanda bahwa dia berkurang nilai kecintaan dia yang wajib, hendaknya dia segera bertobat dan berusaha untuk menyempurnakan cintanya yang wajib.

Abu Ya'kub an-Nahrujuri berkata,"Barang siapa mengaku cinta kepada Allah Subhanahu Wata'ala akan tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya maka pengakuannya bathil, karena setiap orang yang tidak takut kepada Allah, dia tertipu."

yahya bin Mu'adz berkata,"Tidaklah benar orang yang mengaku cinta kepada Allah Subhanahu Wata'ala akan tetapi dia tidak menjaga dan tidak mengamalkan hukum-Nya."(Tafsir Ibnu Rajab Al-Hambali, 1/201-202).


PERKARA YANG SALAH DALAM MENCINTAI ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA.

Ayat diatas kita jumpai "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah." Ada orang yang memutar balik makna ayat ini bahwa yang dinamakan cinta kepada Allah, bila dia melagukan ayat dengan musik, wanita menggelar keindahan wajah dan dirinya sambil melagukan ayat Al-Qur'an, mengamalkan amalan bid'ah dan perbuatan maksiat lainnya yang penting niatnya ikhlas karena Allah. Persangkaan ini salah.

Ibnu Qayyim al-Jauzi Rahimahullah berkata,"Allah Shalallahu 'Alaihi Wassalam menjadikan orang yang ittiba' (mengikuti) kepada sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam sebagai bukti orang itu cinta kepada Allah sedangkan orang yang dicintai oleh Allah itu lebih tinggi kedudukannya daripada hamba cinta kepada-Nya. Bukanlah persoalannya kamu cinta kepada Allah, akan tetapi bagaimana kamu dicintai oleh Allah. Maka taat kepada yang dicintai pasti ada bukti atau tandanya, sebagaimana pepatah mengatakan :

Engkau maksiat kepada Allah, akan tetapi kamu mengaku cinta kepada-Nya.

Demi Allah, ini menurut akal sangat hina.

Bila cintamu benar, pasti kamu mencintai-Nya.

Seorang pecinta akan taat kepada yang dicintainya.

Selanjutnya Ibnu Qayyim berkata,"Allah tidak mengatakan: Menarilah kamu, menyanyilah kamu, merdukan suaramu dengan alat musik, berdansalah kamu dengan wanita-wanita muda belia dan dengan suara yang merdu yang dibarengi dengan biduan dan alat musik. Tiada manusia yang paling tersesat yang mengaku cinta kepada Allah." lalu dia beribadah kepada Allah dengan mendengarkan suara setan yang itu bagian dari hawa nafsu dan bisikan setan. (Badai'ut Tafsir Ibnu Qayyim al-Jauzi, 1/497-498).

Kesimpulannya, bukanlah cinta kepada Allah orang yang mengerjakan kemusyrikan, kebid'ahan dan kemaksiatan, walaupun dia mengaku cinta kepada-Nya.



HAKIKAT CINTA KEPADA NABI MUHAMMAD SHALALLAHU 'ALAIHI WASSALAM.

Diantara bukti bahwa orang yang beriman itu cinta kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam sebagai berikut :


1. Mengimani bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam benar-benar utusan Allah Subhanahu Wata'ala untuk semua lapisan manusia dan jin.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"Katakanlah,"Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua." (QS. Al-Ahqaf [46]:29).


2. Membela Sunnahnya.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"…Kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya…(QS. Ali Imran[3]:81).


3. Menjalankan seruannya, dengan mengamalkan yang wajib dan yang sunnah, serta meninggalkan yang haram dan yang makruh. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…(QS. Al-Anfal[8]:24).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata,"Adapun makna syahadat wa ana Muhammaddan Rasulullah ialah mentaati beliau dalam semua perintahnya, membenarkan semua beritanya dan menjauhi semua larangannya, serta tidak beribadah kecuali dengan syariatnya. (Utsul Tsalatsah, 24).

4. Menjadikannya sebagai uswah dalam segala urusan.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu…"(QS. Al-Ahzab[33]:21).


5. Membenci orang yang dibenci oleh Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam, sebagaimana diterangkan dalam surat Al-Mujadalah[58]:22.


6. Mencintai Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam diatas kecintaan dirinya dan orang lain.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri…"(QS.Al-Ahzab[33]:6).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:"Demi dzat yang diriku ditangan-Nya, tidaklah sempurna iman salah satu diantara kamu sehingga aku disenagi daripada ayah dan anaknya." (HR Bukhari:12).


