Dan ketika telah datang kebenaran kepadamu, segeralah tinggalkan kebathilan, dan segera ikuti kebenaran itu

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS. An Nur: 59) ~ Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An Nur: 61) ~ Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. (QS. An Nur: 64) ~ Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) kepada Allah dan beramal shalih serta mengatakan; ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim’. (QS. Fushshilat: 33)


Berpegang Teguh Dengan As-Sunnah Adalah Jalan Keselamatan

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak juga celaka.” (QS. Thaha: 123)

Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara bersama-sama dan janganlah kalian berpecah belah…” (QS. Ali Imran: 103)

Yang dimaksud dengan tali Allah adalah al-Qur’an, sebagaimana tercantum dalam hadits. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua buah pegangan : salah satunya adalah Kitabullah; dan itulah tali Allah. Barang siapa yang mengikutinya maka dia akan berada di atas hidayah. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.” (HR. Muslim)

Wahai Robb kami - hidupkanlah kami diatas Islam dan Sunnah dan Matikanlah kami diatas Islam dan Sunnah

Arsip Terurut

<< June 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30
 

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


RssFeed

Message Board



Silahkan tinggalkan message

Jadwal Sholat

Shalat fardhu atau Shalat lima waktu wajib dilaksanakan tepat pada waktunya
Allah Subhanahu Ta'ala berfirman: “Sesungguhnya Shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisaa’: 103).

Tracking Place

Kata Mutiara




Semakin Anda memahami lebih banyak tentang dunia di sekitar Anda, semakin bergairah dan penasaran terhadap kenyataan hidup dalam hidup Anda.Gairah adalah salah satu elemen pokok yang meringankan upaya dan mengubah kegiatan-kegiatan yang biasa-biasa saja menjadi suatu pekerjaan yang dapat dinikmati.

Semakin besar “Mengapa” Anda akan semakin besar energi yang mendorong Anda untuk meraih sukses.

Mimpi tidak hanya membantu Anda berhadapan dengan kegagalan, tetapi mereka juga memotivasi Anda secara konstan.

Mimpi masa kini adalah kenyataan hari esok.

Anda bisa, jika Anda berpikir bisa, selama akal mengatakan bisa. Batasan apakah sesuatu masuk akal atau tidak, kita lihat saja orang lain, jika orang lain telah melakukannya atau telah mencapai impiannya, maka impian tersebut adalah masuk akal.

Menuliskan tujuan akan sangat membantu dalam menjaga alasan melakukan sesuatu.

Apakah kita bisa untuk mengemban misi kita? Insya Allah kita bisa, karena Allah Mahatahu, Allah tahu sampai dimana potensi dan kemampuan kita. Jika kita tidak merasa mampu berarti kita belum benar-benar mengoptimalkan potensi kita.

Jika target obsesi itu baik, maka memiliki obsesi bukan hanya baik, tetapi harus. Karena motivasi dari sebuah obsesi sangat kuat.

Untuk menjadi sukses, Anda harus memutuskan dengan tepat apa yang Anda inginkan, tuliskan dan kemudian buatlah sebuah rencana untuk mencapainya.

Bisakah kita meraih sukses yang lebih besar lagi?

Merumuskan Visi dan Misi adalah salah satu bentuk dalam mengambil keputusan, bahkan pengambilan keputusan yang cukup fundamental. Visi dan Misi Anda akan menjiwai segala
gerak dan tindakan di masa datang.

Jangan takut dengan gagalnya meraih visi, kegagalan meraih visi sebenarnya bukan suatu kegagalan, tetapi merupakan keberhasilan yang Anda tempuh meski tidak sepenuhnya.

Visi itulah yang akan menuntun perjalanan hidup Anda.

Menciptakan kebiasaan baru adalah salah satu dari kunci sukses. Jika anda ingin sukses Anda harus mulai menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang akan membawa Anda kepada kesuksesan.

Jika Anda ingin menang— dalam bisnis, karir, pendidikan, olah raga, dsb— maka Anda harus memiliki kebiasaan-kebiasaan seorang pemenang pula.

Jika Anda ingin suatu kehidupan yang berbeda, buatlah keputusan yang berbeda juga.

Tengoklah kembali perjalanan Anda saat ini, akan menuju kemana? Apakah ke arah yang lebih baik, atau ke arah yang lebih buruk, atau tetap saja seperti saat ini? Tetapkanlah sebuah putusan dan jalanilah menuju konsekuensinya.

Potensial pilihan Anda begitu melimpah, keputusan Anda dapat saja merubah hidup Anda secara dramatis dalam waktu singkat.

Hanya satu motivasi yang ada, yaitu Allah. Adapun motivasi lainnya harus dalam rangka “karena dan/atau untuk” Allah.

Cinta terbesar dan cinta hakiki bagi orang yang beriman ialah cinta kepada Allah. Sehingga cinta kepada Allah-lah yang seharusnya menjadi motivator terbesar dan tidak terbatas.

Sukses yang sudah Anda alami di masa lalu akan membantu untuk memotivasi Anda di masa yang akan datang.

Jika Allah yang menjadi tujuan, kenapa harus dikalahkan oleh rintangan-rintangan yang kecil di hadapan Allah? Jika mencari nafkah merupakan ibadah, semakin kerja keras kita, insya Allah semakin besar pahala yang akan diberikan oleh Allah. Jika nafkah yang didapat merupakan bekal untuk beribadah, maka semakin banyak nafkah yang didapat, semakin banyak ibadah yang bisa dilakukan.

Uang + Ahklaqul Karimah akan menjadi modal yang sangat berharga baik untuk Anda sendiri, maupun untuk kemajuan Umat Islam. Kejarlah keduanya.

Jika niat sudah terpancang karena Allah, tidak akan ada halangan yang bisa menghentikan seseorang melakukan sesuatu. Niat karena Allah ialah motivator yang utama dan seharusnya menjadi satu-satunya motivator kita.

Jangan sampai kita terlena untuk memenuhi kekayaan duniawi yang sifatnya hanya sementara saja, hingga kita lupa akan tugas kita yang sesungguhnya di dunia ini yaitu mengumpulkan perbekalan untuk menuju kampung akhirat yang kekal. Jadi perkayalah diri Anda baik dengan materi maupun dengan ruhani, dan bagikan kekayaan tersebut kepada orang-orang yang ada disekitar Anda, terutama yang lebih membutuhkan.

Ada peluang dan ancaman dibalik harta yang kita miliki.

Tindakan kita akan mengacu kepada apa yang ada dalam pikiran kita.

Jangan terpaku dengan asumsi dan persepsi sendiri, karena bisa salah. Cobalah mulai membuka pikiran Anda terhadap pikiran orang lain, tentu saja dengan filter nilai-nilai yang Anda anut.

Seperti perkelahian orang yang kecil dengan orang yang besar, jika mengadu tenaga atau kekuatan tentu saja si kecil akan kalah, tetapi dengan kecerdikan, si besar bisa dikalahkan.

Sudahkah Anda melihat dan meneliti apa yang sudah Anda lakukan dan membuat rencana ke depan agar lebih baik?

Proyek besar tidak bisa diselesaikan sekaligus, tetapi harus dibagi-bagi kebagian yang kecil dan dapat dikendalikan.

Anda hanya memerlukan rencana yang sederhana dan tetap sederhana, yang penting Anda konsisten menjalankannya.

Dua hal yang perlu Anda ketahui sebelum memulai bisnis, pertama ketahuilah bahwa bisnis itu tidak mudah, kedua bekali diri Anda dengan sikap dan keterampilan yang memadai. Tetapi yakinlah bahwa Anda bisa.

Rencana adalah jembatan menuju mimpimu, jika tidak membuat rencana berarti tidak memiliki pijakan langkahmu menuju apa yang kamu cita-citakan.

Putuskan apa yang Anda inginkan, kemudian tulislah sebuah rencana, maka Anda akan menemukan kehidupan yang lebih mudah dibanding dengan sebelumnya.

Rencana memberikan arah langkah Anda.

Kunci pengelolaan waktu yang efektif: mengeset prioritas dan konsentrasi pada satu pekerjaan pada satu waktu.

Untuk mencapai puncak, Anda harus melalui anak tangga dan terus menerus naik, maka Anda akan mencapai puncak yang Anda inginkan.

Jika sukses merupakan akibat, tentu saja ada sebabnya. Jadi langkah pertama jika Anda ingin sukses ialah dengan mengetahui terlebih dahulu sebab-sebab yang membuat orang lain sukses.

Apa yang membedakan Anda dengan orang lain yang sukses? Jawabannya karena Anda tidak mengerjakan apa yang orang sukses kerjakan.

Segala sesuatu yang kita kejar selalu menuntut bayaran. Hal yang paling umum yang diperlukan saat mengejar cita-cita ialah mengganggu zona nyaman.

Suatu saat mungkin Anda merasa dunia ini bau terasi, kemana pun Anda pergi bau terasi selalu tercium. Sebelum Anda memutuskan bahwa dunia ini penuh dengan terasi, periksalah diri Anda mungkin ada terasi pada kumis atau pakaian Anda.

Untuk mengubah sikap, ternyata tergantung pada diri Anda sendiri.

Menghilangkan sifat dengki pada diri kita akan membantu kita menuju kesuksesan baik dunia maupun akhirat.

Dengan disiplin bukan saja kita tidak mendapatkan sangsi, tetapi dengan disiplin kita akan meraih sukses, terhindar (insya Allah) dari kecelakaan, dan disiplin juga adalah ibadah.

Bermimpilah, buatlah tujuan dari mimpi Anda, buatlah rencana, lakukan rencana, dan capailah mimpi Anda.

Mungkin saja di tempat lain rezeki Anda sudah menunggu.

Jika Anda mempunyai misi mulia, jangan takut untuk gagal, bukan hasil yang akan dinilai, tetapi usaha Anda untuk mencapainya.

Jika kegagalan menghampiri Anda bukan berarti Anda harus menyerah, tetapi cari jalan lain, kemudian kerjakan lagi. Sekali lagi, jangan cepat menyerah.

Menyerah adalah salah satu cara untuk gagal.

Jangan lupakan kegagalan, tetapi ambilah hikmahnya.

Lupakan kekecewaan, karena harapan dimasa depan masih terbentang luas dan begitu cerah.

Jika sudah tidak ada harapan, cobalah jalan yang lain. Masih banyak jalan lain yang bisa membawa Anda menuju kesuksesan.

Anda telah mendapatkan sesuatu yang berharga pada kegagalan sebelumnya, sehingga kini Anda telah lebih bijaksana, lebih berpengalaman, dan lebih terampil.

Diantara ribuan peluang dan kesempatan, di sana ada kesuksesan, namun dikelilingi dengan kegagalan. Ambil kesempatan dan peluang tersebut, biarkan Anda gagal dalam proses menemukan kesuksesan tersebut.

Setiap kegagalan yang Anda buat adalah anak tangga Anda menuju puncak, yaitu sukses. Setiap kegagalan yang Anda temukan, memberikan arah yang jelas menuju sukses.

Kegagalan:

  • dapat memberikan kekuatan
  • ladang mendapatkan pahala
  • dapat menggali potensi Anda
  • mengembangkan kreatifitas Anda.

Apabila apa yang sudah Anda rencanakan dan Anda mimpikan tidak terwujud dengan sukses, maka langkah yang paling baik Anda ambil adalah bertawakal pada Allah SWT

Jadi, berharaplah banyak, tetapi jangan kecewa jika gagal.

Kecewa atau tidak, semua tergantung Anda, tergantung bagaimana Anda menyikapi kegagalan. Berharap sedikit hanya akan menghambat Anda mengoptimalkan potensi Anda.

Lebih banyak Anda mencoba, akan mendekatkan Anda kepada sukses, meskipun Anda akan mengalami banyak kegagalan.

Namun cuma itulah yang kita diperlukan, karena kita sering tidak tahu mana yang akan berhasil.

Kebahagian yang didapatkan oleh orang yang menghindari kekecewaan adalah kebahagian yang semu, dia bukan bahagia tetapi hanya tidak kecewa saja.

Banyak perusahaan yang dimulai dengan modal besar bangkrut, sebaliknya bisnis dengan modal kecil banyak yang berhasil. Jadi bukan uang yang menentukan keberhasilan Anda!

Ubahlah sudut pandang Anda terhadap kegagalan, maka Anda tidak akan kecewa terhadap kegagalan yang Anda alami, setidaknya kekecewaan Anda akan sedikit atau sementara saja.

Allah SWT mungkin memberikan ujian berupa kegagalan dan kehilangan kepada kita untuk mengajarkan hikmah kepada kita.

Mungkin, kegagalan, masalah, dan lingkungan yang tidak menyenangkan adalah sebagian dari skenario Allah SWT dalam membina diri kita.

Jangan hiraukan opini negatif Anda, bentuklah kebiasaan beraksi agresif dan positif terhadap ancaman, masalah, dan kegagalan. Fokuskan diri Anda pada sasaran akhirnya, terlepas apapun yang terjadi saat ini.

Jika sikap kita benar, pengalaman mengecewakan akan memberikan hikmah yang membuat kita bahagia.

Mari kita sama-sama belajar kepada pengalaman. Bukan saja pengalaman diri kita saja, tetapi kita juga bisa belajar pada pengalaman orang lain. Pengalaman adalah guru yang bijak.

Ketekunan dan kesabaran jika digabungkan menjadi modal yang sangat besar untuk meraih sukses.

Keberhasilan Anda adalah ditentukan oleh Anda sendiri dan takdir Allah SWT. Bukan oleh orang lain.

Ketimbang tersinggung dengan ejekan dan kritikan, akan lebih baik jika kita malah mengambil manfaatnya. Kadang ejekan dari musuh lebih jujur dari pada pujian seorang teman.

Para pemenang mangambil tanggung jawab terhadap hidupnya. Mereka tidak pernah menyalahkan orang lain atau pun lingkungan. Mereka tidak suka mencari-cari alasan terhadap kegagalan mereka.

Dengan hidup di atas garis, kita tidak akan mandeg dengan alasan kondisi atau apa pun yang terjadi pada diri kita. Hidup kita akan lebih hidup. Kita akan bergairah dan memiliki determinasi yang tinggi dalam mencapai cita-cita kita.

Orang yang biasa berdalih tidak akan mengambil pelajaran dari kesalahan dan kegagalan, kerena dia sudah siap untuk berdalih lagi.

Tidak akan ada keberhasilan tanpa tindakan. Tidak akan tindakan tanpa keberanian. Jadi tidak akan keberhasilan tanpa keberanian. Sukses sejalan dengan keberanian.

Jika wawasan Anda akan semakin luas, Anda akan menemukan jalan-jalan baru untuk meraih sukses. Insya Allah dalam waktu yang tidak lama ketakutan pada diri Anda akan hilang.

Jangan takut menambah saingan dengan membina orang lain, rezeki Allah begitu melimpah di bumi ini. Dan Allah telah menetapkan rezeki bagi setiap makhluk-Nya bahkan hewan melata sekalipun.

Ketakutan-ketakutan akan membatasi Anda untuk melakukan berbagai hal yang sangat berarti bagi Anda.

Mulailah sekarang juga untuk melangkah, menuju tujuan Anda meskipun selangkah demi selangkah tetapi akan membawa Anda ke tujuan, asal arah yang Anda tempuh benar.

Mimpi memang sangat perlu untuk memelihara gairah hidup dan kemajuan, tetapi mimpi tanpa disertai tindakan hanyalah seperti pepesan kosong belaka.

Aplikasi atau tindakanlah yang membuat orang sukses, tentu saja setelah mimpi yang tinggi dan ilmu yang mencukupi.

Bagaimanapun mimpi yang bernilai tinggi otomatis memerlukan pengorbanan yang tinggi pula dan kerja yang terfokus.

Diam tidak pasti, bertindak tidak pasti, kalau begitu mendingan kita bertindak.

Semakin berkerja keras kita, semakin beruntung kita. Apalagi jika niat kita lurus, tidak ada kerja keras kita yang sia-sia. Allah Mahatahu, sehingga pasti akan tahu apa yang terbaik bagi kita, termasuk mungkin kita harus lebih banyak berusaha.

Sedetik waktu terlewat, tidak akan pernah bisa kembali. Maka jangan sia-siakan waktu yang kita miliki.

Sesungguhnya waktu adalah hidup, dan hidup sendiri adalah menjalani waktu. Sejauh mana Anda menghargai waktu, berarti sejauh itulah Anda menghargai hidup Anda.

Bekerjalah sebaik mungkin, pikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi, sehingga jika kemungkinan tersebut datang kita sudah siap. Bisa saja esok akan lebih sulit.

Ketidakpastian selalu menyertai kita, jangan lari, percuma. Yang perlu dilakukan ialah gunakanlah kreatifitas Anda untuk mencari solusi-solusi baru dan tetaplah semangat untuk
mengaplikasikan solusi-solusi tersebut.

Mungkin saja setiap masalah dan tantangan yang kita anggap sulit itu masih ada solusinya, namun belum terpikirkan oleh kita.

Hindarilah membatasi diri Anda, pikiran-pikiran Anda, atau mimpi-mimpi Anda, sebab, apa yang kita lakukan atau apa yang kita buat esok hari tidak pernah terpikirkan hari ini.

Manusia sudah diberi kemampuan untuk berkreasi.

Tidak ada waktu yang lebih baik selain sekarang untuk memulai hidup yang baik. Anda tidak perlu untuk menciptakan ulang kehidupan anda di waktu yang sudah lewat. Mulailah meskipun hanya dengan satu langkah, yang penting anda memulai, jangan ditunda untuk besok.

Jika Anda ingin beruntung, persiapkan diri Anda dengan membina sikap Anda dan membekali diri dengan berbagai keterampilan yang memadai.

Anak bebek akan bertingkah seperti ayam saat menganggap dirinya ayam. Sebaliknya anak bebek bertingkah laku sebagai mana bebek lainnya saat dia sadar kalau dia itu bebek. Fenomena ini juga berlaku pada manusia, dia akan bertingkah sesuai dengan anggapan pada dirinya sendiri.

Sekali kita underestimate terhadap diri sendiri, kita akan rugi, karena potensi kita akan terkungkung oleh batas yang terlalu sempit dibandingkan dengan batas yang sebenarnya.
Cacat atau kekurangan lainnya mem ang akan membatasi kebebasan kita di suatu sisi. Namun kebebasan itu banyak dan bermacam-macam, jika salah satu kebebasan kita terpenjara,
kita masih bisa mencari kebebasan yang lainnya.

Jangan menganggap diri kita tidak mampu sebelum mencoba, belajar, dan berlatih.

Kita memiliki keunikan masing-masing yang dapat menjadi keunggulan kita masing-masing.

Jika Anda belum merasa memiliki keunggulan saat ini, mungkin Anda belum memiliki semangat yang tinggi dan motivasi yang kuat dalam rangka menggali potensi Anda. Untuk meraih keunggulan lebih tinggi kita memerlukan bantuan orang lain.

Dalam mengahadapi perubahan dan untuk menjadi manusia unggul ada satu jalan yang tidak boleh tidak harus kita lakukan, yaitu selalu memperbaiki diri terus-menerus.

Allah SWT memerintahkan kita untuk mau berpikir tentang penciptaan-Nya yang begitu menakjubkan, rumit, dan kompleks. Namun semua itu telah Allah SWT tundukan untuk kita. Ini sebagai tanda bahwa manusia memiliki kemampuan (dari Allah) untuk menundukan apa yang ada di langit dan di bumi.

Mengevaluasi apa yang kita lakukan dan semua pencapaian kita. Apapun hasilnya akan menjadi fondasi kuat untuk kehidupan kita dimasa mendatang yang lebih baik.

Lalui kesulitan dan betakwalah, maka kemudahan pun akan datang.




A Muslims Pledge

 

My Friend

Kepada rekan, sahabat atau kawan yang punya website atau weblog dapat tukar link disini, silahkan klik "Contact Me" untuk memasukkan alamat url kalian agar dapat kami tampilkan di halaman weblog ini.
Fisabilillah Weblog

Invitation is mine and Inviting is my mission


Takutlah kepada Allah di mana saja engkau berada, ikutilah segala kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya. Dan pergaulilah sekalian manusia dengan budi pekerti yang baik.

Sesungguhnya kamu sekalian tidak akan sanggup mempengaruhi manusia dengan hartamu, maka dari itu pengaruhilah mereka dengan wajah yang manis dan budi pekerti yang baik

Mengapa kita berda'wah?