7. Mencintai orang yang dicintai Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam.

Misalnya mencintai istri dan sahabatnya dan orang yang berpegang kepada sunnahnya.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"…Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati)Rasulullah dan tidak (pula) menikahi isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat…(QS. Al-Ahzab[33]:53).

Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu'anhu berkata, Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:Janganlah kamu mencela sahabatku, seandainya salah satu diantara kamu berinfaq sebesar gunung Uhud berupa emas, tidaklah mencapai satu mud salah satu diantara mereka dan tidak pula separuhnya.(HR Bukhari:3397).


8. Meyakini bahwa Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam utusan Allah Subhanahu Wata'ala yang paling mulia.

Ibnu Utsaimin berkata,"Dan paling mulianya utusan Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam , karena Rasulullah bersabda,"Saya adalah penghulu keturunan Adam besok pada hari kiamat." (HR Bukhari:4712) dan karena para nabi shalat dibelakang Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam pada waktu malam mi'raj (Syarah Lum'atul I'tiqad, 1/136)


9. Santun kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam dengan menyebut kedudukannya.

Orang yang hanya menyebut beliau dengan panggilan Muhammad, tidak punya adab, akan tetapi hendaknya memanggil dengan gelar Rasulullah atau Nabi.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)…(QS. An-Nur[24]:63)

Imam Al-Qurtubi berkata,"Mereka itu berteriak memanggil Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam dari jauh wahi Abul Qasim, akan tetapi hendaknya mereka memuliakannya." (Tafsir Al-Qurtubi, 12/294).


10. Berpegang kepada mahajnya dan mahaj sahabatnya.

Dari Al-Irbadh bin Sariah Radhiyallahu'anhu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda :"Kamu wajib mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk dan menunjukan jalan yang benar, berpeganglah dengan sunnahnya dan gigitlah dengan gigi gerahammu." (HR Abu Dawud:3991, dishahihkan oleh Al-Abani 2735).

Imam Ahmad Rahimahullah berkata,"Ushulus Sunnah (pokok-pokok sunnah) menurut kita-ahlus sunnah wal jamaah-ialah berpegang teguh kepada sunnah sahabat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan mengikuti jejak mereka dan meninggalkan bid'ah."(Ushulus Sunnah, Imam Ahmad Riwayat Abdus bin Malik Al-Athar 1/25-26).


11. Harus menjauhi bid'ah dan membenci para ahlinya.

Dari Al-Irbadh bin Sariah Radhiyallahu'anhu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda :"Dan jauhkan dirimu dari perkara yang baru (dalam perkara agama) karena setiap yang baru itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat." (HR Abu Dawud:3991, dishahihkan oleh Al-Abani 2735).



KEUTAMAAN CINTA KEPADA RASULULLAH SHALALLAHU 'ALAIHI WASSALAM.

Jika kita cinta kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam dengan benar-benar cinta, maka banyak faedah yang dapat kita ambil, diantaranya :


1. Dikelompokan bersama orang yang mulia.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi kenikmatan oleh Allah, yaitu: Para Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah sebaik-baiknya teman." (QS. An-Nisa[4]:69).


2. Dijamin memperoleh hidayah taufiq.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"…dan jika kamu taat kepada-Nya (Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam), niscaya kamu akan mendapat petunjuk..(QS. An-Nur[24]:54)


3. Menjadi orang yang bertaqwa dan terhindar dari perbuatan syirik.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkan (orang Islam), mereka itulah orang-orang yang bertaqwa."(QS. Az-Zumar[39]:33)

Berkata Abdurahman bin Zaid bin Aslam Rahimahullah,"Bahwa yang dimaksud dengan "bishshidqi" adalah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan yang dimaksud dengan "washadaqabihi" adalah orang Islam."

Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhu berkata,"Bahwa yang dimaksud dengan "al muttaqun" mereka yang berhenti dari perbuatan syirik." (Tafsir Ibnu Katsir, 4/70).


4. Dijamin masuk syurga.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,"Semua umatku masuk syurga kecuali yang enggan, mereka bertkata: Wahai Rasulullah, siapa yang enggan? Beliau menjawab: Barangsiapa taat kepadaku maka masuk syurga dan barang siapa yang maksiat kepadaku sungguh ia enggan." (HR Bukhari:6737).


5 .Dijamin hidup bahagia.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"…Maka orang-orang yang beriman kepada-Nya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang -orang yang beruntung. (QS. Al-A'raf[7]:157).