Barangsiapa menganggap ringan kewajiban (dakwah) ini, padahal ia merupakan kewajiban yang dapat mematahkan tulang punggung dan membuat orang gemetar, maka ia tidak bisa melaksanakan secara kontinyu kecuali atas pertolongan Allah. Ia tidak akan bisa memikul dakwah kecuali atas bantuan Allah SWT dan tidak akan bisa teguh di atasnya kecuali dengan keikhlasan pada-Nya. Orang yang berada di jalan ini siangnya berpuasa, malamnya qiyam (shalat) dan ucapannya penuh dengan dzikir. Sungguh hidup dan matinya hanya untuk Allah Rabbal Alamin, yang tiada sekutu bagi-Nya.
(Tafsir Fii Zhilaalil Qur’an, Sayyid Quthb)

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung". (Ali Imran: 104)





Selengkapnya klik disini

Menjawab Semua Fitnah Terhadap Islam

Ya Allah dzat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, Ya Allah tampakanlah pada kami kebenaran sebagai kebenaran, dan anugerahkanlah pada kami untuk mengikutinya, serta tampakkan pada kami kebatilan itu sebagai kebatilan dan anugerahkan pada kami untuk menjauhinya. Ya Allah teguhkanlah kami sebagaimana kau teguhkan Musa as, ya Allah tolonglah kami sebagaimana Rasulullah dan para Sahabatnya kau tolong, Ya Allah berilah hidayah pada kami, keluarga kami, anak keturunan kami dan kepada seluruh Ummat Nabi Muhammad saw. Jadikanlah dakwah sebagai maksud hidup kami, dan matikanlah kami dalam dakwah, Ya Allah, lapangkanlah dada kami untuk menerima Islam...

Muhasabah dan Tausiyah

Allah Mengajarkan Cinta


Pernahkah hatimu merasakan kekuatan mencintai
Kamu tersenyum meski hatimu terluka karena yakin ia milikmu,
Kamu menangis kala bahagia bersama karena yakin ia cintamu
Cinta melukis bahagia, sedih, sakit hati, cemburu, berduka
Dan hatimu tetap diwarnai mencintai, itulah dalamnya cinta

read more...

Sibukkanlah dirimu dengan mengingat Allah

Kehidupan ini berlalu sangat cepat... Malaikat maut yang diserahi tugas akan segera mencabut nyawa kita, mari bersegeralah bertindak selama jantung kita masih berdetak...kita sekali-kali tidak dapat mengundurkannya barang sejenak...

Jiwa....

Allah menggabungkan dua jiwa, yakni jiwa jahat dan jiwa yang tenang sekaligus dalam diri manusia, dan mereka saling bermusuhan dalam diri seorang manusia. Disaat salah satu melemah, maka yang lain menguat. Perang antar keduanya berlangsung terus hingga si empunya jiwa meninggal dunia. Adalah sungguh merugi orang-orang yang jiwa jahatnya menguasai tubuhnya. Seperti sabda Rasulullah, "..barang siapa yang diberi petunjuk Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkannya maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk". Sifat lalai, tidak mau belajar agama, sombong dan tidak peduli merupakan beberapa cara untuk membiarkan jiwa jahat dalam tubuh kita berkuasa. Sedangkan sifat rendah hati, mau belajar, mau melakukan instropeksi (muhasabah) merupakan cara untuk memperkuat jiwa kebaikan (jiwa tenang) yang ada dalam tubuh kita.
~Ibnul Qayyim Al Jauziyyah~

Allah adalah segalanya



Laa Ilaha Ilallah, tiada Ilah kecuali hanya Allah semata. Tidak ada yang membuat tenang, kecuali hanya Allah saja. Tidak ada tempat berlindung, kecuali hanya Allah saja. Tidak ada yang selalu dirindukan, kecuali hanya Allah saja. Tidak ada yang dicintai, kecuali hanya Allah saja.

Al-Miizan: Timbangan dari segala perbuatan

"Kami akan memasang timbangan-timbangan yang tepat pada hari kiamat". [Al-Anbiya : 47]
"Adapun orang yang berat timbangan-timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.".
[Al-Qari'ah : 6-9]

Isi ulang imanmu, jangan di tunda lagi!

Bila engkau jarang berdzikir mengingat Allah dan maka akan tumbuh titik hitam dihatimu yang menyebabkan engkau cenderung berbuat maksiat dan merasa jauh dari nilai-nilai agama.

Jadilah cahaya yang selalu menyinari







Jika engkau bertanya bagaimana menyalakan cahaya di dalam diri engkau? Jawabnya mudah, dekatkanlah diri engkau dengan sumber cahaya yang membuat diri engkau bercahaya. Semakin dekat engkau dengan sumber cahaya semakin bersinar terang diri engkau. Semakin engkau jauh dari sumber cahaya, semakin gelap hidup engkau.

Hidup seseorang sangat ditentukan oleh cara berpikirnya dan cara bertindaknya. Jika cara berpikir dan cara bertindaknya diterangi oleh cahaya Ilahi Robbi maka dampak yang ditimbulkan adalah kebahagiaan bagi sekelilingnya. Namun sebaliknya, jika cara berpikir dan cara bertindaknya diselimuti kegelapan dampak yang ditimbulkan adalah penderitaan bagi sekelilingnya.

Bagi orang yang hidupnya bercahaya, sudah tidak lagi memikirkan dirinya sendiri sebab dirinya sudah menjadi lentera yang terus menerus menyala, mengajarkan, menyembuhkan dan menyinari jalan bagi orang-orang yang hidup dalam kegelapan. Tiada lagi kata yang sanggup untuk menggambarkan kebaikan, ketulusan, keikhlasan, kedermawanan, kearifan & kasih sayangnya untuk sesama.

Maukah engkau menjadi cahaya dalam kehidupan ini ?












Dalam hening lamunanku dalam setiap denyut nadiku hatiku berontak, seraya berteriak hilangkah indahnya jiwa itu… jiwa yang slalu agungkan namaMu disetiap nafasku jiwa yang slalu suci ikhlas menyembahMu…

Kini kembali tersadar merenung tuk dapatkan kembali cahayaMu seakan kalimat-kalimat tauhid itu tidaklah cukup tidaklah puas jiwa yang hina ini tuk slalu memujaMu Yaa Rabbi… tidaklah cukup waktu dan ilmu yang ku punya tuk dengungkan, tuk lafadzkan kalimat-kalimat muliaMu Yaa Wahiid, Yaa Jabbar!

Namun taklah pula sering kuingat Engkau dikala ku senang, dikala ku sedih mengingkatkan betapa hinanya diri ini diri yang tiada pandai bersyukur atas segala nikmatMu walaupun takkan luput Engkau menyayangiku memberkahi aku tanpa batas jarak dan waktu Engkaulah Tuhanku Yaa Allah… dengan segenap jiwa ragaku dengan setulus niat suci dan asaku Segala puji bagiMu, segala hatur hormat dan pujaku atasMu… Laa ilaaha Illallah, Muhammadar Rasulullah Yaa Samii’ul ‘aliim…





Islam adalah??

Allah Allah Azza wa Jalla berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" [QS. Ar-ruum: 30]

Touching your heart ^_^

Seperti lilin yang menerangi dengan cahayanya didalam kamar hati seseorang.
Ya Robb... Jadikanlah Al-Quran cahaya dalam hatiku....


Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.
[QS. Al-A'raaf: 204]


Banggalah karena kita adalah seorang MUSLIM...


Allah mengilhamkan ilmu kepada siapa saja yg Ia kehendaki


Jika engkau ingin mengetahui kedekatan dirimu kepada Allah, lihatlah hatimu, rasakanlah apa yang Allah telah berikan kepada hatimu

Asmaul Husna

Dia-lah ALLAH yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang Membentuk Rupa, yang Mempunyai Nama-Nama yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. Al-Hasyr: 24)

Hanya milik ALLAH asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. Al-A'râf: 180)


Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
[QS.Al-Maaidah: 54]

True Love

"Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala cemburu dan cemburunya Allah bila seseorang mendatangi apa yang Allah haramkan atasnya."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Why ?

Karena Islam adalah agama rahmat. Yang menjadi tuntunan bagi manusia untuk mengisi hidupnya, bukan hanya untuk kebahagiaan kehidupan dunia, namun juga untuk meniti jalan menuju mardhatillah, kebahagiaan sejati di akhirat nanti. Ia bukan saja agama yang mengatur kemaslahatan manusia dalam hubungannya dengan Allah SWT Sang Pencipta, namun juga dalam berhubungan dengan manusia lain serta alam semesta

 

No israel product

Sadarkah kalian jika membeli produk yahudi sama saja dengan berinfaq kepada musuh kita untuk membeli peluru yang merobek jantung saudara kita sendiri.

Dan janganlah kalian menjadi pengikut para musuh Allah sebab lama tidaknya kalian pasti akan dihadapkan dipengadilan Allah untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kalian itu, dengarlah dan dengar.. sebelum kalian meyesal dengan penyesalan yang abadi.



Info produk yahudi klik disini

My Partner

Best resolution 1024 x 768 in mozilla firefox

Ahlan wasahlan on my personal weblog


FASE BULAN SAAT INI


Jazakumullah kepada yang telah berkunjung ke halaman ini, semoga bermanfaat bagi yang membacanya

yang sudah berkunjung:
Syukran Jazilan kathiroh ^_^

Recent Blog Post





“Katakanlah: Sesungguhnya inilah jalanku, aku berdakwah (menyeru manusia) kepada agama Allah di atas ilmu. Yang menjalankan demikian adalah aku dan orang-orang yang mengikuti jejakku. Dan Maha Suci Allah dan aku tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik (yakni tidak termasuk orang yang menyekutukan Allah dengan yang lainnya).” (Yusuf: 108)

“Barangsiapa yang masih tetap hidup dari kalian sepeninggal aku, maka sungguh dia akan melihat perselisihan yang keras. Oleh sebab itu wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ur rasyidin, gigitlah sunnah para khalifah itu dengan gigi gerahammu.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam kitab As-Sunnah hadits ke 55).





Perintah Agar Berpegang Kepada As-Sunnah

Saturday, April 19, 2008

Pengertian As-Sunnah
Yang dimaksud As-Sunnah di sini adalah Sunnah Nabi, yaitu segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuannya (terhadap perkataan atau perbuatan para sahabatnya) yang ditujukan sebagai syari’at bagi umat ini. Termasuk didalamnya apa saja yang hukumnya wajib dan sunnah sebagaimana yang menjadi pengertian umum menurut ahli hadits. Juga ‘segala apa yang dianjurkan yang tidak sampai pada derajat wajib’ yang menjadi istilah ahli fikih (Lihat Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil Aqaid wa al Ahkam karya As-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal.
11).


As-Sunnah atau Al-Hadits merupakan wahyu kedua setelah Al-Qur’an
Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah :
“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur`an dan (sesuatu) yang serupa dengannya.” -yakni As-Sunnah-, (H.R. Abu Dawud no.4604 dan yang lainnya dengan sanad yang shahih, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad IV/130)

Para ulama juga menafsirkan firman Allah :
“…dan supaya mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah” (Al BAqarah
ayat 129)

Al-Hikmah dalam ayat tersebut adalah As-Sunnah seperti diterangkan oleh Imam As-Syafi`i, “Setiap kata al-hikmah dalam Al-Qur`an yang dimaksud adalah As-Sunnah.” Demikian pula yang ditafsirkan oleh para ulama yang lain. ( Al-Madkhal Li Dirasah Al Aqidah Al-Islamiyah hal. 24)


As-Sunnah Terjaga Sampai Hari Kiamat
Diantara pengetahuan yang sangat penting, namun banyak orang melalaikannya, yaitu bahwa As-Sunnah termasuk dalam kata ‘Adz-Dzikr’ yang termaktub dalam firman Allah Al-Qur`an surat al-Hijr ayat 9, yang terjaga dari kepunahan dan ketercampuran dengan selainnya, sehingga dapat dibedakan mana yang benar-benar As-Sunnah dan mana yang bukan. Tidak seperti yang di sangka oleh sebagian kelompok sesat, seperti Qadianiyah (Kelompok pengikut Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiani yang mengaku sebagai nabi, yang muncul di negeri India pada masa penjajahan Inggris) dan Qur`aniyun (Kelompok yang mengingkari As-Sunnah, dan hanya berpegang pada Al-Qur’an), yang hanya mengimani (meyakini) Al-Qur`an namun menolak As-Sunnah. Mereka beranggapan salah (dari sini nampak sekali kebodohan mereka akan Al Qur’an, seandainya mereka benar-benar mengimani Al Qur’an sudah pasti mereka akan mengimani As-Sunnah, karena betapa banyak ayat Al Qur’an yang memerintahkan untuk mentaati Rasulullah yang sudah barang tentu menunjukkan perintah untuk mengikuti As-Sunnah) tatkala mengatakan bahwa As-Sunnah telah tercampur dengan kedustaan manusia; tidak lagi bisa dibedakan mana yang benar-benar As-Sunnah dan mana yang bukan. Sehingga, mereka menyangka, setelah wafatnya Rasulullah, kaum muslimin tidak mungkin lagi mengambil faedah dan merujuk kepada as-Sunnah.( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi Al Aqaid wal Ahkam hal. 16)

Dalil-dalil yang Menunjukkan Terpeliharanya As-Sunnah:

Pertama:
Firman Allah:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr:9) Adz-Dzikr dalam ayat ini mencakup Al-Qur’an dan bila diteliti dengan cermat- mencakup pula As-Sunnah.

Sangat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa seluruh sabda Rasulullah yang berkaitan dengan agama adalah wahyu dari Allah sebagaimana disebutkan dalam
firman-Nya:
“Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (Q.S. An-Najm:3)

Tidak ada perselisihan sedikit pun di kalangan para ahli bahasa atau ahli syariat bahwa setiap wahyu yang diturunkan oleh Allah merupakan Adz-Dzikr. Dengan demikian, sudah pasti bahwa yang namanya wahyu seluruhnya berada dalam penjagaan Allah; dan termasuk di dalamnya As-Sunnah.

Segala apa yang telah dijamin oleh Allah untuk dijaga, tidak akan punah dan tidak akan terjadi penyelewengan sedikitpun. Bila ada sedikit saja penyelewengan, niscaya akan dijelaskan kebatilan penyelewengan tersebut sebagai konsekuensi dari penjagaan Allah. Karena seandainya penyelewengan itu terjadi sementara tidak ada penjelasan akan kebatilannya, hal itu menunjukkan ketidak akuratan firman Allah yang telah menyebutkan jaminan penjagaan. Tentu saja yang seperti ini tidak akan terbetik sedikitpun pada benak seorang muslim yang berakal sehat.

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa agama yang dibawa oleh Muhammad ini pasti terjaga. Allah sendirilah yang bertanggung jawab menjaganya; dan itu akan terus berlangsung hingga akhir kehidupan dunia ini ( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi al Aqaid wa Al Ahkam, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal. 16-17)

Kedua:
Allah menjadikan Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul, serta menjadikan syari’at yang dibawanya sebagai syari’at penutup. Allah memerintahkan kepada seluruh manusia untuk beriman dan mengikuti syari’at yang dibawa oleh Muhammad sampai Hari Kiamat, yang hal ini secara otomatis menghapus seluruh syari’at selainnya. Dan adanya perintah Allah untuk menyampaikannya kepada seluruh manusia, menjadikan syariat agama Muhammad tetap abadi dan terjaga. Adalah suatu kemustahilan, Allah membebani hamba-hamba-Nya untuk mengikuti sebuah syari’at yang bisa punah. Sudah kita maklumi bahwa dua sumber utama syari’at Islam adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Maka bila Al-Qur’an telah dijamin keabadiannya, tentu As-Sunnah pun demikian ( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi al Aqaid wa Al Ahkam, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal. 19-20)

Ketiga:
Seorang yang memperhatikan perjalanan umat Islam, niscaya ia akan menemukan bukti adanya penjagaan As-Sunnah. Diantaranya sebagai berikut (Al Madkhal li Ad Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah, hal. 25):

(a) Perintah Nabi kepada para sahabatnya agar menjalankan As-Sunnah.

(b) Semangat para sahabat dalam menyampaikan As-Sunnah.

(c) Semangat para ulama di setiap zaman dalam mengumpulkan As-Sunnah dan menelitinya sebelum mereka menerimanya.

(d) Penelitian para ulama terhadap para periwayat As-Sunnah.

(e) Dibukukannya Ilmu Al Jarh wa At Ta’dil.( Ilmu yang membahas penilaian
para ahli hadits terhadap para periwayat hadits, baik berkaitan dengan
pujian maupun celaan, Pen.)

(f) Dikumpulkannya hadits–hadits yang cacat, lalu dibahas sebab-sebab
cacatnya.

(g) Pembukuan hadits-hadits dan pemisahan antara yang diterima dan yang
ditolak.

(h) Pembukuan biografi para periwayat hadits secara lengkap.


Wajib merujuk kepada As-Sunnah dan haram menyelisihinya
Pembaca yang budiman, sudah menjadi kesepakatan seluruh kaum muslimin pada generasi awal, bahwa As-Sunnah merupakan sumber kedua dalam syari’at Islam di semua sisi kehidupan manusia, baik dalam perkara ghaib yang berupa aqidah dan keyakinan, maupun dalam urusan hukum, politik, pendidikan dan lainnya.

Tidak boleh seorang pun melawan As-Sunnah dengan pendapat, ijtihad maupun qiyas. Imam Syafi’i rahimahullah di akhir kitabnya, Ar-Risalah berkata, “Tidak halal menggunakan qiyas tatkala ada hadits (shahih).” Kaidah Ushul menyatakan, “Apabila ada hadits (shahih) maka gugurlah pendapat”, dan juga kaidah “Tidak ada ijtihad apabila ada nash yang (shahih)”. Dan perkataan-perkataan di atas jelas bersandar kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.


Perintah Al-Qur`an agar berhukum dengan As-Sunnah
Di dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk berhukum dengan As-Sunnah, diantaranya:

1. Firman Allah :
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki maupun perempuan mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan dalam urusan mereka, mereka memilih pilihan lain. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah nyata-nyata sesat.” (Q.S. Al Ahzab: 36)

2. Firman Allah :
“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 49:1)

3. Firman Allah :
“Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Q.S. Ali Imran: 32)

4. Firman Allah :
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; janganlah kamu berbantah-bantahan, karena akan menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al Anfal: 46)

5. Firman Allah :
“Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang ia kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya dan mendapatkan siksa yang menghinakan.” (Q.S. An Nisa’: 13-14)

Hadits-hadits yang memerintahkan agar mengikuti Nabi dalam segala hal diantaranya:

1. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:
“Setiap umatku akan masuk Surga, kecuali orang yang engan,” Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulallah, siapakah orang yang enggan itu?’ Rasulullah menjawab, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk Surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku dialah yang enggan”. (HR.Bukhari dalam kitab al-I’tisham) (Hadits no. 6851).

2. Abu Rafi’ mengatakan bahwa Rasulullah bersabda :
“Sungguh, akan aku dapati salah seorang dari kalian bertelekan di atas sofanya, yang apabila sampai kepadanya hal-hal yang aku perintahkan atau aku larang dia berkata, ‘Saya tidak tahu. Apa yang ada dalam Al-Qur`an itulah yang akan kami ikuti”, (HR Imam Ahmad VI/8 , Abu Dawud (no. 4605), Tirmidzi (no. 2663), Ibnu Majah (no. 12), At-Thahawi IV/209).

3. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:
“Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya mendatangiku di haudh (Sebuah telaga di surga, Pen.).” (HR. Imam Malik secara mursal (Tidak menyebutkan perawi sahabat dalam sanad) Al-Hakim secara musnad (Sanadnya bersambung dan sampai kepada Rasulullah ) – dan ia menshahihkannya-) Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (no. 1594), dan Al-HakimAl Hakim dalam al-Mustadrak (I/172).


Kesimpulan :
  1. Tidak ada perbedaan antara hukum Allah dan hukum Rasul-Nya, sehingga tidak diperbolehkan kaum muslimin menyelisihi salah satu dari keduanya. Durhaka kepada Rasulullah berarti durhaka pula kepada Allah, dan hal itu merupakan kesesatan yang nyata.
  2. Larangan mendahului (lancang) terhadap hukum Rasulullah sebagaimana kerasnya larangan mendahului (lancang) terhadap hukum Allah.
  3. Sikap berpaling dari mentaati Rasulullah merupakan kebiasaan orang-orang kafir.
  4. Sikap rela/ridha terhadap perselisihan, -dengan tidak mau mengembalikan penyelesaiannya kepada As-Sunnah- merupakan salah satu sebab utama yang meruntuhkan semangat juang kaum muslimin, dan memusnahkan daya kekuatan mereka.
  5. Taat kepada Nabi merupakan sebab yang memasukkan seseorang ke dalam Surga; sedangkan durhaka dan melanggar batasan-batasan (hukum) yang ditetapkan oleh Nabi merupakan sebab yang memasukkan seseorang kedalam Neraka dan memperoleh adzab yang menghinakan.
  6. Sesungguhnya Al-Qur`an membutuhkan As-Sunnah (karena ia sebagai penjelas Al-Qur’an); bahkan As-Sunnah itu sama seperti Al-Qur`an dari sisi wajib ditaati dan diikuti. Barangsiapa tidak menjadikannya sebagai sumber hukum berarti telah menyimpang dari tuntunan Rasulullah
  7. Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah akan menjaga kita dari penyelewengan dan kesesatan. Karena, hukum-hukum yang ada di dalamnya berlaku sampai hari kiamat. Maka tidak boleh membedakan keduanya.

Referensi:
  1. Al-Hadits Hujjatun bi nafsihi fil Aqaid wa Al Ahkam, karya as-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cet. III/1400 H, Ad-Dar As-Salafiyah, Kuwait.
  2. Al-Madkhal li Ad Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah ‘ala Madzhab Ahli As Sunnah, karya Dr. Ibrahim bin Muhammad Al-Buraikan, penerbit Dar As-Sunnah, cet. III.

Wallahu A’lam .

Diambil dari Majalah Fatawa

Sumber: http://muslim.or.id/?p=5

Posted at 04:52 am by khadafi
Post comment |

Mewaspadai Bahaya Tasawuf HAKIKAT TASAWUF DAN SUFI

Ana ingin menyampaikan tulisan ini yang sesungguhnya sangat riskan sekali bagi aqidah kita yang mana bila menyimpang sedikit saja dari Al-Qur'an dan As-sunah bisa membuat orang tersebut keluar dari Islam, semoga dengan tulisan ini Allah senantiasa menunjuki kita kepada aqidah yang murni yaitu sesuai dengan Al-Qur'an dan As-sunah Nabi.

Bagi seorang yang ingin mengikuti sebuah paham atau kelompok hendaknya dia mengetahui terlebih dahulu mana pemahaman yg benar dan mana pemahaman yg salah. Banyak kita saksikan seseorang kebingungan bila dia mendengar atau membaca pernyataan bahwa: Ini adalah pemahaman yang sesat dan itu adalah pemahaman yang menyeleweng! Mengapa dia bingung. Hal itu terjadi tidak lain karena dia belum mengetahui perkara yg benar dan yg salah. Kebingungan ini tidak hanya melanda orang awam saja. Akan tetapi para pelajar, mahasiswa, dan kalangan intelek pun mengalami hal yg sama. Untuk itu sudah seharusnya seorang itu terlebih dahulu mengetahui kebenaran sehingga bila diajak berbicara tentang firqah-firqah sesat semacam syi’ah, mu’tazilah, jahmiyah, dan lain-lainnya tidak akan merasa heran. Sudah semestinya seorang Muslim mempelajari kebenaran yang terdapat pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dan bagaimana sikapnya terhadap bentuk ibadah seperti ini.

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang yang arif dan bijaksana. Mereka tidak menghukumi kelompok atau perorangan berdasarkan hawa nafsu atau karena sakit hati tetapi dengan ilmu dan bukti-bukti otentik yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan semua makhluk. Berapa banyak orang2 sufi yg berpenampilan sederhana dan zuhud tidak luput dari kritikan dan kecaman pedas dari para ulama. Mereka bisa menipu orang awam tapi jangan harap bisa menipu ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kalau anda mau dengar dan belajar tentang sejarah munculnya tasawuf dan Sufi, berikut ini ana coba beri ulasan tentang asal mula ajaran tasawuf, siapa yg menyampaikan, hakikatnya dan penyimpangannya terhadap aqidah.


Sejarah Munculnya Tasawuf dan Sufi
Tasawuf (تَصَوُّف) diidentikkan dengan sikap berlebihan dalam beribadah, zuhud dan wara’ terhadap dunia. Pelakunya disebut Shufi (selanjutnya ditulis Sufi menurut ejaan yang lazim, red) (صُوْفِيٌّ), dan jamaknya adalah Sufiyyah (صُوْفِيَّةٌ). Istilah ini sesungguhnya tidak masyhur di jaman Rasulullah, shahabat-shahabatnya, dan para tabi’in. Sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Adapun lafadz Sufiyyah bukanlah lafadz yang masyhur pada tiga abad pertama Islam. Dan setelah masa itu, penyebutannya menjadi masyhur.” (Majmu’ Fatawa, 11/5)

Bashrah, sebuah kota di Irak, merupakan tempat kelahiran Tasawuf dan Sufi. Di mana sebagian ahli ibadahnya mulai berlebihan dalam beribadah, zuhud, dan wara’ terhadap dunia (dengan cara yang belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah), hingga akhirnya memilih untuk mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuf/صُوْفٌ ).
Meski kelompok ini tidak mewajibkan tarekatnya dengan pakaian semacam itu, namun atas dasar inilah mereka disebut dengan “Sufi”, sebagai nisbat kepada Shuf (صُوْفٌ). Jadi, lafadz Sufi bukanlah nisbat kepada Ahlush Shuffah yang ada di jaman Rasulullah, karena nisbat kepadanya adalah Shuffi (صُفِّيٌ). Bukan pula nisbat kepada shaf terdepan di hadapan Allah, karena nisbat kepadanya adalah Shaffi (صَفِّيٌ).

Demikian juga bukan nisbat kepada makhluk pilihan Allah
الصَّفْوَةُ مِنْ خَلْقِ اللهِ
karena nisbat adalah Shafawi ز(صَفَوِيٌّ) . Dan bukan pula nisbat kepada Shufah bin Bisyr (salah satu suku Arab) meski secara lafadz bisa dibenarkan. Namun secara makna sangatlah lemah, karena antara suku tersebut dengan kelompok Sufi tidak berkaitan sama sekali.
Para ulama Bashrah yang mengalami masa kemunculan kelompok sufi, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana diriwayatkan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani rahimahullah dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin rahimahullah, bahwasanya telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba.

Maka beliau berkata: “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al-Masih bin Maryam! Maka petunjuk Nabi kita lebih kita cintai, beliau biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun, dan yang selainnya.” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 5, 6, 16)

Asy-Syaikh Muhammad Aman bin 'Ali Al-Jami rahimahullah berkata: “Demikianlah munculnya jahiliah Tasawuf, dan dari kota inilah (Bashrah) ia tersebar.” (At-Tasawuf Min Shuwaril Jahiliah, hal. 5)


Siapakah Peletak Tasawuf ?
Ibnu ‘Ajibah seorang Sufi Fathimi, mengklaim bahwasanya peletak Tasawuf adalah Rasulullah sendiri. Yang mana beliau –menurut Ibnu ‘Ajibah - mendapatkannya dari Allah melalui wahyu dan ilham. Kemudian Ibnu ‘Ajibah berbicara panjang lebar tentang permasalahan tersebut dengan disertai bumbu-bumbu keanehan dan kedustaan. Ia berkata: “Jibril pertama kali turun kepada Rasulullah dengan membawa ilmu syariat, dan ketika ilmu itu telah mantap, maka turunlah ia untuk kedua kalinya dengan membawa ilmu hakikat. Beliau pun mengajarkan ilmu hakikat ini pada orang-orang khususnya saja. Dan yang pertama kali menyampaikan Tasawuf adalah Ali bin Abi Thalib , kemudian Al Hasan Al Bashri rahimahullah menimba darinya.” (Iqazhul Himam Fi Syarhil Hikam, hal.5 dinukil dari At Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyah, hal. 8).

Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahimahullah berkata: “Perkataan Ibnu ‘Ajibah ini merupakan tuduhan keji lagi lancang terhadap Rasulullah , ia menuduh dengan kedustaan bahwa beliau menyembunyikan kebenaran. Dan tidaklah seseorang menuduh Nabi dengan tuduhan tersebut, kecuali seorang zindiq yang keluar dari Islam dan berusaha untuk memalingkan manusia dari Islam jika ia mampu, karena Allah telah perintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikan kebenaran tersebut dalam firman-Nya (artinya): “Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Rabbmu, dan jika engkau tidak melakukannya, maka (pada hakikatnya) engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.” (Al Maidah : 67)

Beliau juga berkata: “Adapun pengkhususan Ahlul Bait dengan sesuatu dari ilmu dan agama, maka ini merupakan pemikiran yang diwarisi oleh orang-orang Sufi dari pemimpin-pemimpin mereka (Syi’ah). Dan benar-benar Ali bin Abi Thalib sendiri yang membantahnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim rahimahullah dari hadits Abu Thufail Amir bin Watsilah ia berkata: “Suatu saat aku pernah berada di sisi Ali bin Abi Thalib , maka datanglah seorang laki-laki seraya berkata: “Apa yang pernah dirahasiakan oleh Nabi kepadamu?” Maka Ali pun marah lalu mengatakan: “Nabi belum pernah merahasiakan sesuatu kepadaku yang tidak disampaikan kepada manusia! Hanya saja beliau pernah memberitahukan kepadaku tentang empat perkara. Abu Thufail berkata: “Apa empat perkara itu wahai Amirul Mukminin?” Beliau menjawab: “Rasulullah bersabda: “(Artinya) Allah melaknat seorang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat seorang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat seorang yang melindungi pelaku kejahatan, dan Allah melaknat seorang yang mengubah tanda batas tanah.” (At Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyyah, hal. 7-8).


Hakikat Tasawuf
Bila kita telah mengetahui bahwasanya Tasawuf ini bukanlah ajaran Rasulullah dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib , maka dari manakah ajaran Tasawuf ini ?

Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: “Tatkala kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad , dan juga dalam sejarah para shahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha. (At Tashawwuf Al Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28).

Asy Syaikh Abdurrahman Al Wakil rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Tasawuf merupakan tipu daya syaithan yang paling tercela lagi hina, untuk menggiring hamba-hamba Allah di dalam memerangi Allah dan Rasul-Nya . Sesungguhnya ia (Tasawuf) merupakan topeng bagi Majusi agar tampak sebagai seorang Rabbani, bahkan ia sebagai topeng bagi setiap musuh (Sufi) di dalam memerangi agama yang benar ini. Periksalah ajarannya ! niscaya engkau akan mendapati padanya ajaran Brahma (Hindu), Buddha, Zaradisytiyyah, Manawiyyah, Dishaniyyah, Aplatoniyyah, Ghanushiyyah, Yahudi, Nashrani, dan Berhalaisme Jahiliyyah.” (Muqaddimah kitab Mashra’ut Tashawwuf, hal. 19).2


Beberapa Bukti Kesesatan Ajaran Tasawuf
Di antara sekian banyak kesesatan ajaran Tasawuf adalah:

1. Wihdatul Wujud, yakni keyakinan bahwa Allah menyatu dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Demikian juga Al-Hulul, yakni keyakinan bahwa Allah dapat menjelma dalam bentuk tertentu dari makhluk-Nya (inkarnasi).
Al-Hallaj, seorang dedengkot sufi, berkata: “Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang makan dan minum.” (Dinukil dari Firaq Al-Mua’shirah, karya Dr. Ghalib bin 'Ali Iwaji, 2/600)

Ibnu ‘Arabi, tokoh sufi lainnya, berkata: “Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal? Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang diberi kewajiban?” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah dinukil dari Firaq Al-Mu’ashirah, hal. 601)

Muhammad Sayyid At-Tijani meriwayatkan (secara dusta, pen) dari Nabi bahwasanya beliau bersabda:
رَأَيْتُ رَبِّي فِي صُوْرَةِ شَابٍ
“Aku melihat Rabbku dalam bentuk seorang pemuda.”
(Jawahirul Ma’ani, karya 'Ali Harazim, 1/197, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 615)

Padahal Allah I telah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِه شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي ...
“Berkatalah Musa: 'Wahai Rabbku nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.' Allah berfirman: 'Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihatku'…" (Al-A’raf: 143)

2. Seorang yang menyetubuhi istrinya, tidak lain ia menyetubuhi Allah
Ibnu ‘Arabi berkata: “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah” (Fushushul Hikam).1 Betapa kufurnya kata-kata ini…, tidakkah orang-orang Sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini?

3. Keyakinan kafir bahwa Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah, masing-masing saling menyembah kepada yang lainnya
Ibnu ‘Arabi berkata: “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya. Dan Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah)

Padahal Allah telah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ إِلاَّ آتِى الرَّحْمَنِ عَبْدًا
“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.” (Maryam: 93)

4. Keyakinan tidak ada bedanya antara agama-agama yang ada
Ibnu ‘Arabi berkata: “Sebelumnya aku mengingkari kawanku yang berbeda agama denganku. Namun kini hatiku bisa menerima semua keadaan, tempat gembala rusa dan gereja pendeta, tempat berhala dan Ka’bah, lembaran-lembaran Taurat dan Mushaf Al Qur’an.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah).

Jalaluddin Ar-Rumi, seorang tokoh sufi yang sangat kondang, berkata: “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti. Bagiku, tempat ibadah adalah sama… masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala.”

Padahal Allah berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

5. Bolehnya menolak hadits yang jelas-jelas shahih
Ibnu ‘Arabi berkata: “Kadangkala suatu hadits shahih yang diriwayatkan oleh para perawi-perawinya, tampak hakikat keadaannya oleh seseorang mukasyif (Sufi yang mengetahui ilmu ghaib dan batin). Ia bertanya kepada Nabi secara langsung: “Apakah engkau mengatakannya?” Maka beliau mengingkarinya seraya berkata: “Aku belum pernah mengatakannya dan belum pernah menghukuminya dengan shahih.” Maka diketahuilah, dari sini lemahnya hadits tersebut dan tidak bisa diamalkan sebagaimana keterangan dari Rabbnya walaupun para ulama mengamalkannya berdasarkan snadnya yang shahih.” (Al-Futuhat Al-Makkiyah).1

6. Pembagian ilmu menjadi syariat dan hakikat. Di mana bila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah. Oleh karena itu, menurut keyakinan Sufi, gugur baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini.

Mereka berdalil dengan firman Allah I dalam Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
yang mana mereka terjemahkan dengan: “Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu keyakinan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman, bahwasanya perkataan tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian isi Al Kitab dan mengkufuri sebagian lainnya. Sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat. Hakikat tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini, pen).” (Majmu’ Fatawa, 11/401)

Beliau juga berkata: “Adapun pendalilan mereka dengan ayat tersebut, maka justru merupakan bumerang bagi mereka. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: 'Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batas akhir beramal bagi orang-orang beriman selain kematian', kemudian beliau membaca Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99, yang artinya: 'Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu kematian'."

Beliau melanjutkan: "Dan bahwasanya 'Al-Yaqin' di sini bermakna kematian dan setelahnya, dengan kesepakatan ulama kaum muslimin.” (Majmu Fatawa, 11/418)

7. Keyakinan bahwa ibadah kepada Allah itu bukan karena takut dari adzab Allah (an-naar/ neraka) dan bukan pula mengharap jannah Allah.

Padahal Allah I berfirman:
وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِيْنَ
“Dan peliharalah diri kalian dari an-naar (api neraka) yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” ('Ali Imran: 131)

وَسَارِعُوآ ِإلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada jannah (surga) yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” ('Ali Imran: 133)

8. Dzikirnya orang-orang awam adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah “الله / Allah”, “هُوَ / huwa”, dan “آه / aah” saja.

Padahal Rasulullah r bersabda:
أَفْضَلُ الذِّكْرَ لاَ إِلَهِ إِلاَّ اللهُ
“Sebaik-baik dzikir adalah لا إله إلا الله .” (HR. At-Tirmidzi, dari shahabat Jabir bin Abdullah t, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 1104).1

Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Dan barangsiapa yang beranggapan bahwa لا إله إلا الله adalah dzikirnya orang awam, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah “هُوَ / Huu”, maka ia seorang yang sesat dan menyesatkan.” (Risalah Al-'Ubudiyah, hal. 117-118, dinukil dari Haqiqatut Tasawuf, hal. 13)

9. Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu kasyaf (yang dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan ilmu ghaib.

Allah dustakan mereka dalam firman-Nya :
قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ
“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.” (An-Naml: 65)

10. Keyakinan bahwa Allah menciptakan Nabi Muhammad dari nur/ cahaya-Nya, dan Allah ciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad.

Padahal Allah berfirman :
فُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ ...
“Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku …” (Al-Kahfi: 110).

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلآئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِيْنٍ
“(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat.” (Shad: 71)

11. Keyakinan bahwa Allah I menciptakan dunia ini karena Nabi Muhammad.

Padahal Allah berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Demikianlah beberapa dari sekian banyak ajaran Tasawuf, yang dari ini saja, nampak jelas kesesatannya. Semoga Allah menjauhkan kita dari kesesatan-kesesatan tersebut …

Keterkaitan Antara Sufi dengan Kelompok “JI”
Keterkaitan antara Sufi dengan kelompok “JI” (Jama'ah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin) sangatlah erat karena pendiri kelompok “JI” ini adalah seorang Sufi. Jama'ah Tabligh, didirikan oleh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi seorang Sufi dari tarekat Jisytiyyah. Dan seiring bergulirnya waktu, Jama'ah Tabligh kemudian berbai’at di atas empat tarekat Sufi: Jisytiyyah, Qadiriyyah, Sahruwardiyyah, dan Naqsyabandiyyah.
(Lihat kitab Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, karya Asy-Syaikh Hasan Janahi, hal. 2, 12.)

Adapun Ikhwanul Muslimin, pendirinya adalah Hasan Al-Banna, seorang Sufi dari tarekat Hashafiyyah, sebagaimana yang ia katakan sendiri: “…Di Damanhur aku bergaul dengan kawan-kawan dari tarekat Hashafiyyah dan setiap malamnya aku selalu mengikuti acara hadhrah yang diadakan di Masjid At-Taubah…”

Ia juga berkata: “Terkadang kami berziarah ke daerah Azbah Nawam, karena di sana terdapat makam Asy-Syaikh Sayyid Sanjar, salah seorang dari tokoh tarekat Hashafiyyah.” (Mudzakkiratud Da’wah Wad Da’iyah, hal. 19, 23, dinukil dari kitab Fitnatut Takfir Wal Hakimiyah, karya Muhammad bin Abdullah Al-Husain, hal. 63-64)

Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber artikel sebagian ana kutip dari situs ini:
http://assalafy.org/al-ilmu.php?tahun2=44

Posted at 04:01 am by khadafi
Post comment |

Ajaran Tasawuf : Ciri Ibadah dan Agamanya

Oleh Syaikh Shalih Fauzan al Fauzan

Sikap Kalangan Tasawuf Dalam Ibadah Dan Agama

Orang-orang tasawuf khususnya generasi terakhir memiliki tata cara ibadah yang berbeda dari pedoman para salaf (ulama terdahulu) dan jauh meninggalkan Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka membangun agama dan ibadah mereka berdasarkan simbol-simbol dan istilah yang mereka buat-buat yang tersimpul dalam keterangan berikut :


1. Mereka hanya membatasi pelaksanaan ibadah berdasarkan rasa cinta dan mengabaikan sisi-sisi yang lain seperti rasa takut dan harap.
Sebagaimana yang diucapkan sebagian mereka: “Saya tidak beribadah kepada Allah karena mengharap surga, bukan juga karena takut neraka”.

Memang benar bahwa cinta merupakan hal yang sangat asasi untuk beribadah, akan tetapi ibadah tidak semata-mata berlandaskan cinta sebagaimana yang mereka sangka, dia merupakan satu sisi dari sekian banyak sisi selainnya, seperti rasa takut (khouf), harap (roja), merendah (Dzul), tunduk (Khudhu’), doa dan lain-lain. Ibadah adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :

إِسْمٌ جَامِعٌ لِمَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ اْلأَقْوَالِ وَاْلأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ
“Ungkapan yang meliputi setiap apa yang Allah cintai dan ridhoi baik dalam ucapan maupun perbuatan, yang zhahir (tampak) maupun yang bathin (tidak tampak)”.