6.Mencapai kesempurnaan hidup.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian meereka tidak meresa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya." (QS. An-Nisa[4]:65).


7. Allah memberi kemenangan.

Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu'anhu berkata, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda pada saat perang Khaibar: "Sungguh aku besok akan menyerahkan bendera kepada orang yang Allah akan memenangkannya yang dia cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya." (HR Bukhari:2787).


BEBERAPA PERKARA YANG SALAH DALAM MENCINTAI RASULULLAH SHALALLAHU 'ALAIHI WASSALAM.

Adapun salah kaprah orang yang mengaku dirinya cinta kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam padahal tidak, malahan melecehkan kedudukannya, misalnya :


1. Mengujungi kuburannya secara khusus.

Misalnya orang yang berangkat haji ketika sampai di Madinah bukan mendahulukan shalat tahiyatul masjid, akan tetapi mereka berebut untuk menziarahi kuburan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam. Hal ini jelas bertentangan dengan sabda beliau :"Tidaklah diberangkatkan kendaraan itu melainkan untuk tiga masjid, masjidil haram, masjidil Aqsa dan masjidku ini (masjid nabawi)." (HR Bukhari:1858 dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu'anhu).

Adapun hadits yang menyebutkan:"Barangsiapa yang haji lalu dia menziarahi kuburanku setelah aku meninggal dunia, maka dia seperti menziarahiku pada masa hidupku." Dalam riwayat lain:"Barang siapa menziarahi kuburanku dia pasti dapat syafaatku." Hadits ini mungkar (Muhtashar Irwaul Ghalil, 1/21 8)


2. Bertawasul kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam setelah meninggal dunia dengan memanggilnya atau dengan menyebut kemuliaannya.

Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz Rahimahullah berkata,"Sesungguhnya bertawasul bijahi (dengan kemulian) Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam, baik ketika beliau masih hidup atau sesudah meninggal dunia, ini adalah tawasul bi'ah, dilarang, karena kemuliaan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam tidaklah bermanfaat melainkan pada diri beliau sendiri." (Fatwa Muhimmah, 1/100)

Adapun alasan mereka dengan hadits:"Jika kamu mohon kepada Allah, maka mintalah kepada Allah dengan menyebut bijahi (kemuliaanku) sesungguhnya kemuliaanku itu agung." ini adalah hadits dusta (Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah, 10/319).


3. Menolak sunnah Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam karena belum saatnya diamalkan atau mencegah keresahan umat.

Sebagian kaum muslimin mengaku cinta kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam, akan tetapi bila dibacakan Al-Qur'an atau As-Sunnah yang kurang berkenan dihatinya mereka menolaknya, dengan alasan belum waktunya atau menjaga persatuan umat dan alasan hawa nafsu linnya.

Al-Hafidh Abul Farah Abdurahman bin Rajab Al-Hambali berkata,"Semua kemaksiatan muncul karena mendahulukan hawa nafsunya daripada mencintai Allah dan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka)…(QS. Al-Qashas[28]:50) (Tafsir Ibnu Rajab Al-Hambali, 1/202)


4. Mengamalkan bid'ah dengan alasan cinta kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam tidak mengapa memakai hadits palsu yang penting untuk membela Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam.

Hal ini bukan cinta kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam, akan tetapi mencintai hawa nafsu dan menjauhkan umat mengikuti sunnah.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"…dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah." (QS. Shad[38]:26) dan bertentangan dengan firman Allah dalam surat Al-Hasyr[59]:7.

Al-Hafidh Abul Farah Abdurahman bin Rajab Al-Hambali berkata,"Demikian juga amalan bid'ah, sesungguhnya bid'ah itu akan muncul karena mendahulukan hawa nafsunya daripada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya."(Tafsir Ibnu Rajab Al-Hambali, 1/202)


5. Memperingati Maulid Nabi.

Sungguh aneh orang yang mengaku cinta kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam, akan tetapi mengamalkan amalan yang tidak pernah dikerjakan oleh beliau Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan para sahabatnya, seperti mengadakan peringatan Maulud Nabi, Isra'Mi'raj dan lainnya.