Al Allamah Ibnu Qoyyim berkata :
وَعِبَـادَةُ الرَّحْمَنِ غَـايَةُ حُبِّهِ
مَـعَ ذُلِّ عَـابِدِهِ هُمَا قُطْبَانِ
وَعَلَيْـهِمَا فَلَكُ الْعِبَـادَةِ دَائِرٌ
مَـا دَارَ حَتَّى قَامَتْ الْقُطْبَانُ
Menyembah Allah merupakan puncak kecintaannya
Bersama kerendahan hamba-Nya, keduanya merupakan dua kutub
Dan di atas keduanya rotasi ibadah berputar.
Dia tidak berputar sebelum keduanya tegak.

Karena itu sebagian salaf berkata:
مَنْ عَبَدَ اللهَ بِالْحُبِّ وَحْدَهُ فَهُوَ زِنْدِيْقٌ، وَمَنْ عَبَدَهُ بِالرَّجَاءِ وَحْدَهُ فَهُوَ مُرْجِئٌ، وَمَنْ عَبَدَهُ بِالْخَوْفِ وَحْدَهُ فَهُوَ حَرُوْرِيٌّ، وَمَنْ عَبَدَهُ بِالْحُبِّ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ مُوَحِّدٌ.
“Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta semata maka dia adalah zindiq [9], dan siapa yang beribadah kepada Allah dengan raja’ [harapan] semata maka dia adalah murjiah [10] dan siapa yang beribadah kepada Allah dengan takut semata maka dia adalah haruri [11], dan siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta, harap dan takut, maka dia adalah mu’min sejati”

Dan Allah telah menerangkan bahwa para Nabi dan Rasul-Nya berdoa kepada rabb mereka dengan rasa takut dan harap dan bahwa mereka mengharap rahmat-Nya dan takut atas azab-Nya dan bahwa mereka berdoa kepadanya dengan harap dan cemas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Karena itu terdapat dalam kalangan (sufi) muta’akhirin (yang datang kemudian) yang berlebih-lebihan dalam masalah cinta hingga bagai orang yang kemasukan setan serta pengakuan-pengakuan yang menafikan ibadah”.

Beliau juga berkata : “Banyak orang-orang yang beribadah dengan pengakuan kecintaannya kepada Allah menempuh jalan yang bermacam-macam karena kebodohan mereka terhadap agama, baik dalam bentuk melampaui batasan-batasan Allah, atau mengabaikan hak-hak Allah atau dengan pengakuan-pengakuan bathil yang tidak ada hakikatnya”. [12]

Dia juga berkata: “Dan diantara mereka ada yang berlebih-lebihan dalam mendengarkan syair-syair cinta dan kerinduan. Memang sesunggunya itulah tujuan mereka, oleh karena itu Allah menurunkan ayat tentang cinta sebagi ujian bagi kecintaan mereka, sebagaimana firmannya :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ [آل عمرن: 31]

“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu”. (Ali Imran: 31)
Seseorang tidak dikatakan mencintai Allah kecuali bila dia mengikuti rasul-Nya dan ta’at kepadanya. Hal tersebut tidak akan terwujud kecuali dengan merealisasikan ibadah. Masalahnya banyak diantara mereka yang mengaku cinta akan tetapi keluar dari syariat dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian setelah itu berhujjah dengan khayalan-khayalan yang tidak cukup dalam pembahasan ini untuk menyebutkannya- hingga salah seorang diantara mereka menganggap gugurnya perintah atau menghalalkan yang haram baginya”.

Syaikhul Islam juga berkata: “Banyak diantara mereka yang sesat karena mengikuti perkara-perkara bid’ah seperti sikap zuhud, atau beribadah yang tidak berdasarkan ilmu dan cahaya dari Al-Quran dan As-Sunnah, sehingga mereka terjerumus sebagaimana terjerumusnya orang-orang Nashrani yang mengaku cinta kepada Allah tapi menyalahi syariatnya dan meninggalkan mujahadah (bersungguh-sungguh) dijalannya atau yang semacamnya”.

Dengan demikian maka jelaslah bahwa hanya mengandalkan sisi cinta tidak dinamakan sesuatu itu sebagai ibadah, bahkan bisa jadi justru akan membawa pelakunya kepada kesesatan dan keluar dari agama.


2. Kalangan sufi pada umumnya tidak menem-puh cara keberagamaan yang benar, yaitu beribadah dengan tidak merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah serta tidak meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mereka justru merujuk kepada selera mereka atau apa yang diajarkan guru-guru mereka lewat tarekat-tarekat, atau zikir dan wirid-wirid yang penuh bid’ah. Kadang-kadang mereka berdalil dengan kisah-kisah, mimpi-mimpi atau hadits-hadits maudhu’ [13] untuk mendukung pendapat mereka ketimbang berdalil dari Al-Quran dan As-Sunnah. Itulah landasan yang dibangun di atasnya “agama” sufi.

Sebagaimana diketahui bahwa sebuah ibadah tidak dikatakan ibadah yang shahih (benar) kecuali jika dia dibangun di atas landasan Al Quran dan As Sunnah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :
“Mereka orang-orang Sufi berpegang teguh dalam agama untuk bertaqarrub kepada rabb mereka seba-gaimana berpegang teguhnya orang-orang nashara terhadap ucapan-ucapan mutasyabih (samar) atau hikayat-hikayat yang tidak diketahui sejauh mana kebenaran yang menceritakannya, seandainyapun benar dia bukanlah orang yang ma’shum. Maka jadilah mereka pengekor dan guru-guru mereka sebagai peletak syariat bagi agama mereka sebagaimana orang-orang Nashrani menjadikan pendeta-pendeta mereka sebagai peletak syariat bagi agama mereka……”

Karena sumber tempat mereka merujuk dalam agama dan ibadah dengan tidak kepada Al-Quran dan As-Sunnah, maka akibatnya mereka terpecah belah berkelompok-kelompok, firman Allah Ta’ala :

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ
[الأنعام: 153]
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya…”. (Al An’am 153)

Jalan Allah hanya satu, tidak terbagi dan tidak terpecah belah, selainnya berarti jalan-jalan yang terpecah belah yang akan menceraiberaikan orang yang menempuhnya dan menjauhkannya dari jalan yang lurus (sirathal mustaqim). Masalah ini berlaku bagi kelompok tasawuf, karena setiap firqah (kelompok) memiliki caranya sendiri-sendiri, berbeda dari firqoh yang lain. Setiap firqah memiliki Syaikh (guru) yang mereka namakan syek tariqah (guru tarekat) yang menentukan kepada mereka pedoman yang berbeda dari pedoman firqah yang lainnya dan menjauh dari siratalmustaqim (jalan yang lurus). Dan Syaikh ini yang mereka sebut Syaikh tariqah memiliki wewenang mutlak untuk menentukan sedang mereka (murid-muridnya) hanya menjalankan apa yang dia ucapkan tanpa boleh membantahnya sama sekali . Bahkan hingga mereka berkata:
الْمُرِيْدُ مَعَ شَيْخِهِ يَكُوْنُ كَالْمَيِّتِ مَعَ غَاسِلِهِ
“Al-Murid [14] dihadapan Syaikhnya bagaikan mayat di-hadapan orang yang memandikannya”.

Kadang-kadang sebagian Syaikh tersebut mengaku bahwa apa yang diperintahkan kepada murid-murid dan pengikut-pengikutnya dia terima langsung dari Allah.


3. Termasuk ajaran tasawuf adalah berpegang teguh pada zikir-zikir atau wirid-wirid yang telah ditetapkan guru-guru mereka.
Mereka menjadikannya sebagai pegangan dan sarana beribadah dengan membacanya bahkan bisa jadi mereka lebih mengutamakannya daripada membaca Al-Quran. Mereka menamakannya sebagai zikrul khashshah (zikir untuk orang-orang khusus). Sedangkan zikir yang terdapat dalam Al-Quran dan As-Sunnah mereka namakan dengan zikirulammah (zikir untuk orang awam). Ucapan لا إله إلا الله bagi mereka adalah zikirulammah, sedangkan zikir khassah-nya adalah kalimat tunggal, yaitu lafaz: الله, dan zikir khassatul khashshah (yang lebih khusus lagi) adalah :هو (Dia).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Siapa yang menyatakan bahwa hal tersebut, yaitu ucapan:
لا إله إلا الله sebagai zikirulammah dan zikirulkhassah-nya adalah kata tunggal (الله), dan zikir yang lebih khususnya lagi (هو) yaitu isim dhomir (kata ganti) maka dia sesat dan menyesatkan. Jika mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala :
قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ[
الأنعام : 91]
“Katakan: “Allah” (yang menurunkannya), kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dengan kesesatannya” (Al An’am: 91)

Maka hal itu merupakan kekeliruan mereka yang paling nyata, bahkan merupakan upaya mereka yang mengubah-ubah kata dari makna yang sebenarnya. Karena kata (الله) disebut dalam ayat tersebut sebagai perintah atas pertanyaan dari ayat sebelumnya, yaitu firman Allah Ta’ala :

مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوْسَى نُوْراً وَهُدىً لِّلنَّاسِ
[الأنعام: 91]
“Siapakah yang menurunkan kitab Taurat yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia”

hingga firman Allah Ta’ala :
قُلِ اللهُ
“Katakanlah: Allah”
maksudnya Allah-lah yang menurunkan Al-Quran yang dibawa Musa alaihissalam.
Kata Allah merupakan mubtada’ (yang diterangkan) dan khobar-nya (yang menerangkan) adalah kalimat pertanyaan tersebut. Sebagai perbandingan misalnya jika anda bertanya: Siapa tetanggamu ?, maka dia menjawab: Zaid. Sedangkan kata tunggal baik tampak ataupun kata gantinya tidaklah dikatakan kalimat sempurna, bukan juga susunan yang dipahami (jumlah mufidah), tidak juga berkaitan dengan keimanan dan kekufuran, atau perintah dan larangan, tidak ada seorangpun dari ulama pendahulu yang me-nyebutkannya, tidak juga diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga memberikan ma’rifah (pemahaman) yang bermanfaat dalam hati atau keadaan. Dan ketika diberikan gambaran secara mutlak, maka dia tidak mengandung hukum nafy (peniadaan) dan itsbat (penetapan) [15] hingga sebagian mereka yang mengamalkan dengan kontinyu zikir dengan kata tunggal (الله) atau dengan: (هو) terjerumus dalam sebagian pemahamam atheis (tidak mengakui adanya Tuhan) atau semacam kepercayaan manunggaling (kepercayaan bersatunya Allah dengan makhluknya). Sedangkan apa yang disinyalir bahwa sebagian Syaikh berkata :
“Saya takut mati dalam keadaan antara nafy (meniadakan tuhan) dan itsbat (menetapkan Allah)”.

Sesungguhnya kondisi seperti itu tidak akan ditemui oleh yang mengucapkannya. Tidak diragukan bahwa dugaan tersebut terdapat kekeliruan, karena jika seseorang mati dalam kondisi tersebut (antara meniadakan Tuhan dan menetapkan Tuhan) maka dia mati dalam keadaan apa yang dia niatkan atau yang dia maksud, karena amal itu tergantung niatnya. Apalagi ada riwayat shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mentalqinkan orang yang sedang sekarat dengan ucapan : لا إله إلا الله, seraya bersabda :
» مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ «
“Siapa yang akhir ucapannya Laa Ilaaha Illallah, dia masuk syurga”

Seandainya apa yang dia sebutkan terlarang, niscaya orang yang sedang sekarat tidak di-talqinkan dengan kalimat yang dikhawatirkan dia meninggal dalam keadaan tidak terpuji. Karena itu zikir dengan kata tunggal (الله) atau kata ganti (هو) merupakan sesuatu yang jauh meninggalkan sunnah dan termasuk kepada bid’ah serta lebih dekat kepada penyesatan setan.

Karena siapa yang mengatakan :
يَا هُوَ يَا هُوَ atau هُوَ هُوَ
atau yang semacamnya, maka tempat kembali dari kata ganti tesebut tidak lain kecuali apa yang digambarkan hatinya, sedangkan hati bisa jadi mendapat petunjuk atau sesat. Pengarang kitab “Al-Fushush” telah menyusun suatu kitab yang diberi nama : "الهُو" (Sang Dia).
Sebagian mereka menyangka bahwa maksud firman Allah Ta’ala :
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهُ إِلاَّ اللهُ
[آل عمران : 7]
“Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah”. (Ali Imran: 7)
adalah: tidak ada yang mengetahui tafsir dari nama ini yang ternyata dia selain Dia.
Kaum muslimin bahkan para pemikir sepakat bahwa hal tersebut merupakan kebatilan yang nyata. Bisa jadi ada sebagian yang memiliki pemahaman yang sama. Saya katakan kepada sebagian yang mengatakan hal seperti itu bahwa seandainya itu yang anda katakan maka niscaya ayatnya berbunyi: وما يعلم تأويل هو dengan terpisah [16], maksudnya kata (هو) ditulis terpisah dari kata (تأويل) ..


4. Sikap berlebih-lebihan kalangan tasawuf terhadap siapa yang mereka katakan para wali dan Syaikh yang bertentangan dengan aqidah Ahlus-sunnah waljamaah.
Aqidah Ahlussunnah Waljamaah adalah aqidah yang membela wali-wali Allah dan memerangi musuh-musuhnya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلَـوةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَـوةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
[المائدة : 55]
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)”.(Al Ma’idah: 55)

يَـأَيـُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَـاءَ
[الممتحنة : 1]
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia”. (Al Mutahanah: 1)
Wali-wali Allah adalah orang-orang beriman yang bertaqwa, yaitu mereka yang menegakkan shalat, menunaikan zakat dan mereka tunduk kepada-Nya. Kita wajib mencintai mereka, mengikuti jejak langkah mereka dan menghormati mereka. Kewalian bukan merupakan jatah bagi orang-orang tertentu, setiap mu’min yang bertaqwa adalah wali Allah Ta’ala, tetapi dia bukan orang yang ma’shum (terjaga) dari kesalahan. Inilah makna kewalian dan kewajiban mereka menurut pendapat Ahlussunnah Wal Jamaah.

Sedangkan kalangan tasawuf memiliki pengertian dan ciri-ciri sendiri mengenai wali, mereka menentu-kan status kewalian kepada orang-orang tertentu tanpa landasan syari’at atas kewalian mereka, bahkan bisa jadi mereka memberikan status wali kepada orang yang tidak diketahui keimanannya dan ketaqwaannya, atau justru dia dikenal sebagai wali dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai kewalian yang dimaksud dalam ajaran Islam, seperti sihir, tipu muslihat dan menghalalkan yang haram. Bahkan mereka kalangan tasauf lebih mengutamakan untuk memohon kepada para wali tersebut daripada kepada para nabi sebagaimana ucapan salah seorang diantara mereka:
مَقَامُ النُّبُوَّةِ فِي بَرْزَخٍ فُوَيْقَ الرَّسُوْلِ وَدُوْنَ الْوَلِيِّ
“Kedudukan kenabian dalam barzakh sedikit lebih tinggi dari kedudukan rasul dan lebih rendah dari wali“

Mereka juga berkata:
“Sesungguhnya para wali mengambil dari tempat malaikat mengambil sesuatu dari sumber itu yang kemudian dia wahyukan kepada para rasul”.
Mereka (kalangan sufi) juga mengaku bahwa para wali tersebut ma’shum.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Banyak manusia yang keliru dalam masalah ini sehingga dia mengira bahwa seseorang adalah wali Allah, dia juga mengira bahwa wali Allah adalah setiap orang yang perkataannya dan perbuatannya diterima dan dipegang meskipun bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, lalu mereka setuju dengan orang tersebut dan menentang apa yang Allah ajarkan lewat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah Allah wajibkan kepada seluruh hamba-Nya untuk membenarkan apa yang diberitakan dan mentaati apa yang diperintahkan. mereka (kalangan tasauf) menyerupai orang-orang Nashrani yang Allah katakan tentang mereka :
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَـهاً وَاحِداً، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ [التوبة : 31]
“Mereka menjadikan ulama, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka memper-tuhankan) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.
(At Taubah: 31)

Di dalam Al-Musnad dan dishahihkan oleh Turmuzi dari ‘Adi bin Hatim tentang tafsir ayat di atas ketika Nabi menyatakan hal itu (orang-orang Kristen yang menyembah pendeta-pendeta mereka), maka dia (‘Adi bin Hatim) berkata: Sungguh mereka tidak menyembah pendeta-pendetanya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bukankah mereka (pendeta-pendeta itu) menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan serta mengharamkan untuk mereka apa yang dihalalkan kemudian mereka menta’atinya?, itulah bentuk ibadah mereka kepada pendeta-pendetanya”.

Sikap orang-orang Nashrani ini banyak anda dapatkan pada kebanyakan dari mereka (orang-orang tasawuf): Misalnya adanya keyakinan bahwa seseorang yang menjadi wali Allah, dia dapat mengetahui berbagai perkara atau kejadian yang terjadi diluar adat kebiasaan, misalnya dengan menunjuk kepada seseorang, maka dia langsung mati, atau terbang di udara ke Mekkah, atau berjalan di atas air, atau memenuhi ketel dari udara, atau ada sebagian orang yang meminta pertolongan dengannya saat dia tidak ada atau setelah kematiannya kemudian disaksikan-nya bahwa orang itu mendatanginya dan memenuhi permintaannya, atau memberitahu manusia tentang barang yang kecurian, barang yang hilang, penyakit atau yang semacamnya. Semua hal tersebut bukan menunjukkan bahwa pelakunya adalah wali Allah.

Bahkan para ulama sepakat bahwa seseorang yang mampu terbang di udara atau jalan di atas air maka hendaklah kita tidak cepat terpesona sebelum melihat bagaimana dia mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap apa yang diperintahkan dan yang dilarang.

Karomah para wali Allah lebih agung dari semua perkara-perkara aneh tersebut. Kejadian-kejadian yang terjadi di luar adat kebiasaan manusia, pelakunya bisa jadi wali Allah dan bisa jadi musuh Allah, karena hal tersebut banyak terjadi pada orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, ahli kitab dan orang-orang munafik, dapat juga terjadi pada ahli bid’ah atau mungkin bersumber dari syetan. Karena itu seseorang tidak boleh menyangka bahwa siapa yang memiliki perkara aneh luar biasa maka dia adalah wali Allah. Akan tetapi wali Allah dapat dinilai dengan sifat-sifat, amal perbuatan dan tingkah laku mereka yang ditunjukkan oleh Al-Quran As-Sunnah. Mereka dapat juga diketahui berdasarkan cahaya Al Quran, hakekat keimanan yang tersembunyi dan syari’at Islam yang tampak.

Semua kejadian di atas (kejadian di luar adat kebiasaan manusia) dan yang semacamnya bisa saja terjadi pada seseorang yang tidak pernah berwudhu, tidak shalat fardhu, berkubang dengan najis dan bergaul dengan anjing, yang bersemedi di wc-wc, tempat-tempat kotor, kuburan dan tempat-tempat sampah. Baunya busuk, tidak bersuci dengan cara yang syar’i serta tidak bersih-bersih.

Jika seseorang dikenal berkubang dengan najis dan hal yang menjijikkan yang disukai setan, atau dia bertapa di kamar mandi dan tempat-tempat kotor yang didiami setan, atau dia memakan ular dan kala-jengking, kumbang, serta kuping anjing yang merupa-kan binatang-binatang yang menjijikkan atau minum air kencing, najis dan semacamnya yang disukai setan, atau dia berdoa kepada selain Allah, meminta tolong kepada makhluk, memohon kepadanya dan sujud di depan Syaikhnya serta tidak memurnikan agama untuk Tuhan semesta alam, atau bergaul dengan anjing atau api atau bertapa di kuburan apalagi ternyata kuburannya adalah kuburan orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nashrani serta orang-orang musyrik, atau benci untuk mendengarkan Al Quran atau menghindar darinya, bahkan dia lebih mengutamakan untuk mendengar nyanyian-nyanyian atau sya’ir-sya’ir atau mendengarkan seruling-seruling setan daripada mendengarkan kalamullah. Maka semua itu merupakan tanda-tanda dari wali-wali setan. [17]

Kalangan tasawuf tidak hanya sampai sebatas itu yaitu dengan memberi gelar kewalian kepada orang semacam mereka, bahkan berlebih-lebihan terhadap mereka dengan memberikan beberapa sifat-sifat ketuhanan kepada mereka, yaitu dengan mengatakan bahwa mereka berperan atas apa yang terjadi di alam raya ini, mengetahui yang ghaib, dapat memenuhi setiap permohonan yang tidak mampu merealisasi-kannya kecuali Allah, nama-nama mereka disebut-sebut saat ada bencana padahal mereka telah mati atau tidak ada ditempat tersebut, mereka diminta untuk memenuhi kebutuhan dan menolak kesulitan, memberikan gelar kesucian dalam kehidupan mereka, kemudian menyembahnya setelah mereka wafat, membangun di atas kuburnya bangunan-bangunan dan mengambil barokah dengan tanah mereka dan thawaf di atas kubur mereka, dan bertaqarrub kepada mereka dengan berbagai macam nazar, menyebut-nyebut nama mereka dalam memohon kebutuhan-kebutuhan mereka. Inilah semua manhaj orang-orang tasawuf dalam masalah perwalian ataupun para wali.


5. Termasuk bagian dari ‘agama tasawuf yang bathil adalah taqarrub-nya mereka kepada Allah dengan nyanyian dan tarian, memukul rebana dan bertepuk tangan. Mereka katakan bahwa semua itu adalah ibadah kepada Allah.
Dr. Sobir Tu’aimah berkata dalam kitabnya: As-Sufiah Mu’taqadan wa Maslakan (Tasawuf, keyakinan dan jalan hidupnya): “Tarian sufi telah menjadi ciri khas pada sebagian besar tarekat-tarekat tasawuf dalam berbagai kesempatan peringatan kelahiran tokoh-tokoh mereka, yaitu dengan berkumpulnya para pengikut tarekat tersebut untuk mendengarkan alunan suara musik yang keluar dari sekitar dua ratus orang pemusik, baik laki maupun wanita, sementara para pembesar duduk-duduk sambil menghisap berbagai macam rokok dan para pemimpin mereka serta para pengikutnya melakukan bacaan atas sebagian khurofat yang berkaitan orang-orang mati dikalangan mereka. Setelah berbagai penelitian, kami sampai pada kesimpulan bahwa penggunaan musik di kalangan tarekat tasawuf masa kini merujuk kepada apa yang disebut sebagai “Nyanyian kristiani hari Minggu“”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan tentang awal mula timbulnya tasawuf serta sikap para ulama tentang hal tersebut dan apa saja yang mereka perbuat.
“Ketahuilah bahwa hal tersebut bukan muncul pada kurun tiga abad pertama yang terkenal utama, tidak di Hijaz [18] tidak juga di Syam [19], tidak di Yaman tidak juga di Mesir, tidak di Maroko tidak juga di Irak, tidak juga di Khurasan. Di negri-negri tersebut tidak ada pada waktu itu orang alim, shaleh, zuhud dan ahli ibadah yang berkumpul untuk mendengarkan tepuk tangan dan suara bersiul, dengan rebana atau dengan telapak tangan, tidak juga dengan potongan kayu. Akan tetapi semua itu terjadi di akhir abad ke tiga. Dan ketika para imam melihatnya, merekapun mengingkarinya. Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Ketika saya meninggalkan Baghdad ada sesuatu yang dibuat-buat oleh orang-orang zindiq yang mereka namakan Taghbir (nyanyian sufi) yang menghalangi orang dari Al Quran”. Yazid bin Harun berkata : “Tidak ada yang melakukan nyanyian sufi kecuali orang yang fasiq, entah kapan hal itu berawal ?”.

Imam Ahmad ditanya tentang hal tersebut, maka dia menjawab: Saya tidak menyukainya, itu adalah perkara yang diada-adakan. Ada yang berkata: Apakah kita boleh duduk bersama mereka, beliau menjawab: Jangan. Begitu juga semua imam agama membencinya, para pembesar masyaikh tidak menghadirinya, Ibrahim bin Adham tidak menghadirinya tidak juga Fudhail bin Iyadh, tidak juga Ma’ruf Al Karkhi, tidak Abu Sulaiman Ad-Daariny, tidak juga Ahmad bin Abilhawary, Sirry Saqty dan yang semacam mereka.

Sedangkan sejumlah ulama terhormat yang sempat menghadiri acara-acara mereka, pada akhirnya meninggalkannya, tokoh-tokoh ulama mencela pelaku-pelakunya sebagaimana yang dilakukan oleh Abdul Qadir dan Syaikh Abul Bayan dan lain-lainnya. Sedangkan Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa hal tersebut bersumber dari orang-orang zindiq, beliau adalah seorang imam dan ahli dalam Ushululislam (kaidah dasar-dasar Islam). Disamping karena hal tersebut tidak didengar kecuali oleh mereka yang dituduh zindiq seperti Ibnu Ruwandi, Al-Farabi dan Ibnu Sina serta yang semacam mereka. Sedangkan orang-orang yang hanif pengikut Ibrahim alaihis-salam yang Allah jadikan dia sebagai imam dan penganut agama Islam yang tidak menerima dari seorangpun agama selainnya dan mengikuti syariat Rasul terakhir Nabi Muhammad saw, maka tidak ada pada mereka orang yang menyukainya dan menye-rukan kepada perbuatan semacam itu. Mereka (yang dimaksud orang Islam) adalah pengikut Al Quran, keimanan dan petunjuk dan kebahagiaan, cahaya dan kemenangan, ahli ma’rifah, ilmu dan keyakinan serta keikhlasan kepada Allah, mencintai-Nya, tawakkal kepada-Nya, takut dan kembali kepada-Nya.

Sedangkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan tentang hakekat agama ini, keadaan hati, ma’rifahnya, seleranya serta perasaannya segera mengetahui bahwa mendengarkan orang yang bersiul dan bertepuk tangan tidaklah mendatangkan manfaat bagi hati dan kemaslahatan, tetapi justru mengandung kemudha-ratan dan bahaya yang lebih parah, hal tersebut bagi ruh seperti khamar bagi jasad, karena mengakibatkan pelakunya mabuk melebihi mabuknya seseorang dari khamar sehingga mereka merasakan kelezaran tanpa dapat membedakan, sebagaiman yang dirasakan orang yang mabuk karena minum khamar, bahkan dapat terjadi lebih banyak dan lebih besar dari peminum khamar, mencegah mereka dari zikir kepada Allah dan dari shalat melebihi apa yang dapat mencegah mereka karena minum khamar. Mendatangkan kepada mereka pertikaian dan permusuhan lebih besar dari apa yang didapatkan dari khamar”.

Dia juga berkata: “Adapun tarian, tidak diperintahkan oleh Allah, begitu juga Rasul-Nya, tidak juga salah seorang imam, akan tetapi Allah berfirman dalam kitab-Nya:
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ [لقمان: 19]
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu”.(Luqman: 19)

وَعِبَادُ الرَّحْمَـنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْناً [الفرقان: 63]
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati”. (Al-Furqan: 63)
maksudnya dengan tenang dan penuh wibawa, sedangkan ibadahnya orang beriman adalah ruku’ dan sujud”.

Bahkan rebana dan tarian tidak diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, tidak pula oleh seseorang dari kalangan salaf umat ini. Adapun perkataan orang-orang bahwa hal tersebut adalah jaring yang digunakan untuk “menjaring” orang-orang awam adalah benar adanya, karena kebanyakan mereka menjadikan jaring tersebut untuk mendapatkan makanan atau roti di atas makanan. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيْراً مِنَ اْلأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُوْنَ أَمْوَالَ النَّاسِ باِلْبَاطِلِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ [التوبة: 34]
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya seba-gian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah”. (At-Taubah: 34)

Yang melakukan hal tersebut adalah tokoh-tokoh kesesatan yang dikatakan kepada pemimpin-pemimpin mereka:
وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّوْنَا السَّبِيْلاَ ● رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْناً كَبِيْراً [الأحزاب : 67-6]
“Dan mereka berkata: “ Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (Al Ahzab 67-68)

Sedangkan jala yang dimaksud untuk menjaring massa, sesungguhnya adalah jala yang robek dimana buruannya keluar lagi jika telah masuk ke dalamnya, karena yang masuk untuk mendengar suara-suara bid’ah dalam tarekat sedang dia tidak memiliki landasan syari’at Allah dan Rasul-Nya, akan terwarisi dalam dirinya kondisi yang parah…. [20].

Kalangan tasawuf yang mendekatkan diri kepada Allah dengan nyanyian dan tarian, tepat bagi mereka firman Allah Ta’ala :
الَّذِيْنَ اتَّخَذُوا دِيْنَهُمْ لَهْواً وَلَعِباً [الأعراف: 51]
“(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau” (Al-A’raf: 51)


6. Termasuk dari kebathilan ajaran tasawuf adalah apa yang mereka katakan bahwa ada derajat dimana orang yang memilikinya dapat keluar dari beban syariat seiring meningkatnya derajat tasawuf orang tersebut.

Mulanya tasawuf bermakna -sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi: Olah jiwa: “membentuk watak dengan mengusir prilaku buruk dan mengarahkannya kepada akhlak mulia, berupa zuhud, santun, sabar, ikhlas dan jujur”.
Inilah yang dipahami oleh generasi pertama dari kalangan tasawuf, kemudian Iblis mengecoh mereka dalam beberapa hal, kemudian menyesatkan orang-orang sesudah mereka dan pengikut mereka. Maka setelah berlalu satu abad, keinginan Iblis untuk menyesatkan semakin menjadi-jadi hingga berhasil menyesatkan generasi belakangan. Prinsip dari penyesatan Iblis adalah mencegah mereka dari ilmu dan menggiring mereka kepada pemahaman bahwa yang paling penting adalah amal [21], maka ketika pelita ilmu padam dari mereka, mereka berjalan terhuyung-huyung dalam kegelapan, diantara mereka ada yang mengatakan bahwa tujuan sebenarnya adalah meninggalkan dunia secara keseluruhan, mereka menolak merawat tubuh mereka dan menyerupakan harta dengan kalajengking, mereka lupa bahwa harta diciptakan untuk maslahat, mereka berlebih-lebihan membebani jiwa hingga ada diantara mereka yang hampir-hampir tidak pernah berbaring. Mereka sebenarnya punya tujuan yang baik, akan tetapi cara mereka tidak tepat. Diantara mereka yang karena sedikit ilmunya beramal berdasarkan hadits-hadits palsu (maudhu) sedang dirinya tidak mengetahuinya, kemudian datang setelah itu orang-orang berbicara kepada mereka tentang lapar, kefakiran, was-was (keraguan) dan lintasan-lintasan pemikiran lalu mereka mengarang buku tentang hal tersebut; seperti Harits Al-Muhasibi, kemudian datang yang lain lagi lalu menyusun mazhab sufi dan memberinya kekhu-susan dengan sifat-sifat tertentu; penampilan lusuh, nyanyian sentimentil, tarian dan tepuk tangan. Kemudian perkaranya terus berkembang, para guru tarekat tersebut meletakkan beberapa perkara dan berbicara tentang kondisi-kondisi mereka, dan mereka jauh dari ulama, mereka melihat bahwa pada guru mereka terdapat kelebihan sehingga mereka menyebutnya dengan ilmu batin sementara ilmu syariat mereka anggap sebagai ilmu zahir. Diantara mereka ada yang karena rasa lapar melahirkan khayalan-khayalan yang rusak sehingga mereka mengaku tengah bermesraan dengan Al-Haq dan terbuai dengan-Nya. Seakan-akan mereka sedang menghayal seorang yang dengan paras menawan yang membuat mereka jatuh hati.

Mereka berada dalam kekufuran dan bid’ah, kemudian dari berbagai kaum yang ada mereka terpecah-pecah dalam berbagai macam tarekat, maka rusaklah aqidah mereka. Diantara mereka ada yang menyatakan ajaran Al-Hulul (peleburan antara dirinya dengan tuhan), ada juga yang mengatakan Al-Ittihad (Tuhan berada dalam dirinya), dan Iblis terus menjerumuskan mereka dengan berbagai macam bid’ah hingga mereka menjadikan untuk diri mereka ajaran-ajaran tertentu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata tentang kaum yang terus menerus melakukan olah jiwa kemudian mereka menyatakan bahwa diri mereka telah sampai pada tingkatan hakekat. Lalu mereka berkata: “kami sekarang tidak peduli lagi dengan apa yang kami ketahui, sesungguhnya perintah dan larangan adalah aturan untuk orang awam, seandainya mereka telah sampai pada hakekat maka gugurlah segala kewajiban pada mereka, dan kandungan kenabian itu adalah untuk mendatangkan hikmah dan maslahat, tujuan-nya adalah untuk mengikat orang orang awam, dan kami bukan lagi termasuk orang awam, kami telah masuk pada wilayah disingkirkannya setiap beban, karena kami telah sampai pada hakekat dan telah mengetahui hikmah”.

Maka Syaikhul Islam menjawab: “Tidak diragukan bagi kalangan berilmu dan beriman bahwa ucapan seperti itu adalah ucapan yang sangat sarata dengan kekufuran, dia lebih buruk dari ucapan orang Yahudi dan Nashrani. Karena orang Yahudi dan orang Nashrani mengimani sebagian isi Al Kitab dan ingkar kepada sebagian lainnya. Mereka (Yahudi dan Nash-rani) memang benar-benar orang kafir, tapi mereka tetap mengakui bahwa Allah memiliki perintah dan larangan, janji dan ancaman dan semua itu mengenai diri mereka juga hingga mati, hal ini jika mereka tetap berpegang teguh terhadap Agama Yahudi dan Nashrani yang sudah diubah dan dihapus, adapun orang-orang munafik di kalangan mereka sebagaimana pada umumnya, terjadi pada filosuf mereka, mereka lebih buruk dari kalangan munafik umat ini (umat Islam), karena mereka menampakkan kekufuran dan menyembunyikan kemunafikan, maka mereka lebih buruk dari yang orang menampakkan keimanan dan menyembunyikan kemunafikan”.

Maksudnya adalah bahwa orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan sejumlah keyakinan yang telah dihapus dan kandungannya telah mengalami perubahan itu lebih baik dari mereka yang mengaku telah gugurnya perintah dan larangan dalam diri mereka secara keseluruhan, karena dengan demikian mereka keluar dari semua kitab-kitab suci, syariat-syariat dan ajaran-ajaran dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Allah baik perintah maupun larangan. Bahkan mereka lebih buruk dari orang-orang musyrik yang masih memegang teguh dengan sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim alaihissalam, karena pada diri mereka ada sedikit kebenaran yang mereka pegang teguh, meskipun dengan demikian mereka tetap orang-orang musyrik. Sedang mereka, orang-orang yang mengaku tersebut tidak ada keterikatan sama sekali dari kebenaran karena mereka mengaku bahwa semua itu sia-sia, tidak ada lagi perintah dan larangan buat mereka. Diantara mereka ada yang berhujjah dengan firman Allah Ta’ala :
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ [الحجر: 99 ]
“Dan sembahlah tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”. (Al-Hijr: 99)

Mereka mengatakan bahwa artinya adalah : “Sem-bahlah Tuhanmu hingga kamu meraih ilmu dan ma’rifah, jika kamu mendapatkan hal tersebut maka gugurlah kewajiban ibadah darimu”. Sebagian lain mungkin ada yang berkata: “Beramallah hingga engkau mencapai derajat tertentu, jika telah sampai derajat tasawuf, maka gugurlah ibadah darimu”. Dan mereka adalah orang-orang yang apabila telah tercapai maksudnya berupa ma’rifah dan kondisi tertentu, maka baginya diperbolehkan untuk meninggalkan kewajiban-kewajiban dan melaksanakan yang diharamkan. Ini adalah kekufuran sebagaimana yang telah lalu. Dalil mereka atas firman Allah Ta’ala :
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ
[الحجر : 99 ]
“Dan sembahlah tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal))”. (Al-Hijr: 99)

sebenarnya itu adalah dalil yang memberatkan mereka bukan yang membela mereka. Hasan Basri berkata: “Sesungguhnya Allah tidak membatasi kapan seseorang boleh meninggalkan amal shaleh kecuali setelah datang kematiannya”, kemudian beliau membaca ayat : واعبد ربك حتى يأتيك اليقين, karena yang dimaksud اليقين dalam ayat tersebut adalah kematian dan sesudahnya berdasarkan kesepakatan ulama. Hal tersebut seperti firman Allah Ta’ala:

وَمَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ l قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَ l وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِيْنَ l وَكُنَّا نَخُوْضُ مَعَ الْخَائِضِيْنَ l وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّيْنِ l حَتَّى أَتَانَا الْيَقِيْنَ[المدثر: 42-47]
“Apakah yang memasukkan kamu kedalam Saqar (neraka) ?”. Mereka menjawab: “ Kami dahulu termasuk orang-orang yang tidak mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya. Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan. Hingga datang kepada kami kematian”. (Al-Mudatsir: 42-47)

Hal ini mereka katakan saat mereka berada dalam neraka jahannam, mereka katakan bahwa dosa yang mereka perbuat adalah meninggalkan shalat dan zakat serta mendustakan hari kiamat, membicarakan yang bathil kepada orang-orang yang bathil, hingga datang kepada mereka kematian (اليقين). Sebagaiman diketahui bahwa saat mereka berkata demikian, mereka bukanlah orang-orang beriman dengan semua itu di dunia ini dan bukan pula orang-orang yang Allah katakan tentang mereka:
وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ [البقرة: 4]
“Serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat“
(Al-Baqarah: 4)

Jadi yang dimaksud dengan ayat: Hattaa ya’tiyakal yakin, adalah hingga datang kepada mereka apa yang dijanjikan, yaitu Al-yaqin (kematian).

Ayat tersebut menunjukkan atas wajibnya ibadah bagi seorang hamba sejak dia menginjak usia baligh dan berakal hingga kematiannya. Dan tidak ada kondisi sebelum kematian dimana beban kewajiban menjadi gugur sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang tasawuf.

Penutup
Itulah “agama” tasawuf yang dulu maupun sekarang, dan itulah sikap mereka dalam ibadah, kami berbicara tentang mereka semata-mata bersumber dari buku-buku mereka kecuali sedikit saja (yang berasal dari buku diluar mereka) serta buku-buku yang mengkritik mereka dan apa yang menunjukkan aktivitas-aktivitas mereka pada masa kini. Itupun yang saya bahas dari satu sisi saja dari sekian banyak pembahasan pada mereka, yaitu dari sisi ibadah dan sikap mereka tentang hal tersebut. Dan masih banyak sisi-sisi lain yang butuh pembahasan-pembahasan, seperti sikap mereka tentang tauhid, kerasulan, tentang syariat, taqdir dan yang lainnya.