Tidak benar bahwa acara maulud Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam yang mereka adakan dalam rangka memuliakan beliau Shalallahu 'Alaihi Wassalam, akan tetapi sebaliknya, mereka menghinanya karena acara di dalamnya tidak luput dari kemungkaran, misalnya : bercampurnya muda mudi, nyanyian, bahkan membaca masyid-nasyid yang merusak kedudukan beliau, mereka berbohong atas nama beliau dengan hadits dusta yang selalu mereka pasarkan setiap acara tersebut, untuk meraih harta dengan jalan menipu, misalnya:"Barangsiapa yang mengagungkan hari kelahiranku, aku akan memberi syafaat kepadanya pada hari kiamat." dan,"Barangsiapa berinfaq satu dirham untuk memperingati hari ulang tahunku maka seperti berinfaq sebesar gunung uhud berupa emas." (Lihat kitab Sabilul Munji).

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Ahlusyaikh berkata,"Perayaan maulud nabi ini muncul pada bad ke-4 hijriyah yang diadakan oleh bani Ubaid Al-Qadah, mereka menamakan diri dengan fathimiyyin. Kesesatan mereka dibongkar oleh ulama sunnah, mereka tergolong tarekat ismailiyah bathiniyah, dan tidak layak dijadikan panutan. (Hakikat Syahadah Anna Muahammadan Rasulullah, 110).

Memperingati maulud Nabi sama dengan orang Nashrani ketika meperingati natal, isinya sendau gurau dan acara maksiat lainnya. Tidak pernah pelakunya mengaku cinta kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam karena itu wahai pembaca janganlah tertipu dengan karya tulis yang ditulis oleh Muhammad Alawy Al-Maliki karena ulama telah membantahnya, dan juga kitab "Membedah Hukum Perayaan Maulud Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam" karya K.H. Hasanuddin Abdul Latief dan masih banyak lagi yang mereka tulis dalam rangka mematikan sunnah.


6. Berlebih-lebihan memuji Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam.

Adapun contoh berlebih-lebihan memuji Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam antara lain :

Ya akramal rusuli mali

man ludu bihi

siwaka 'inda khululi

al khaditsil 'amim

(Wahai Rasul yang mukia, tiada bagiku orang yang aku berharap kebaikan kepadanya. Melainkan engkau (wahai Nabi), pada saat terjadinya musibah).

Bukankah perkataan ini menyekutukan Allah dengan utusan-Nya? Bukankah beliau Shalallahu 'Alaihi Wassalam pernah luka pada saat perang Uhud? Bukankah beliau Shalallahu 'Alaihi Wassalam pernah disihir oleh orang Yahudi? Bukankah Allah memerintahkan kita agar berharap kebaikan hanya kepada-Nya saja? Silakan bava surat Al-Falaq, An-Nas dan Al-A'raf:188.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:"Janganlah kamu memujiku degnan berlebih-lebihan sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan memuji (Isa) bin Maryam, sesungguhnya aku hamba-Nya, maka katakanlah : Hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR Bukhari:3189 dari sahabat Umar Radhiyallahu'anhu).

Syaikh Shalih Fauzan berkata,"Janganlah kamu memujiku dengan cara yang bathil dan janganlah kamu melampaui batas memujiku sebagaimana orang Nashrani berlebih-lebihan memuji Isa 'Alaihissalam sehingga mereka menggelari tuhan." (Akidatut Tauhid Wabayanu Ma Yudhaduha Minas Syirkil Akbar Wal Asghar:15)


7. Mengadakan shalawat bid'ah

Membaca shalawat nabi adalah perintah Allah. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"…hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepada nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab[33]:56).

Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam telah mengajarkan umatnya shalwat yang benar, akan tetapi kita jumpai sebagian kaum muslimin membuat shalawat sendiri, misalnya shalawat bid'ah karya syaikh dari Libanun :

Allahuma shalli 'ala Muhammadin taj'aluminhu akhadiyyatal qaiyuumiyah..(Ya Allah berkahilah Muhammad sehingga Engkau jadikan darinya sifat keesaan dan pengurus makhluk).

shalawat bid'ah karya syaikh dari Siria :

Allahuma shalli 'ala Muhammadin fatikhi lima ughliqa…(Ya Allah berkahilah Muhammad sang pembuka dari yang tertutup)

(Minhajul Firqatun Najiah:116-117, Syaikh Jamil Zainu)

Pembaca yang budiman apabila kita memahami makna shalawat diatas, sungguh mereka telah menjadikan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam memiliki sifat ilahiyah (untuk diibadahi). Naudzu billah min dzalik.