Kita mohon kepada Allah Ta’ala agar memperlihatkan kepada kita bahwa yang haq itu adalah haq dan memberikan kekuatan kepada kita untuk mengikutinya dan memperlihatkan kepada kita bahwa yang bathil itu adalah bathil dan memberikan kekuatan kepada kita untuk menjauhinya dan agar Dia tidak menggoyahkan hati-hati kita setelah kita diberi petunjuk oleh-Nya.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Footnote :
  1. 9. Zindiq: Ungkapan yang umumnya diberikan kepada mereka yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafirannya atau kepada mereka yang tidak percaya adanya Tuhan dan hari kiamat (Mu’jam Alfaaz Al-Aqidah).
  2. 10. Kelompok yang salah satu keyakinannya adalah bahwa amal perbuatan bukan merupakan syarat keimanan. Seseorang tidak dinyatakan hilang keimanannya –yang pernah dia ikrarkan- walau tidak pernah beramal sama sekali
  3. 11. Istilah yang diberikan kepada pengikut Khawarij, mereka adalah kelompok yang sangat tekun beribadah namun mengkafirkan sesama muslim dengan alasan yang tidak dibenarkan syariat. Diantara keyakinan mereka adalah bahwa siapa yang berdosa besar maka dia kafir dan kekal didalam neraka. Kata Haruri berasal dari nama tempat dimana pada saat itu kelompok ini banyak berkumpul.
  4. 12. Al-Ubudiah, oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 90, cetakan Riasah Aammah Lil Ifta’
  5. 13. Hadits yang dibuat-buat (hadits palsu)
  6. 14. Orang yang mengikuti salah satu syekh dalam sebuah tarekat sufi.
  7. 15. Kalimat tauhid jika diucapkan secara lengkap (لا إله إلا الله) mengandung arti yang sangat penting; yaitu adanya nafy (meniadakan segala bentuk ketuhanan selain Allah/لا إله) dan Itsbat (hanya mengakui Allah sebagai tuhan/إلا الله). Sedangkan jika diucapakan secara mutlak begitu saja dengan lafaz الله maka arti yang sangat penting tersebut akan hilang.
  8. 16. Risalah Al-Ubudiyah, hal 117-118, cet. Al-Ifta’
  9. 17. Majmu’ Fatawa, 11/210-216
  10. 18. Mekkah dan sekitarnya.
  11. 19. Sekarang ini menjadi negara Palestina, Yordania, Lebanon dan Syiria.
  12. 20. Majmu’ Fatawa (11/569-574)
  13. 21. Walau tanpa dilandasi pemahaman yang benar tentang amal tersebut berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah

(Dikutip dari tulisan Asy Syaikh Dr Sholeh Fauzan, judul asli حقيقة التصوف وموقف الصوفية
من أصول العبادة والدين, Edisi bahasa Indonesia Hakikat Sufi dan Sikap Kaum Sufi terhadap prinsip Ibadah dan Agama. Diterbitkan oleh Depag Saudi Arabia)

Sumber: http://salafy.or.id

Posted at 03:30 am by khadafi
Post comment |

Kisah Perjalanan Syaikh Muhammad Rasyid Ridha Mendapat Hidayah Beralih Dari Tasawuf Ke Pemahaman Salaf

Friday, April 18, 2008

Seorang syaikh reformis besar, Muhammad Rasyid Ridha, siapa yang tidak mengenal matahari di tengah siang benderang? Riwayat hidup reformis ini termasuk riwayatriwayat hidup yang sangat mengesankan perasaan saya dan menggantungkan hati saya untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang siapa dia. Yah, tokoh yang lain dan beda dari tokoh-tokoh yang lainnya. Berbagai pengalaman di dunia membuat jalan Rasyid menjadi terang, ia cari kebenaran dengan dalilnya, bekerja keras demi menyampaikan dakwah, memberantas bid’ah dan menyebarkan apa yang dianggapnya haq. Ia terus belajar dan bepergian untuk mencari orang yang kelak dapat menerangi cakrawala ma’rifah dengan dalilnya. Setelah berada di perguruan yang bertarung dengan berbagai pengalaman, akhirnya kondisinya pun menjadi stabil. Berkat taufiq Allah, ia berjalan di atas jalan orang-orang yang shalih, membawa panji salaf sebagai penyebar, pengajar, pembela dan pendebatnya. Maka lahirlah di tangannya generasi intelektual yang mengikuti jejaknya dan berkomitmen dengan manhaj Salaf.

Siapa Muhammad Rasyid Ridha?

Beliau adalah Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha’uddin al-Qalmuni, al-Husaini. Nasabnya sampai kepada Alu al-Bayt (Ahli Bayt) .

Beliau dilahirkan pada tanggal 27-5-1282 H di sebuah desa bernama Qalmun, sebelah selatan kota Tharablas (Tripoli), Syam. Ia mulai menuntut ilmu dengan menghafal al-Qur’an, mempelajari khat dan ilmu berhitung.

Kemudian belajar di madrasah “ar-Rasyidiyyah” yang bahasa pengantarnya adalah bahasa Turki. Tetapi tak berapa lama, ia tinggalkan tempat itu untuk meneruskan studinya di sekolah nasional Islam (al-Wathaniyyah al-Islamiyyah) yang didirikan dan diajarkan gurunya, Husain al-Jisr. Ia mengenyam belajar di sekolah ini selama 7 tahun yang kemudian merubah perjalanan kehidupannya dan mulailah ‘rihlah’ Tasawufnya.

Bersama Tarekat Syadziliyyah

Beliau mulai mempelajari tasawuf ketika gurunya, Husain al-Jisr membacakan kepadanya sebagian buku-buku Tasawuf, di antaranya beberapa pasal dari kitab ‘al-Futuuhaat al-Makkiyyah’ dan beberapa pasal dari kitab karya al-Fariyaq.

Pernah ia membaca ‘wird as-Sahar’ dari buku Tasawuf itu, dan saat membaca bait berikut:

Dan derai air mata telah mendahuluiku
Akibat rasa takut terhadap-Mu

Beliau berhenti dan menolak untuk membacanya karena merasa air matanya tidaklah berderai saat itu. Penolakannya ini semata karena merasa malu berdusta kepada Allah sebab kenyataannya air matanya belum dan tidak berderai ketika membaca bait itu.??!!

Setelah beliau menggali dan memperdalam ilmu dan ushuluddin, sadarlah ia bahwa membaca ‘Wird’ tersebut termasuk bid’ah. Karena itu, ia pun meninggalkannya dan lebih memilih untuk membaca dan mempelajari al-Qur’an.

Beliau juga sempat belajar dengan gurunya yang lain, Abu al-Mahasin al-Qawiqji hingga berhasil mendapatkan ‘ijazah’ (semacam rekomendasi sah sebagai murid yang berhak membaca buku gurunya-red) untuk kitab ‘Dala’il al-Khairat.’

Setelah mempelajarinya, semakin nyata baginya bahwa kebanyakan isi buku tersebut mengandung kedustaan terhadap Nabi SAW, maka beliau pun meninggalkannya.

Ia kemudian beranjak membaca dzikir-dzikir dan wirid-wirid yang berisi shalawat kepada Nabi SAW yang kualitasnya dapat dipertanggungjawabkan (valid).

Bersama Tarekat Naqsyabandiyyah

Mengenai hal ini, Syaikh Rasyid menyebutkan bahwa yang membuatnya gandrung mempelajar Tasawuf adalah pesona kitab ‘Ihya’ ‘Ulum ad-Diin’ karya Imam al-Ghazali.

Kemudian beliau meminta kepada gurunya dalam tarekat Syadziliyyah, Muhammad al- Qawiqji untuk memperkenankannya untuk tetap menjalankan tarekat Syadziliyyah secara formalitas saja namun sang guru berkeberatan seraya berkata, “Wahai anakku, aku bukan orang yang tepat untuk mengabulkan permintaanmu itu. Permadani ini telah dilipat dan para penganutnya telah berlalu…”

Syaikh Rasyid juga menyebutkan, ada temannya yang bernama Muhammad al-Husaini berhasil menjadi seorang Sufi terselubung dalam tarekat Naqsyabandiyyag. Ia beranggapan dirinya telah mencapai tingkat ‘Mursyid Sempurna’.

Karena itu, Rasyid lalu mengikuti tarekat Naqsyabandiyyah ini melalui bimbingan temannya itu. Beliau akhirnya banyak menghabiskan usianya dalam tarekat ini. Mengenai hal ini, beliau bertutur, “Di sela-sela itu, aku melihat banyak sekali perkara-perkara ruhani yang terjadi di luar kebiasaan. Dari banyak kejadian itu, aku berupaya menafsirkannya namun sebagiannya tak berhasil aku ungkap.”

Beliau melanjutkan, “Akan tetapi buah cita rasa yang tidak lazim ini tidak sama sekali
menunjukkan bahwa seluruh sarananya adalah disyari’atkan atau sebagiannya yang bernuansa bid’ah dibolehkan seperti yang kemudian aku teliti lagi.” Rasyid menyebut kegiatannya menjalani ‘wirid harian’ dalam tarekat Naqsyabandiyyah adalah dengan cara mengucapkan nama ‘Allah’ di dalam hati, tanpa ucapan lisan sebanyak 5000 kali seraya membelalakkan kedua mata, menahan nafas sekuat daya dan mengikat hati dengan hati sang guru.

Setelah di kemudian hari jelas baginya semua itu, ia menyebut wirid itu sebagai perbuatan bid’ah bahkan dapat mencapai kesyirikan terselubung ketika seseorang mengikat hatinya dengan hati sang guru. Sebab dalam tuntutan tauhid, seorang hamba di dalam setiap ibadahnya harus menuju Allah semata, dengan lurus total dan tidak condong serta berserah diri kepada-Nya dalam agama.

Mengenai pengalamannya bersama aliran ‘Tasawuf’ ini, Syaikh Rasyid kemudian menyebut banyak hal, di antaranya, beliau mengatakan, “Kesimpulannya, saya dulu berkeyakinan bahwa Thariqat (Tarekat/Jalan), Ma’rifah, Penyucian jiwa dan mengetahui rahasia-rahasianya adalah dibolehkan secara syari’at, tidak terlarang sama sekali dan dapat berguna seraya berharap mencapai ma’rifat Allah, tanpa melakukannya tidak akan mencapai sasaran.”

Mendapat Hidayah, Beralih Dari Tasawuf Ke Pemahaman Salaf

Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai Sufi, beliau menuturkan pengalamannya, “Saya sudah menjalani Tarekat Naqsyabandiyyah, mengenal yang tersembunyi dan paling tersembunyi dari misteri-misteri dan rahasia-rahasianya. Aku telah mengarungi lautan Tasawuf dan telah meneropong intan-intan di dalamnya yang masih kokoh dan buih-buihnya yang terlempar ombak. Namun akhirnya petualangan itu berakhir ke tepian damai, ‘pemahaman Salaf ash-Shalih’ dan tahulah aku bahwa setiap yang bertentangan dengannya adalah kesesatan yang nyata.”

Beliau banyak terpengaruh oleh majalah ‘al-‘Urwah al-Wutsqa’ dan artikel-artikel para ulama dan sastrawan. Terlebih, pengaruh gurunya, Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Beliau benar-benar terpengaruh sekali sehingga seakan gurunya lah yang telah menggerakkan akal dan pikirannya untuk membuang jauh-jauh seluruh bid’ah dan menggabungkan antara ilmu agama dan modern serta mengupayakan tegak kokohnya umat dalam upaya menggapai kemenangan

Dan yang lebih banyak mempengaruhinya lagi adalah beliau buku-buku karya Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab.

Hal itu, menciptakan gerak dan aktifitasnya setelah sebelumnya tenggelam dalam kubangan kemalasan, kehilangan kesadaran dan terjerumus ke dalam berbagai bid’ah dan kesesatan seperti yang ada pada aliran Tasawuf.

Mengingkari Penganut Tarekat-Tarekat Sufi

Kejadian pertama di mana secara terang-terangan beliau mengingkari tarekat-tarekat sufi itu adalah saat suatu hari, seusai shalat Jum’at, salah satu keluarga penganut tarekat Sufi mengadakan acara yang disebut Rasyid sebagai ‘Pertemuan Dengan Maulawiyyah’.

Mengenai hal ini, Rasyid mengisahkan, bahwa tatkala sudah tiba waktu pertemuan, para guru Sufi yang sering disebut ‘Darawisy Maulawiyyah’ berkumpul di majlis mereka. Di depan mereka duduk sang guru resmi. Di situ, hadir para bocah-bocah berwajah tampan dan mulus, berpakaian putih cemerlang layaknya jilbab para pengantin. Mereka menarinari mengikuti irama musik, berputar-putar dengan sangat cepat seraya bersorak-sorai. Jarak mereka beriringan, tidak saling berbenturan, mengulurkan lengan-lengan dan memiringkan pundak-pundak. Satu demi satu dari mereka melewati sang guru seraya merunduk.

Pemandangan itu sungguh mengganggu dan melukai perasaan Rasyid. Ia tidak menyangka kondisi kaum muslimin sampai sekian jauh terperosok ke dalam bid’ah dan khurafat. Betapa tega mempermainkan keyakinan manusia dan meracuni akal pikiran mereka. Yang benar-benar menyakiti perasaannya adalah anggapan mereka bahwa permainan bid’ah itu adalah sebagai bentuk ibadah dalam mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan mendengar dan menyaksikan pemandangan itu mereka anggap sebagai ibadah yang disyari’atkan.

Rasyid tidak hanya bertopang dagu menyaksikan hal itu. Ia terpanggil untuk mengemban kewajiban sesuai dengan bacaan yang selama ini ia dapatkan dari referensi Salaf baik melalui kitab-kitab mau pun majalah-majalahnya.

Ia mengisahkan, “Aku katakan kepada mereka, ‘Apa ini.?’ Salah seorang menjawab, ‘Ini dzikir tarekat maulana Jalaluddin ar-Rumi, penyandang kedudukan terhormat.!’ Mendengar itu, aku tidak dapat menahan diri lagi. Aku langsung berdiri di ruang utama seraya berteriak sekencang-kencangnya, yang kira-kira bunyinya, ‘Wahai manusia dan kaum muslimin! Ini perbuatan munkar, tidak boleh dilihat apalagi mendiamkannya sebab sama artinya menyetujui dan melegitimasi para pelakunya. Padahal Allah berfirman, ‘Mereka menjadikan agama mereka sebagai ejekan dan mainan.’ Sungguh, aku telah menjalankan kewajibanku. Karena itu, keluarlah kalian, semoga Allah merahmati!’”

Kemudian, Rasyid pun cepat-cepat keluar menuju kota. Teriakan ‘Salafi’-nya itu berbuah juga. Sekali pun baru diikuti segelintir orang tetapi gaungnya masih terus bergema di tengah masyarakat. Ada pihak yang mendukung dan ada pula yang menentangnya.

Sekalipun banyak dari kalangan tuan-tuan guru Sufi yang menentang dan mengingkari tindakan Rasyid, namun anak muda ini bertekad akan terus menempuh caranya dalam memperbaiki masyarakat dari kesesatan-kesesatan dan bid’ah-bid’ah tersebut.

Ironisnya, justeru di antara yang menentangnya itu adalah gurunya sendiri, yang dulu beliau pernah mendalami tarekat Syadzili padanya, Syaikh Husain al-Jisr. Sang guru beranggapan, tidak boleh mengganggu para Sufi dan aktifitas bid’ahnya, siapa pun orangnya. Saat itu, gurunya itu berkata kepadanya, “Aku nasehati kamu agar tidak mengganggu para ahli tarekat.” Rasyid menjawab dengan nada mengingkari, “Apakah para ahli tarekat itu memiliki hukum-hukum syari’at sendiri selain hukum-hukum umum untuk seluruh umat Islam.?”

Ia menjawab, “Tidak! Tetapi mereka memiliki niat yang tidak sama dengan niat sembarang orang, mereka juga memiliki pandangan yang berbeda dengan pandangan orang-orang.” Rasyid menjawab, “Dosa yang dilakukan para ahli tarekat itu lebih besar daripada dosa pelaku maksiat biasa sebab mereka (para ahli tarekat) telah menganggap mendengarkan kemungkaran dan tarian yang dilakukan bocah-bocah tampan dan mulus itu sebagai bentuk ibadah yang disyari’atkan sehingga mereka itu telah membuat syari’at agama untuk diri mereka yang tidak pernah diperkenankan Allah sama sekali. Tetapi saya tidak pernah tidak mengingkari suatu kemungkaran yang terjadi di hadapan mata saya.!”

Sekali pun hujjah Rasyid sangat kuat dalam membantah gurunya, hanya saja sang guru tetap berpegang pada pendiriannya karena menganggap ia memiliki kehormatan dan kemuliaan.!!

Perbedaan pendapat di antara murid dan sang guru itu terus berlanjut, bahkan semakin tajam saat Rasyid berhijrah ke Mesir. Apalagi melalui majalahnya, ‘al-Manar,’ Rasyid sangat mengingkari perbuatan para ahli tarekat Sufi itu. Sebab ia sudah melihat sendiri betapa kemungkaran dan bid’ah yang terjadi dalam berbagai kegiatan spritual tarekattarekat sufi itu seperti perayaan maulid. Sementara itu, sang guru, al-Jisr gigih pula membantah pendapat Rasyid, yang kemudian dibalas pula oleh Rasyid melalui majalahnya.

Setelah banyak membaca dan mendapatkan ilmu dari bacaannya terhadap buku-buku karya Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah dan muridnya, Ibn al-Qayyim, ditambah buku karya Ibn Hajar ‘az-Zawaajir ‘An Iqtiraaf al-Kabaa’ir’, Rasyid terus menentang tindakan para penyembah kuburan (Quburiyyun) dari kalangan aliran Tasawuf dan lainnya.

Ia pun telah mengkaji secara seksama buku karangan al-Alusi, ‘Jalaa’ al-‘Ainain Fii Muhaakamati al-‘Ahmadiin’. Buku ini menyadarkannya mengenai penyebab penyebab terjadinya penyimpangan aliran Tasawuf dan betapa jernihnya dakwah Syaikhul Islam. Ia menyadari, bahwa ucapan-ucapan al-Haitsami dan ulama Tasawuf (kaum Sufi) lainnya tidak lain hanya terbit dari hawa nafsu dan bualan kaum Sufi semata.!!

Semoga Allah, merahmati Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, Sang reformis besar atas apa yang telah dipersembahkan dan dilakukannya dalam menasehati dan membongkar kedok kaum Sufi.

Semoga Allah menerima taubatnya dan mema’afkan ketergelincirannya. Wa Shallallahu ‘ala Sayyidina Muhammad, Wa Alihi Wa Shahbihi Wa Sallam.

Ditulis oleh Abu ‘Umar al-Manhaji, dari situs, ad-difa’ ‘an as-Sunnah. (AH)

Dicopy dari :
www.alsofwah.or.id (situs dakwah & informasi Islam)


Posted at 10:01 am by khadafi
Post comment |

BELITAN IBLIS DALAM AJARAN TAREQAT

Berikut ini ana posting tulisan karangan Dr Ehsaan Ilahi Dzahir  yang menceritakan kesalahan2 ajaran Tarekat secara umum bukan secara khusus kepada kelompok atau golongan tertentu. Tulisan ini bukan maksud untuk menghujat tetapi semoga bisa menjadi nasehat dan peringatan bagi yang mencari kebenaran, ulasannya maklum panjang dan berbahasa Malaysia semoga diberi kesabaran untuk membaca dan memahaminya...


BELITAN IBLIS DALAM AJARAN TARIQAT
Penulis: Dr Ehsaan Ilahi Dzahir
Penterjemah: Jasmin Enterprise
Penerbit: Jasmin Enterprise, P.O. Box No 12649, 50786 Kuala Lumpur
ISBN 983-2565-21-9
Tebal: 222 ms
Harga: RM12.00


Buku ini mendedahkan kepincangan-kepincangan dalam dalam ajaran Tariqat. Kekacauan dalam tariqat adalah suatu yang pasti kerana sesuatu yang tidak bersumber dari Al-Quran dan sunnah pasti akan terpesong.

Dr Ehsaan Ilahi menyenaraikan dengan terperinci kesesatan dalam ajaran tariqat, bersumber dari ucapan dan tulisan pemuka-pemuka ajaran tariqat itu sendiri.

Pendedahan yang berani dari seorang pejuang Islam yang gigih dari benua kecil India ini, seorang yang mendapat syahid ketika sedang berjuang menegakkan kebenaran.

Buku kecil yang sarat dengan ilmu ini sepatutnya dimiliki oleh semua pencinta kebenaran . Berikut adalah petikan-petikan menarik dari buku tersebut (dengan sedikit ubahsuai) :

Berikut isi dari buku itu:


BELITAN IBLIS DALAM AJARAN TARIQAT

Penulis: Dr Ehsaan Ilahi Dzahir

Buku ini mendedahkan kepincangan-kepincangan dalam dalam ajaran Tariqat. Kekacauan dalam tariqat adalah suatu yang pasti kerana sesuatu yang tidak bersumber dari Al-Quran dan sunnah pasti akan terpesong.

Dr Ehsaan Ilahi menyenaraikan dengan terperinci kesesatan dalam ajaran tariqat, bersumber dari ucapan dan tulisan pemuka-pemuka ajaran tariqat itu sendiri.

Pendedahan yang berani dari seorang pejuang Islam yang gigih dari benua kecil India ini, seorang yang mendapat syahid ketika sedang berjuang menegakkan kebenaran.

Buku kecil yang sarat dengan ilmu ini sepatutnya dimiliki oleh semua pencinta kebenaran . Berikut adalah petikan-petikan menarik dari buku tersebut (dengan sedikit ubahsuai) :


SIKAP MELAMPAU DAN KETERLALUAN PENGAMAL TARIQAT

Boleh dikatakan sebahagian besar orang sufi dan pengamal tariqat pasti berlebih-lebihan dalam melaparkan diri, meninggalkan perkara-perkara yang halal, semata-mata kerana itulah ajaran imam pembimbing mereka.

Sikap mereka yang berlebih-lebihan melakukan perintah-perintah Allah s.w.t. dan larangan-laranganNya, menghadap ke hadrat Allah s.w.t. dan RasulNya hingga mengharamkan apa yang dihalalkanNya.

Imam Malik selalu mengatakan secara berulang-ulang sebagaimana berikut:

"Sesuatu yang terbaik dalam agama adalah apa sahaja yang merupakan sunnah. Dan sesuatu yang paling buruk adalah perkara-perkara baru dalam agama yang tidak lain adalah bid'ah".

Asy-Syatibi memetik daripada ibnu Rawah dari Al-Hasan bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini:

"Tidaklah pelaku bid'ah meningkatkan ijtihad, puasa dan sembahyang, melainkan dia meningkatkan kejauhannya dari Allah".

Firman Allah swt kepada Ahli Kitab ;

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agama kamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar"
(Surah An Nisa ayat 171)

Saya berani mengatakan seluruh muatan ajaran tasawuf dan perbuatan para pengamal tariqat itu bertentangan dengan manhaj di atas, tidak ada ittiba' (mengikuti Rasulullah s.a.w.) atau keadilan di dalamnya, namun yang ada adalah bid'ah, sikap berlebih-lebihan, 'keterlaluan' dan 'kepaderian' yang mereka ciptakan sendiri, tidak diperintahkan Allah s.w.t. kepada mereka, tidak diwajibkan Rasulullah s.a.w., tidak pernah diamalkan para sahabat atau kawan-kawan mereka atau murid-murid mereka atau murid-murid mereka yang mendapat petunjuk.

Tidak ada satu orang pun dari orang-orang soleh yang "menganggurkan" diri, atau lepas kawalan atau mengasingkan diri di bilik-bilik kecil atau tidak bekerja atau meningalkan sembahyang Jumaat atau meninggalkan sembahyang jemaah atau menempuh jalur-jalur khusus untuk tiba di hadrat Allah s.w.t. atau menjadikan sikap menyeksa diri dan keterlaluan sebagai taqarrub kepadaNya.

Tidak ada satu orang pun dari orang-orang soleh ini yang menjadikan sikap melaparkan diri dan menelanjangi diri sebagai jalan menuju keselamatan atau menjadi pengemis sebagai usaha menuju kepada keberhasilan, namun mereka adalah para peniaga, para petani, para usahawan dan penggembala kambing yang mencari rezeki halal, menghidupi anak-anak dan keluarga mereka dengan hasil kerja yang halal, memberikan makanan yang disenanginya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan perang.

Mereka mempunyai anak isteri, tanggungan, rumah dan kekayaan. Mereka mencari kurnia dari Allah s.w.t. kecuali orang orang yang tidak boleh bekerja, tidak berkuasa atas dirinya dan dipaksa. Meskipun begitu dia tetap berusaha keras, serius dan bersabar hingga Allah s.w.t. membuatnya kaya, kerana Dia Maha Pemberi rezeki dan Maha Kuat.

Ini sangat bertentangan dengan para pengamal tariqat yang membina jalan mereka di atas landasan sikap berlebih-lebihan dan keterlaluan. Jalan hidup mereka adalah menyengsarakan dan menyusahkan diri yang sama sekali tidak diperintahkan Allah s.w.t. dan tidak ada petunjuknya di dalam sunnah. Mereka menyalahi jalan Rasulullah s.a.w., manusia terbaik dan jalan para sahabat yang merupakan makhluk Allah pilihan dan wali-walinya.

Mereka menyatakan bahawa lapar adalah salah satu rukun dan tiang tasawuf. Seorang tokoh besar sufi berkata: "Sering lapar dengan cara yang syar'i adalah rukun terbesar tariqat, kerana sebagaimana Allah menjadikan rukun haji yang teragung adalah Arafah, maka para pengamal tariqat pencinta Allah menjadikan lapar sebagai puncak tariqat.

Orang sufi yang lain memetik dari Fariduddin Mas'ud yang berpulang ke rahmatullah pada tahun 664H bahawa dia berdiri di atas kedua kakinya di dunia sufi dalam masa dua puluh tahun tanpa duduk dan makan.

As-Sya'rani memetik daripada sebahagian Syeikh para pengamal tariqat bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini:
"Daging sebesar biji sawi itu mengeraskan hati dalam masa empat puluh hari".

Begitulah para pengamal tariqat. Mereka mengharamkan diri dari memakan makanan-makanan yang baik-baik dan menjauhkan diri daripadanya dengan alasan bahawa dengan berbuat seperti itu mereka akan dekat kepada Allah s.w.t. Bagaimana mungkin tindakan seperti itu boleh mendekatkan mereka kepadaNya?.

Hadis terbaik dalam hal ini ialah bahawa jika Rasulullah s.a.w. mempunyai makanan, baginda makan, minum dan bersyukur. Jika baginda tidak mempunyai apa yang boleh dimakan dan diminum, baginda bersabar. Baginda tidak menolak apa yang ada dan tidak membebani diri dengan sesuatu yang tidak ada. Sungguh indah apa yang ditulis Al-Hafiz Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah tentang petunjuk Rasulullah s.a.w. dalam hal makanan. Dia menulis :

"Petunjuk Rasulullah s.a.w. dalam makanan ialah bahawa baginda tidak menolak makanan yang ada dan tidak membebani diri dengan sesuatu yang tidak ada. Jika salah satu makanan dari makanan yang baik-baik dihidangkan kepada baginda, baginda memakannya kecuali jika baginda tidak begitu menyukainya maka baginda tidak memakannya tanpa mengharamkannya.

"Baginda tidak pernah sekali pun mencela makanan. Jika baginda tertarik kepada salah satu makanan, baginda memakannya. Jika tidak, baginda tidak memakannya, misalnya baginda tidak mahu memakan daging 'dhab' tanpa mengharamkan bagi umatnya, namun daging 'dhab' tersebut dimakan di hadapan baginda dan baginda melihatnya.

"Baginda memakan manisan, madu, - kedua-duanya paling disukai baginda - daging unta, kambing, ayam, daging burung Hubara, daging binatang liar, daging arnab, makanan laut, kurma masak, dan buah kurma. Baginda minum susu segar, susu campuran, tepung, madu dengan air, minuman rendaman dari kurma, dan sup dengan cuka yang dibuat dari susu.

"Baginda juga memakan timun dengan kurma masak, mentega, kurma dengan roti, kurma dengan cuka, roti dengan daging, roti dengan lemak, hati panggang, dendeng, labu yang dimasak, - baginda amat menyukainya - makanan yang direbus, keju, roti dengan minyak, tembikai dengan kurma masak, dan buah kurma dengan anggur - baginda juga amat menyukainya.

Baginda tidak menolak makanan yang baik-baik dan tidak membebani diri dengan makanan yang tidak ada, namun petunjuk baginda ialah makan apa yang tersedia dan jika tidak mempunyai makanan, baginda bersabar hingga baginda mengikat perutnya dengan batu kerana lapar dan baginda pernah melihat bulan sabit berganti tiga kali namun api tidak mengepul di rumah baginda.

Sebahagian daripada bentuk sikap 'keterlaluan' para pengamal tariqat dan sikap mereka yang menyusahkan diri ialah apa yang diriwayatkan Al-Ghazali bahawa Malik bin Dinar menderita sakit yang membuatnya berpulang ke rahmatullah. Dalam sakitnya, dia ingin madu dan susu untuk dimakan dengan roti panas.

Pembantunya pergi untuk mencari makanan yang diinginkan Malik bin Dinar dan tidak lama kemudian datang dengan membawa makanan yang dimaksud. Malik bin Dinar mengambil makanan tersebut dan melihatnya sebentar. Dia berkata: "Wahai diriku, engkau telah bersabar dalam masa tiga puluh tahun dan umurmu tinggal tersisa satu jam". Selesai berkata seperti itu, Malik bin Dinar membuang tempat makanan tersebut dari kedua tangannya dan menyabarkan diri hingga berpulang ke rahmatullah.

Adakah tindakan seperti itu termasuk ajaran agama, wahai hamba-hamba Allah? Adakah itu termasuk sikap zuhud yang mereka cari?.

Atas dasar itulah, para pengamal tariqat meninggalkan pekerjaan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang mesti dibenci, bahkan merupakan kemungkaran dan diharamkan. Mereka menyuruh mengemis, meminta bantuan, bermalas-malasan, dan tidak serius, padahal bekerja adalah Sunnah Rasulullah s.a.w. dan sunnah Khulafa'ur Rasyidin selepas baginda yang menyuruh orang-orang yang beriman meniru baginda dan sunnah mereka. Selain itu, bekerja adalah sunnah seluruh sahabat Rasulullah s.a.w. kecuali sahabat yang tidak mampu bekerja kerana miskin atau terkena musibah.

Tetapi dari pengamal tariqat mengatakan sebaliknya dari apa yang disabdakan Rasulullah s.a.w., apa yang baginda perintahkan, dan dalil-dalil yang ada di dalam Al-Quran. Mereka berkata:

"Sesiapa mencari rezeki, dia telah condong kepada dunia".

Al-'Attar memetik dari Al-Junaid bahawa seseorang mengeluh lapar dan telanjang kepadanya. Al-Junaid berkata kepada orang tersebut: "Mudah-mudahan Allah melaparkanmu dan menelanjangimu, kerana lapar dan telanjang adalah salah satu nikmat Allah yang tidak diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya yang didekatkan kepadaNya".

Bandingkan perbuatan para pengamal tariqat tersebut dengan sabda Rasulullah s.a.w. sebagaimana disebutkan An-Nafzi Ar-Randi sendiri dalam kitabnya di mana dia meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w. yang bersabda: "Sesungguhnya agama adalah mudah. Tidaklah seseorang bersikap keras melainkan dia dikalahkan".

Demikianlah jugalah diceritakan Al-Ghazali dari Wahb bin Munabbih bahawa dia berdoa kepada Allah agar menghilangkan tidur malam darinya, kemudian tidur malam hilang darinya dalam masa empat puluh tahun.

Begitulah para pengamal tariqat, padahal Rasulullah s.a.w. tidur dan jaga tidur, bekerja dan berehat. Para sahabat juga begitu.

Abdus Salam Al-Faituri bercerita tentang dirinya bahawa dia bertasbih tujuh puluh ribu kali, mengucapkan kata "Allah" sebanyak lima ratus ribu dalam sehari semalam, dan khatam Al-Quran sebelum matahari terbit.

Di samping tindakan di atas itu tidak masuk akal, Rasulullah s.a.w memandang makruh khatam Al-Quran kurang dari tiga hari. Baginda bersabda:
"Tidak faham orang yang khatam Al-Quran kurang dari tiga hari".

Al-'Attar memetik daripada Abu Yazid Al-Bustami bahawa dia melakukan sembahyang Isyak empat rakaat. Selesai sembahyang Isyak, dia berkata: "Sesungguhnya sembahyang seperti ini tidak diterima di sisi Allah". Dia mengulang sembahyangnya. Selesai sembahyang Isyak, dia berkata seperti tadi, kemudian mengulang sembahyangnya. Begitulah yang dia lakukan, hingga pagi hari".

Asy-Sya'rani menulis:

"Orang-orang selalu takut kalau Allah mengubah wajah mereka seperti wajah anjing atau babi".


Para pengamal tariqat berkata:

"Sebahagian daripada akhlak para pengamal tariqat ialah ketakutan mereka kalau sampai Allah menenggelamkan mereka ke bumi".

Imaduddin Al-Umawi berkata: Diceritakan bahawa Hasan Basri tidak tertawa selama tiga tahun.

Ada yang mengatakan bahawa Ata' As-Sulami tidak tertawa dalam masa empat puluh tahun. Begitulah keadaan semua orang-orang Basrah. Mereka sangat takut dan sedih".

Para pengamal tariqat menggolongkan sedih terus menerus dan tidak tertawa sebagai tanda takut dan takwa, padahal Rasulullah s.a.w. - orang yang paling bertakwa dan takut kepada Allah - juga tertawa dan tersenyum.

Sheikh Islam Ibnu Ta'miyah rahimahullah berkata, "Sesiapa takut kepada Allah dengan takut pertengahan, maka takut kepada Allah seperti itu mendorongnya untuk mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apa sahaja yang dibenciNya. Sesiapa ketakutannya kepada Allah lebih tinggi lagi, dia menjadi lebih baik dan lebih mulia dari mereka iaitu para sahabat. Jalan terbaik kepada Allah adalah jalan Rasulullah s.a.w. dan jalan sahabat-sahabatnya. Dari sini boleh disimpulkan bahawa kaum Mukmin wajib bertakwa kepada Allah sesuai dengan usaha dan kesanggupan mereka seperti difirmankan Allah s.w.t.


"Bertakwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kamu." Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jika aku menyuruh sesuatu kepada kamu, maka lakukan. Sesiapa menjadikan jalan salah seorang dari ulama dan fuqaha' atau jalan salah seorang dari ahli ibadah itu lebih baik daripada jalan para sahabat, maka dia keliru, sesat, dan ahli bid'ah".


Tawakkal Kaum Sufi yang Tersasar

Para pengamal tariqat juga berlebih-lebihan dan radikal dalam tawakkal kepada Allah s.w.t., memutus semua sebab, menutup pintu segala ikhtiar, dan tidak berusaha melindungi diri. Mereka mentafsirkan tawakkal tidak dengan makna yang syar'i dan bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah. Mereka menganggurkan badan dan berkeyakinan bahawa gerakan tubuh itu bertentangan dengan keyakinan dan tawakkal. Justeru, mereka lebih senang bermalas-malasan daripada bersungguh-sungguh dan mendahulukan pasif daripada aktif sebagaimana disebutkan As-Sulami dari Ruwaim bin Ahmad Al-Baghdadi bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini:

"Tawakkal adalah menghilangkan pandangan terhadap usaha dan bergantung kepada ikatan tertinggi".

As-Sulami juga memetik dari Al-Khawajah Abdullah Al-Anshari Al-Harawi bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini:

"Tawakkal adalah menghilangkan tuntutan dan memejamkan mata dari sebab disertai usaha untuk memperbaiki tawakkal".

Makna tawakkal versi sufi dijelaskan Ahmad Al-Khamsyakhawani. Dia menulis:

"Al-Hasan saudara Sinan berkata: "Aku telah melaksanakan ibadah haji sebanyak empat belas kali dengan berkaki ayam tanpa selipar atau kasut kerana tawakkal. Pernah suatu ketika, duri menusuk kakiku, namun aku tidak mengeluarkannya agar tawakkalku tidak batal".

Al-'Attar memetik dari Ibrahim bin Adham bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini:

"Pada suatu hari, aku keluar ke Al-Bariyyah dengan bertawakkal kepada Allah. Di sana, aku tidak mendapat makanan dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu, terlintas dalam benakku untuk pergi ke rumah kawanku dan makan di rumahnya, namun tiba-tiba penyeru berseru kepadaku: "Sesungguhnya Allah membersihkan bumi dari orang-orang yang bertawakkal".

Aku berkata: "Suara apa ini?".

Penyeru tersebut berseru lagi: "Sesiapa ingin makan di rumah kawannya, dia bukan termasuk orang-orang yang bertawakkal".

Begitulah para pengamal tariqat, padahal ada hadis dari Rasulullah s.a.w. yang tidak membenarkan tindakan mereka tersebut dan menjadi tentangan kuat terhadap cara berfikir sufi yang batil, penuh bid'ah, dan bertentangan dengan teladan yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w., kehidupan baginda yang indah, dan penuh berkat. Abu Hurairah r.a. berkata:

"Pada suatu malam atau siang, Rasulullah s.a.w. keluar, tiba-tiba baginda bertemu dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Baginda bertanya kepada keduanya: "Kenapa kamu berdua keluar pada waktu seperti ini?"

Keduanya menjawab: "Kerana kami lapar".

Rasulullah s.a.w. bersabda: "Demi zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku juga keluar rumah kerana lapar seperti kamu berdua. Mari kita pergi". Abu Bakar dan Umar bin Khattab pun pergi bersama Rasulullah s.a.w. ke rumah salah seorang sahabat Anshar, namun sahabat tersebut tidak ada di rumah. Ketika isteri sahabat Anshar tersebut melihat Rasulullah s.a.w., dia berkata: "Selamat datang, wahai Rasulullah". Rasulullah s.a.w. bersabda kepada wanita tersebut: "Mana suamimu?".

Wanita tersebut menjawab: "Dia pergi mengambil air tawar untuk kami". Tidak lama selepas itu, datanglah sahabat Anshar tersebut. Ketika melihat Rasulullah s.a.w. dan dua sahabatnya, dia berkata: "Segala puji bagi Allah. Pada hari ini, tidak ada tuan rumah yang lebih mulia daripada saya". Selesai berkata seperti itu, sahabat Anshar tersebut masuk ke rumah dan keluar lagi dengan membawa setandan kurma. Dia berkata: "Silakan makan".

Rasulullah s.a.w. bersabda kepadanya: "Engkau tidak usah memerah susu". Sahabat Anshar tersebut kemudian mengambil pisau dan menyembelih kambing untuk Rasulullah s.a.w. dan dua sahabatnya. Selepas itu, mereka memakan daging kambing tersebut, setandan kurma, dan minum."
(Riwayat Muslim)

Siapa yang lebih bertawakkal? Rasulullah s.a.w. ataukah para imam pembimbing para pengamal tariqat?

Manakala tawakkal versi sufi, maka tidak lain adalah senang bermalas-malasan, duduk-duduk di tempat-tempat awam, lari dari keseriusan dan keletihan, tidak bersungguh-sungguh, dan lari dari jihad sebagaimana disebutkan oleh As-Suhrawardi dalam "Awarifnya" dari Dawud bin Shalih.

Menghinakan diri

Para pengamal tariqat berkata:

"Sesiapa menyakini dirinya lebih baik daripada Fir'aun, sungguh dia telah memperlihatkan kesombongan".

Sebahagian daripada cerita lain yang diceritakan para pengamal tariqat tentang ketawadhu'an imam-imam pembimbing mereka adalah cerita yang diceritakan Al-Yafi' dari Ibrahim bin Adham bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini:

"Aku tidak pernah bahagia ada suatu hari seperti kebahagiaanku pada saat aku duduk, tiba-tiba seseorang datang kepadaku kemudian mengencingiku".

As-Sulami memetik daripada Abu Muhammad Ar-Rasibi bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini:

"Seseorang tidak dinamakan orang sufi hingga dia tidak diangkat oleh bumi, tidak dinaungi langit, dan tidak diterima manusia".

Sikap keterlaluan

Ada lagi bentuk sikap 'keterlaluan' dari para pengamal tariqat dalam urusan agama dan dunia. Sebahagiannya saya sebutkan di sini. As-Suhrawardi Abdul Qadir berkata:

"Sesiapa mengetahui sebelah kanan dan kirinya ketika sembahyang dengan sengaja, sembahyangnya tidak sah".

As-Sulami menyebutkan dalam "Tabaqatnya" dari Asy-Syibli bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini:

"Lupakan atau tidak ingat kepada Allah sekejap mata bagi orang-orang yang mempunyai ma'rifat adalah syirik".


Enggan mencontohi Rasulullah s.a.w.

Para pengamal tariqat tidak mahu meniru tauladan yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam muamalah mereka, makan dan minum, pakaian, rehat, kerja dan kegiatan-kegiatan dunia yang lain.

Mereka Membuat Syariat Sendiri

Bukan sekadar itu, mereka bertindak lebih jauh dengan menempatkan diri mereka dan imam-imam pembimbing mereka sebagai pembuat syariat dan hukum. Oleh kerana itu tidak hairan, kalau mereka membuat banyak sekali perkara-perkara baru dan menciptakan banyak sekali amalan yang kemudian mereka dakwa sebagai bahagian dari agama dengan melupakan firman Allah s.w.t.:

"Adakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?"

(Surah Asy-Syura ayat 21)

Menghina Syurga dan Neraka

Al-'Attar berkata: "Beberapa wali Allah datang kepada Rabi'ah Al-Adawiyah, kemudian Rabi'ah Al-Adawiyah bertanya kepada salah seorang dari mereka:

"Kenapa engkau menyembah Allah?"

Orang tersebut menjawab: "Aku menyembah Allah kerana takut seksaNya dan neraka yang diperlihatkan kepada orang-orang yang sesat".

Pertanyaan yang sama dikemukakan Rabi'ah Al-Adawiyah kepada orang yang lain dari mereka, kemudian orang tersebut menjawab: "Aku menyembah Allah kerana mengharapkan syurga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa".