8. Risalah Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam hanya untuk bahasa Arab.

Sebagian tokoh yang menamakan dirinya muslim pecinta Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam berpendapat bahwa risalah beliau Shalallahu 'Alaihi Wassalam hanya untuk bangsa Arab. Jenggot bukan ajaran Islam tetapi adab bangsa Arab, poligami adab orang Arab. Perkataan ini muncul dari orang yang berambisi kedudukan dan khawatir kehilangan kedudukannya, secara tidak sadar mereka menolak ayat :

"Katakanlah,"Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada semua…" (QS. Al-A'raf[7]:158).


9. Beranggapan bahwa Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam mengetahui masalah ghaib, memiliki kekuatan ilahiyah sehingga mereka beristighatsah dan menyampaikan hajatnya kepada beliau.

Ini bukan cinta kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam akan tetapi melecehkannya. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"Katakanlah (wahai Nabiyullah), aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentu aku akan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemadharatan…(QS. Al-A'raf[7]:18 8)

Semoga dengan keterangan ini, Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kita kaum muslimin ke jalan yang diridhai-Nya, menjadi hamba yang cinta kepada-Nya dan mengikuti sunnah Nabi-Nya.

Posted at 05:42 am by khadafi
Post comment |

SMS Maksiat: Ramal Adalah Musyrik, Jangan Dipercaya

Friday, August 15, 2008

The image “http://i210.photobucket.com/albums/bb135/khadafi00998/hijab/mama-lauren.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.
Contoh SMS ramal

Pukul 10.23 malam hari

“ketik REG spasi RAMAL, kirim ke 9090!”
masa depan anda bukan rahasia bagi saya!

15 menit kemudian

“ketik REG spasi PRIMBON, kirim ke 9877!”

17 menit kemudian

“ketik REG spasi WETON, kirim ke 9877!”
dari iklannya dipastikan ini saudaranya PRIMBON

12 menit kemudian

“ketik REG spasi MANJUR, kirim ke 9877!”
tadinya kirain ada reg spasi beton, ternyata ada variasi

11 menit kemudian

“ketik REG spasi MAMA, kirim ke 9090!”
tidak salah lagi ini iklan saudaranya RAMAL

“Dengan nama dan no HP Anda saya bisa meramal bagaimana masa depan Anda nantinya” (SMS Dedi Corbuzier)

“Tuntunan saya akan membawa hidup Anda menjadi lebih sukses… percayalah… bla bla bla” (SMS Ki Joko Bodo)

“Saya akan melihat bagaimana masa depan Anda dan memberitahukan Anda apa yang seharusnya saya lakukan…” (SMS Mama Laurent)

Banyak sekali iklan-iklan seperti itu bertebaran di televisi. Herannya, kenapa iklan-iklan seperti itu bisa banyak bertebaran di televisi kita. Terang-terangan dan blak-blakan membawa kemusyrikan. Apakah itu berarti bahwa layanan SMS-SMS musyrik seperti itu memang digemari masyarakat? Apakah layanan SMS pembodohan itu memang merupakan usaha yang laris manis?

Kalau memang seperti itu, berarti memang masyarakat kita kini sudah mengalami pembodohan yang luar biasa. Kerusakan di masyarakat Indonesia kita ini sekarang bukan cuma berada pada tataran moral tapi juga aqidah. Kalau kondisinya seperti ini terus, maka Indonesia bisa kembali menjadi negeri jahiliyah yang tidak akan pernah bisa maju menyaingi negara-negara lain yang sudah lama meninggalkan bentuk-bentuk tahayul seperti itu.

Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa bertanya kepada peramal atau ahli nujum, kemudian ia percaya apa yang dikatakannya, berarti ia telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (Hadits shahih riwayat Ahmad).

Haram hukumnya mempercayai ahli nujum, dukun, peramal, tukang sihir, orang yang mengaku mengetahui jiwa orang atau peristiwa-peristiwa yang lalu yang tidak diketahui orang atau mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebab hal-hal tersebut adalah khusus ilmu Allah saja. Allah berfirman :

] وهو عليم بذات الصدور [

“Dan Dia Maha Menetahui apa yang tersimpan dalam hati.” (Al-Hadid : 6).

Dan firman-Nya pula :


] قل لا يعلم من في السموات والأرض الغيب إلا الله [


“Katakanlah: tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (An-Naml : 65).

Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa mendatangi seorang peramal dan menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima baginya shalat selama empat puluh hari.” (riwayat Muslim).

Ketahuilah saudaraku apa yang dikatakan oleh para peramal itu sebenarnya hanyalah dugaan dan kebetulan saja. Makhluk ghaib (Jin/syaitan) yang menjadi pembantu-pembantunya tidaklah dapat mengetahu sedikitpun rahasia ghaib milik Allah apalagi sampai mencuri berita dari langit (Allah) melainkan ada bintang-bintang yang melempari jin/syaitan yang hendak mencuri hal-hal yang ghaib. Umumnya para peramal ini tidak lebih dari berkata dusta karena bisikan jin/syaitan dan tidak ada orang yang terbujuk kecuali orang yang kurang akalnya saja. Andaikata mereka mengetahui hal-hal yang ghaib, niscaya mereka akan mengambil harta yang tersimpan dalam perut bumi ini sehingga mereka tidak lagi menjadi orang fakir yang kerjanya mengelabui orang lain hanya mencari sesuap nasi dengan cara yang batil. Atau mungkin mereka dapat mengetahui tanggal kematian seseorang. Kalau mereka benar-benar mengetahui hal-hal yang ghaib, maka beritahulah kami apa rahasia-rahasia yahudi sehingga dapat ditumbangkan ?

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kita sebuah hadits: "Allah subhanahu wata'ala berfirman: 'Pagi ini hamba-Ku bangun dalam keadaan kafir dan beriman, orang yang berkata kita mendapat hujan dikarenakan adanya formasi bintang ini maka dia telah kafir kepada-Ku dan percaya kepada bintang dan orang yang berkata kita mendapat hujan karena Allah maka dia telah beriman kepada-Ku dan tidak beriman kepada bintang-bintang."

Kita sebagai muslim harus tahu bahwa bintang tidak menunjukkan apa-apa kecuali 3 perkara sebagaimana atsar yang datang dari Qotadah (seorang tabi'in) bahwa bintang berfungsi sebagai: penghias langit, pelempar bagi syaitan yang mencoba mencuri berita dari langit (Allah). Sebagaimana kita tahu bahwa sebelum diutusnya Rasulullah shalallahu 'alahi wasallam syaitan berusaha mengetahui terlebih dahulu datangnya utusan Allah. Fungsi bintang yang ketiga adalah sebagai penunjuk arah (navigasi), menentukan arah perjalanan dengan bantuan bintang-bintang. Kemudian Qotadah melanjutkan: "*Maka barangsiapa mempergunakannya untuk selain tujuan itu, sungguh terjerumus kedalam kesalahan, kehilangan bagian akhiratnya, dan terbebani dengan satu hal yang tak diketahuinya.*" *(Shahih Bukhari)*

Saudaraku yang dirahmati Allah bukan kah kita hanya manusia biasa, kekuasaan dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT, kita hanyalah makhluk individual sebagai manusia yang dhoif/lemah tidak berdaya, meramalkan nasib orang lain berarti saudara telah mempercayai perkataannya, bukankah itu dosa jika kita mengundi nasib kepada orang lain, semuanya kembali kepada diri kita masing-masing untuk mencermatinya, jika duit reg SMS saudara di masukan ke kotak amal sudah tentunya saudara mendapatkan pahala dan mendapat rizeki yang tak terduga serta sumbangan saudara dapat mengurangi ke miskinan, marilah berfikir yang positif.

Wallahu'alam...

Wassalammu'alaykum wr.wb...


Posted at 09:37 am by khadafi
Post comment |

Adab Dalam Membicarakan Khabar Terkait Allah, Khususnya Terkait Sifat dan Asma Allah

Kekisruhan berkepanjangan melanda umat Islam, akibat pembahasan beberapa topik. Topik tersebut membuat polemik debat berkepanjangan, dan membuat perpecahan di antara umat Islam. Lebih parah lagi, sampai menggelincirkan para pendebat itu kedalam kesesatan dan kelalaian.

Dan Topik Khabar terkait Allah, terutama yang dianggap sebagai Khabar yang menerangkan Sifat dan Asma Allah, merupakan satu dari sekian banyak topik yang membuat umat Islam berpecah-belah. Bukan hanya umat Islam, umat agama Samawi lainnya pun turut berpecah karena topik ini. Bahkan juga umat agama Ardhi dan para penganut filsafat atau pun aliran kepercayaan berpecah karena topik ini.

Ada sebagian dari umat Islam yang terjebak pada kutub penetapan bahwa segala Khabar terkait Allah adalah dipastikan  merupakan Sifat dan Asma Allah secara hakiki. Sehingga saking bersemangatnya dalam menetapkan, mereka menetapkannya dan membahasnya dengan kalimat yang mengandung `aura` penyerupaan dan penjasadan terhadap Dzat Allah. Dan mereka sering memberi memberi pernyataan bahwa sikap mereka meniru ahli hadits, sehingga mereka menganggap dirinya ahli hadits.

Di kutub yang lain, banyak orang yang menganggap dirinya ahli dalam logika, yang menganggap dirinya ahli kalam, saking bersemangatnya untuk mensucikan Allah dari segala bentuk penyerupaan atau pun penjasadan, mereka selalu melakukan takwil di segala Khabar terkait dengan Allah, terlebih kepada yang dikaitkan dengan Sifat dan Asma Allah, mentakwil hingga ke tingkatan takwil yang terlalu dibuat-buat dan berlebihan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang namanya sering dikaitkan dengan polemik ini, dan sering dianggap pro terhadap salah satu kutub, sebenarnya pernah memberi peringatan halus sekaligus menerangkan bahwa dirinya bukanlah pendukung salah satu kutub tersebut. Beliau pernah berkata, “Kesalahan ahli kalam dalam menafikan sifat-sifat lebih banyak, dan kesalahan ahli hadits dalam menetapkan lebih banyak.” [1]

Di masa salaf, para salafus-sholih sangat berhati-hati, menghindari diskusi dan pembahasan yang berkepanjangan dan berlebihan terkait segala Khabar Sifat dan Asma Allah.

Mereka menjaga adab dalam menggunakan kata terhadap Nabi Muhammad saw, dan mereka jauh lebih menjaga diri dalam menggunakan kata terhadap Allah swt.

Mereka cenderung lebih memilih diam, dan tidak menafsirkannya, demi keselamatan, dan demi menjaga adab terhadap Allah swt, mengagungkannya sebagaimana mestinya, sebagaimana Allah mengagungkan diri-Nya.

Allah swt bukanlah dijadikan objek pembahasan, target pembedahan, bahan perdebatan!!!

Melainkan Allah swt wajib diimani, ditaati segala perintah-Nya, dijauhi segala larangan-Nya, dan kita harus selalu merasakan begitu melekatnya pengawasan Allah terhadap kita!!!

Sehingga mengubah dan membentu prilaku kita menjadi lebih baik. Dan kita selalu memakai adab luhur terhadap segala hal yang terkait dengan-Nya, termasuk untuk Khabar yang terkait dengan Allah, terutama yang dianggap mempunyai kaitan dengan Sifat dan Asma Allah.

Mari kita telaah beberapa hadits Nabi Muhammad saw, dan perkataan salafus-sholih berikut ini, juga beberapa renungan ayat-ayat suci Al-Quran.

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda, “Orang banyak selalu saling bertanya, sampai-sampai mereka mengatakan begini, “Allah menciptakan makhluk lalu siapakah yang menciptakan Allah?”. Maka barangsiapa menghadapi masalah macam ini, hendaklah ia menjawab, “Aku beriman kepada Allah”. (HR. Muslim)[2]

Demikianlah, Rasulullah saw telah memperingatkan akan kecenderungan manusia untuk mencari tahu hakikat sesuatu, terhadap apa pun atau siapa pun, termasuk terhadap Allah. Maka hendaknya banyaknya pertanyaan tentang hakikat Dzat Allah, pencarian secara rinci terkait Sifat dan Asma Allah dikendalikan, karena sering kali merupakan jebakan setan.

Sabda Rasulullah saw, “Pikirkanlah makhluk Allah dan jangan memikirkan Dzat Allah sebab kamu benar-benar tidak akan mampu melakukannya”. Hadits ini menurut Al Iraqi diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab “Al Hilyah” dengan sanad yang lemah, Al Ashbihani meriwayatkannya di dalam kitab “At Targhib Wat Tarhib” dengan sanad yang lebih kuat (shahih) dibandingkan dengan sanad periwayatan Abu Nu’aim; dan demikian pula Abusy Syaikh meriwayatkannya. [3]

Begitulah kadar kemampuan manusia, tidak akan sanggup mencari tahu hakikat Dzat Allah, termasuk rincian Sifat dan Asma Allah. Bahkan jangankan kepada Allah, dalam kadarnya terhadap ruang lingkup makhluk Allah pun, manusia masih awam, masih jahil dari pemahaman hakikat makhluk Allah tersebut, termasuk dirinya sendiri.

Di dalam kitab “Ushulus Sunnah”, Abul Qasim Al Lalikai meriwayatkan dari Muhammad Ibnul Hasan, teman Abu Hanifah ra. katanya, “Semua ahli fiqih baik di Barat maupun di Timur sepakat beriman kepada Al-Quran dan hadits-hadits Nabi saw mengenai sifat Allah swt yang diriwayatkan oleh orang-orang yang mempunyai sifat kepercayaan/kejujuran. Mereka tidak memberikan penafsiran, penyifatan dan penyerupaan. Barangsiapa pada saat sekarang ini sedikit memberikan penafsiran terhadap hal itu berarti ia telah menyimpang keluar dari apa yang dilakukan oleh Nabi saw dan memisahkan diri dari persatuan (jama’ah) sebab mereka tidak menyifati dan tidak pula menafsirkannya. Mereka hanya memberi fatwa apa yang terdapat di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, kemudian mereka diam tidak memberikan komentar”. [3]

Begitulah para salafus-sholih, cenderung diam, tidak mau sering membahas Khabar terkait Allah, terutama yang terkait dengan Sifat dan Asma Allah secara berkepanjangan, karena dikhawatirkan menjadi debat, dan tergelincir kepada sikap tidak mengagungkan Allah swt sebagaimana mestinya.

Renungkan juga perkataan berikut, yang memberikan peringatan adab dan kehati-hatian dalam membahas Khabar yang terkait dengan Sifat dan Asma Allah. Bisa jadi ada sikap kita yang dianggap tidak beradab kepada Allah swt kendati sebenarnya kita tidak sengaja dan tidak berpikir ke arah tersebut. Renungkan saudara/i sekalian.

Harmalah bin Yahya meriwayatkan, katanya, “Aku mendengar Abdullah bin Wahb berkata “Aku mendengar Malik bin Anas berkata, “Barangsiapa sedikit saja menyifati Allah seperti firman-Nya, “Orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu” seraya menunjuk kepada lehernya dengan tangannya, atau seperti firman-Nya, “Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” sambil menunjuk matanya atau kupingnya atau sesuatu dari tangannya maka berarti ia telah memastikan demikian itu sebab ia telah menyerupakan Allah dengan dirinya”.

Lebih lanjut Malik berkata, “Tidakkah kamu mendengar ucapan Al-Barra’ ketika ia menceritakan bahwa Nabi saw tidak berkurban dengan empat ekor binatang kurban, seraya mengisyaratkan dengan tangannya sebagaimana Nabi saw mengisyaratkannya – kata al-Barra’ melanjutkan – padahal tanganku lebih pendek daripada tangan beliau”. Oleh sebab itulah maka Al Barra’ tidak suka menyifati tangan Rasulullah saw sebagai sikap memuliakan kepada beliau. Padahal Rasul itu manusia, maka bagaimana halnya dengan Allah swt. yang tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia?”. [3]

Dan sungguh Allah telah mensucikan diri-Nya dari segala yang terlintas dan terpikirkan oleh kita dengan Firman-Nya.

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (QS Al Ikhlas: 4)

…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia… (QS Asy-Syura: 11)

...Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. (QS Al An’aam: 100)

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu… (QS  Al An’aam: 103)

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (QS  Al A’raaf: 143)

…Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS Yunus: 68)

Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. (QS Al Israa: 43)

…"Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (QS Al Anbiyaa: 87)

Maka hendaklah orang-orang berakal mengambil dan memahami hikmah ini.

Demikianlah sedikit renungan untuk kita semua. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.

Yang Benar adalah mutlak dari Allah swt semata, dan yang salah adalah dari makhluk-Nya.

Wallahu'alam bissowab...
Wassalammu'alaykum wr.wb...

 
===================================
[1] Akidah Salaf & Khalaf – Kajian Komprehensif seputar Asma’ wa Sifat, Wali & Karamah, Tawassul dan Ziarah Kubur; hal 191; Karya Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, diterjemahkan oleh Arif Munandar Riswanto, Lc.; Cetakan Pertama, tahun 2005; Penerbit: Pustaka Al-Kautsar.

[2] Aqidah Islam; hal 66; Al ‘Aqaid buah pena Syeikh Hasan Al Banna, dibukukan oleh Ridwan Muhammad Ridwan, dan diterjemahkan oleh Drs. M. Hasan Baidaie; Keluaran tahun 1979;Penerbit: PT Al Ma’arif.

[3] ibid, hal 84-86.

Posted at 08:41 am by khadafi
Post comment |