Rabi'ah Al-Adawiyah berkata: "Manakala aku menyembah Allah kerana tidak takut nerakaNya dan tidak mengharapkan syurgaNya. Aku seperti buruh yang tidak berguna. Ya, aku menyembahNya kerana cinta dan rindu kepadaNya".

Demikian jugalah dinukil dari Al-Bustami bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini: "Syurga adalah penghalang terbesar, kerana penghuni syurga merasa damai dengannya, kerana siapa sahaja yang merasa damai dengan selain Allah, dia terhalang".

Imaduddin Al-Umawi berkata:

"Para wali pilihan menjauhkan diri dari bidadari dan kenikmatan-kenikmatan syurga yang lain, kerana lebih asyik melihat Wajah Allah s.w.t. Mereka berpaling dari bidadari, istana-istana, bersandar di tilam-tilam dan sofa-sofa, daging-daging, dan buah-buahan, yang ada di syurga kerana lebih senang menyaksikan kesempurnaan Allah yang menjadi Tuhan kepada semua itu".

Yang lebih parah dari itu semua adalah apa yang diriwayatkan Ibnu Al-Mulqan dalam "Tabaqatnya" dari Abu Al-hasan bin Al-Muwaffiq yang wafat pada tahun 265H bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini:

"Ya Allah, jika Engkau mengetahui aku menyembah-Mu kerana takut kepada nerakaMu, seksalah aku dengan neraka tersebut "

"Jika Engkau mengetahui aku menyembahMu kerana takut kepada neraka Mu, ancamlah aku dengannya "

"Dan jika Engkau mengetahui aku menyembah Mu kerana mencintai syurga Mu dan rindu kepadanya, haramkan syurga bagiku".

Lebih parah lagi, para pengamal tariqat memetik daripada Abu Musa bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini:

"Apa neraka itu?"

"Esok pagi, aku pasti pergi ke sana dan berkata: Jadikan aku sebagai tebusan bagi para penghuni neraka. Atau kalau tidak, aku akan menelannya".

"Apa syurga itu?"

"Syurga adalah mainan anak-anak".


Mereka Menghina Al-Quran dan Sunnah

Seorang sufi terkenal, Aiunuddin yang wafat pada tahun 822H, bahawa dia meminum minuman keras siang dan malam.

Juga Syeikh Asy-Syuryani Al-Qushuri yang wafat pada tahun 1043H, bahawa dia mempunyai banyak sekali keperluan dan murid. Dia tidak memenuhi salah satu keperluan melainkan dengan meminum minuman keras.

Mengenakan pakaian sutera dan memakai perhiasan dari emas

Para pengamal tariqat mengatakan bahawa Aun bin Abdullah mengenakan pakaian dari bahan sutera.

Abu Al-Abbas Ahmad bin Ali yang wafat pada tahun 622H mengajak laki-laki mengenakan cincin emas.


Keengganan mereka sembahyang Jumaat di Masjid

Al-Jami menceritakan tentang orang sufi terkenal Syamsuddin At-Tibrizi bahawa dia berkhalwat dalam masa tiga bulan. Dalam jangka waktu tiga bulan tersebut, dia tidak keluar sekalipun dan tidak mengizinkan siapa pun masuk kepadanya.

Asy-Sya'rani menyebutkan orang sufi lain yang berkhalwat dalam masa sembilan bulan. Dalam masa sembilan bulan tersebut, dia memutus hubungan dari manusia, meninggalkan sembahyang jumaat dan sembahyang jemaah.

Abu As-Su'ud Al-Jarihi berkata:-

"Ada orang sufi yang berkhalwat enam bulan dalam setiap tahun tanpa makan dan minum sedikit pun. Jika masa khalwatnya telah selesai dan dia ingin keluar, dia berteriak dengan suara keras agar manusia menghindar daripadanya sebab jika dia melihat seseorang, orang tersebut pasti buta dalam masa dua hari".

Para pengamal tarikat juga memetik daripada orang sufi terkenal, iaitu Muhammad Al Hanafi bahawa dia mengasingkan diri dari manusia dan duduk berkhalwat di bawah tanah selama tujuh tahun. Asy-Sya'rani memetik daripada Abu Al-Abas Al Mursi bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini :

" Ketika Syeikh Muhammad Al Hanafi keluar dari Al Khuttab, dia menjual kitab-kitabnya di pasar. Beberapa orang berjalan melaluinya dan berkata kepadanya : "Wahai Muhammad, engkau tidak diciptakan untuk dunia". Selepas itu Muhammad Al Hanafi keluar dari kedainya dengan meninggalkan pakaian dan buku-buku yang ada di dalamnya, serta tidak menanyakannya lagi. Kemudian dia tertarik berkhalwat dan menjalaninya selama tujuh tahun di bawah tanah tanpa keluar daripadanya, padahal dia baru berumur empat belas tahun".

Tidak hanya berkhalwat selama dua puluh tahun, bahkan mereka berkhalwat lebih dari tiga puluh tahun. Ramai orang memetik daripada Husain Abu Ali yang mereka yakini sebagai orang yang paling sempurna makrifatnya dan memberikan emas dan perak kepada manusia. Ya, mereka memetik daripada wali mereka ini bahawa dia berkhalwat selama empat puluh tahun di rumah tertutup rapat dan hanya terbuka celah kecil tempat udara masuk.

Kesimpulannya, syaitan telah memperindah bid'ah-bid'ah kepada para pengamal tariqat, membuat mereka benci kepada jalan-jalan yang syar'i, membuat mereka senang berkhalwat dan mengasingkan diri agar mereka tidak mendapat pahala sembahyang berjemaah dan sembahyang Jumaat.

Mereka tidak tahu bahawa jalan satu-satunya menuju Allah s.w.t. ialah dengan mengikuti Rasulullah s.a.w. dan sahabat-sahabat baginda. Mereka tidak sedar bahawa menyendiri seperti itu, tidak mempedulikan keluarga, anak, sanak saudara, kawan-kawan, dan sahabat-sahabat itu termasuk penentangan terhadap syariat Islam dan membuat mereka tidak mendapat pahala zikir kepada Allah s.w.t., menunaikan sembahyang Jumaat, mendengarkan bacaan Al-Quran Al-Karim, dan mendengarkan dengan serius hadis-hadis Rasulullah s.a.w.


Mengasingkan Diri Dari Manusia

Ibnu Arabi menulis:

"Sesungguhnya Allah tidak memperlihatkan diri kepada hati yang bersahabat dengan selain Dia".

Para pengamal tariqat meriwayatkan dan Asy-Syazili bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini: "Tanda kemuflisan adalah bersahabat dengan manusia".

Padahal Rasulullah s.a.w. bersabda, "Orang mukmin itu bersahabat dan boleh dipersahabatkan. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bersahabat dan tidak boleh dipersahabatkan".

Al-Umawi memetik daripada Al-Junaid bahawa dia pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini: "Sesiapa ingin agama, badan, dan hatinya selamat, hendaklah dia menjauhi manusia, kerana sekarang zaman yang jahat".


Mereka Meninggalkan Sembahyang Fardu

Muhammad bin Ghuthi Asy-Syattari yang wafat pada abad ke sepuluh Hijriyah berkata tentang imam pembimbing, Syaraf Al-Bani Batti, bahawa dia tidak melakukan sembahyang, kemudian diprotes manusia. Dia menjawab:

"Sesungguhnya Allah membebaskanku dari mengerjakan sembahyang wajib dan berfirman kepadaku: "Zatmu adalah Zat Ku".

Para pengamal tariqat menceritakan tentang tokoh sufi lain bernama Ahmad Al-Ma'syuq yang wafat pada tahun 773H bahawa dia tidak mengerjakan sembahyang. Dia ditanya manusia kenapa dia tidak melakukan sembahyang. Dia menjawab: "Aku wanita yang manakala haid. Dengan demikian, sembahyang tidak diwajibkan ke atasku".

Menghina Kaabah

As-Sahlaji dari Al-Bustami pernah berkata:
"Aku tawaf disekitar kaabah. Ketika tiba di Kabaah, aku lihat Kaabah tawaf disekitarku".

Bukan sekadar itu, bahkan Al-Hasan bin Alawiyah berkata:

"Abu Yazid pergi ke Makkah bersama salah seorang muridnya. Ketika dia memasuki Madinah, maka Makkah datang ke Madinah kemudian tawaf di sekitar Abu Yazid. Melihat hal tersebut, murid Abu Yazid jatuh pengsan. Ketika dia sedar, Abu Yazid mengusap kepala muridnya dan berkata kepadanya: "Engkau hairan?"

Muridnya menjawab: "Ya".
Abu Yazid berkata: "Demi Allah, jika Bustam datang kepadaku, maka Bustam itu belum apa-apa".

Adakah penghinaan terhadap Kaabah dan tawaf di sekitarnya yang melebihi penghinaan di atas?.

Asy-Shibli menjawab: "Dengan lilin ini, aku ingin membakar Kaabah agar manusia langsung menghadap kepada Tuhan".


Kaum Sufi Mengabaikan Kebersihan

As-Sya'rani memetik daripada aseorang sufi Syikh Muhammad As-Sarawi bahawa dia didatangi Syeikh Ali-Al-Hadidi yang meminta nasihat dan petunjuk. Syeikh Muhammad As-Sarawi memalingkan muka kerana pakaian Syeikh Ali Al-Hadidi bersih kemudian berkata: "Jika engkau meminta petunjuk jalan, maka jadikan pakaianmu sebagai alat mengelap orang-orang miskin".

Jika tokoh besar sufi telah memakan makanan berminyak, dia mengusapkan tangan ke pakaiannya selama setahun tujuh bulan, hingga pakaiannya menjadi seperti pakaian pembuat minyak atau pakaian orang-orang miskin. Jika dia telah melihat pakaian kotor seperti itu, dia baru mahu mengajarkan zikir."

Mereka mesti bersabar terhadap kotoran pakaian dan keusangannya, hingga kotoran hatinya hilang.


Mereka Membuang-Buang Harta

Manakala para pengamal tariqat, mereka memetik daripada Asy-Syibli bahawa dia membuang wang sebanyak empat ribu dinar ke Sungai Dajlah. Orang-orang yang melihatnya bertanya kepadanya: "Kenapa engkau berbuat seperti itu?".

Asy-Syibli menjawab: "Batu itu lebih tepat bersama dengan air". Orang-orang berkata: "Kenapa engkau tidak memberikan wang tersebut kepada orang-orang miskin?"

Asy-Syibli menjawab: "Maha suci Allah, apa yang mesti saya katakan kepada Allah jika aku telah mengangkat tabir dari hatiku, kemudian aku memberikannya kepada saudara-saudara seagamaku?"


Mereka Mengejek Allah dan Rasul

Para pengamal tariqat dan imam-imam pembimbingnya menjadikan Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. sebagai bahan ejekan dan penghinaan seperti yang diriwayatkan dari buku-buku mereka sendiri. Seolah-olah mereka tidak beriman kepada Kemaha-Esaan Allah s.w.t., keagungan-Nya, kesempurnaan Nya, risalah Rasulullah s.a.w., dan ketinggian kedudukan baginda.

Mereka berusaha memalingkan kaum muslimin dari membacanya dan memperlajari ayat-ayatnya. Lihatlah bagaimana An-Nafri memperkecilkan Al-Quran Al-Karim dan menghina ayat-ayatnya tentang syurga, neraka, pahala, seksa, hari kiamat dan kedahsyatannya. Dia berdusta kepada Allah s.w.t. melalui kata-katanya sendiri:

"Allah s.w.t. berfirman: "Malam adalah milik Ku dan Al-Quran itu tidak untuk dibaca. Malam adalah milik Ku dan bukan untuk memuji dan menyanjung".

Allah s.w.t. juga berfirman: "Sesungguhnya pada waktu siang, engkau mempunyai urusan yang banyak. Maka, jadikan malam milik Ku sebagaimana dia menjadi milik Ku. Aku tidak menyuruhmu membaca Al-Quran dan merenungkan maknanya, kerana maknanya memisahkanmu dari Ku. Satu ayat berjalan denganmu ke syurga Ku dan apa sahaja yang telah Aku sediakan bagi wali-waliKu di dalamnya. Dimanakah Aku, jika engkau berada di syurgaKu bersama bidadari-bidadari yang dipingit di khemah-khemah di mana mereka seperti mutiara, yakut dan marjan.


PERSEKONGKOLAN PENGAMAL TARIQAT UNTUK MELEMAHKAN ISLAM

Bertolak dari kenyataan-kenyataan yang telah saya sebutkan, maka saya amat yakin bahawa pengamal tariqat bukan sahaja merupakan pantulan sikap berlebih-lebihan dan sikap 'keterlaluan' dalam agama, namun merupakan persekongkolan yang telah dirancang. Ia sudah dirancang jauh-jauh hari dan benang-benangnya disusun rapi untuk melawan Islam dan kaum muslimin.

Sebahagian daripada tujuan terpenting mereka dengan persekongkolan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menjauhkan kaum muslimin dari Islam yang hakiki dan ajarannya yang suci murni dengan topeng Islam.

2. Memasarkan akidah-akidah Yahudi, Kristian, fahaman-fahaman di India, dan fahaman-fahaman di Parsi seperti agama Budha, agama Hindu, Zoroaster, Al-Manawiyah, Platoisme moden dan fahaman-fahaman lain yang tidak mempunyai asas dalam Islam dan syariatnya yang lurus, toleran dan cemerlang. Untuk mematikan semangat jihad dan gagasan meninggikan kalimatullah dan agama menjadi milik Allah s.w.t. sepenuhnya serta menyampaikan risalahNya kepada seluruh umat dan kelompok di seluruh penjuru dunia.

3. Mengekalkan kehinaan, kejumudan, dan kelemahan di tubuh kaum muslimin.

4. Menyebarkan kebodohan dan kemalasan di tengah-tengah kaum muslimin.


Memecah-belahkan Kaum Muslimin

Para pengamal tariqat memecah-belah kaum muslimin setelah sebelumnya bersatu dan menjauhkan mereka dari jemaah-jemaah kaum muslimin dengan membuat prinsip-prinsip yang bertentangan dengan prinsip-prinsip jemaah kaum muslimin.

Mazhab dan sumber jemaah kaum muslimin dibina di atas Islam yang bersumberkan Al-Quran dan Sunnah, manakala mazhab dan sumber para pengamal tariqat dibina di atas sufi yang bersumberkan kasyaf dan ilham yang tidak hanya dimiliki orang tertentu, tetapi menurut mereka, semua orang sufi itu mempunyai kasyaf dan ilham.

Dalam pandangan mereka, setiap orang sufi adalah nabi kecil yang mempunyai syariat dan jalan hidup tertentu, bahkan menurut mereka, salah seorang dari mereka boleh mencapai darjat Uluhiyah dan Rububiyah.

Mereka menciptakan aturan-aturan baru dan jalan hidup pelik, kemudian aturan-aturan dan jalan hidup tersebut diabadikan dalam buku-buku mereka dan diwariskan kepada generasi-generasi mereka. Aturan-aturan dan jalan hidup dinamakan dengan tariqat (jalan) dalam istilah yang lazim di kalangan kaum sufi dan pengamal tariqat itu sendiri.

Selepas itu mereka cuba pula membuat Al-Quran baru dalam bentuk nyanyian, syair-syair, lagu-lagu, wirid-wirid pelik, dan zikir-zikir asing. Mereka jadikan hadis-hadis imam pembimbing mereka, cerita-cerita para imam pembimbing tersebut, cerita-cerita lucu, dan cerita-cerita sedih sebagai sunnah.

Mereka mengerjakan sembahyang dengan menari, sukacita, dan memutar kepala ke depan dan belakang. Haji mereka adalah dengan mengunjungi kuburan, tawaf disekitarnya, memakan tanah kuburan tersebut, dan menyentuh temboknya.

Mereka menjadikan puasa mereka dengan meninggalkan makanan dan minuman yang baik, mengharamkan apa yang dihalalkan Allah s.w.t., dan melaparkan diri selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. I'tikaf mereka ialah mengasingkan diri di tempat-tempat sepi, masuk ke bawah tanah, atau gua, pengembaraan tidak tentu arahnya di padang pasir, daratan, dan kuburan.

Mereka juga memutarbelikkan makna zakat dan mengubahnya dengan mengemis, meminta belas-kasihan orang lain, dan menjadikan tangan yang di bawah lebih baik daripada tangan di atas. Mereka berpaling dari ilmu dan ulama.

Mereka mengajar murid-murid mereka dan orang-orang yang masuk dalam perangkap mereka untuk menjauhkan diri dari ilmu dan ulama agar murid-murid yang merupakan "mangsa" dan "buruan" mereka tidak lari dan tidak selamat dari kuku-kuku dan perangkap-perangkap mereka. Tidak ada penentangan dalam buku-buku generasi pertama atau terakhir mereka yang lebih besar daripada penentangan mereka terhadap ilmu.


Bertaqlid Buta Kepada Imam Pembimbing

Para pengamal tariqat memetik dari Al-Junaid yang pernah berkata:

"Murid sejati itu tidak memerlukan ilmu para ulama. Jika Allah menghendaki kebaikan kepada seorang murid, Allah menempatkannya ke tempat para pengamal tariqat dan menghalanginya bergaul dengan para qari' Al-Quran."

Bukti lain yang menunjukkan penentangan para pengamal tariqat terhadap mencari ilmu, kebencian, dan dendam mereka kepada ulama dan pencari ilmu adalah riwayat yang telah dinyatakan Ibnu Ajibah. Dia berkata:

"Salah seorang tokoh besar sufi mengadakan majlis zikir di tempat yang gelap-gelita, akibatnya, para pengamal tariqat tidak menemukan hati mereka. Imam pembimbing tersebut berkata kepada mereka: "Bawa lampu kepadaku". Ketika para pengamal tariqat menyerahkan lampu kepada imam pembimbing tersebut, mereka mendapati salah seorang pencari ilmu tersebut. Setelah pencari ilmu tersebut keluar mereka menemukan hati mereka".

Ilham, Kasyaf atau Ilusi dan Khayal

Para pengamal tariqat menjadikan ilusi-ilusi dan khurafat-khurafat yang mereka namakan ilham sebagai landasan mereka selain Al-Quran dan Sunnah. Itulah asas/pedoman dan landasan mereka. Berdasarkan landasan itulah, mereka menentang nas-nas Al-Quran dan Sunnah, serta tidak memberi kesempatan kepada murid-muridnya untuk menyalahi mereka dengan berlindung kepada landasan tersebut .

Bahkan salah seorang sufi terang-terangan mengungkapkan penentangannya terhadap ilmu yang mulia, iaitu ilmu Sunnah Rasulullah s.a.w. Dan pengetahuan agama yang lain. Sebahagian pengamal tariqat memetik daripada Abu Sulaiman Ad-Darani yang pernah mengeluarkan kata-kata berikut ini.

"Sesiapa mencari hadis, sungguh dia telah cenderung kepada dunia".


Membenci Hadis yang Sahih

Sebahagian pengamal tariqat sangat keterlaluan dalam membenci hadis dan ulama hadis hingga mereka berkata bahawa seseorang meminta pertimbangan kepada Ma'ruf Al-Kurkhi untuk bergaul dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Ma'ruf Al-Kurkhi menjawab:

"Jangan engkau bergaul dengan Imam Ahmad bin Hanbal kerana dia ulama hadis dan hadis itu menyibukkan manusia. Jika engkau bergaul dengannya, kelazatan zikir dan cinta khalwat hilang dari hatimu".


Membenci Ilmu dan Menyukai Kesesatan

Peliknya sebahagian pengamal tariqat lebih menyukai kebodohan, membenci ilmu, membeli kesesatan dengan petunjuk yang nyata, hebat dalam menentang ilmu dan para ulama, serta pakar dalam menyebarluaskan kebodohan.

Untuk itu, mereka menciptakan jalan lain, mendatangkannya dan menamakannya kasyaf dan ilham. Dengan cara seperti itulah, mereka hendak menghilangkan ilmu dan memadamkan cahaya petunjuk dengan menghalang-halangi dari Al-Quran dan Sunnah dengan dalil bahawa Sunnah itu diriwayatkan dari orang yang telah mati, manakala kasyaf dan ilham mereka berasal dari Zat Maha Hidup yang tidak mati.

Dengan demikian, sunnah bukan hujah mereka, manakala mereka dan ucapan mereka adalah hujah bagi Sunnah dan seluruh manusia. Ini jelas bentuk kebodohan dan mereka tenggelam di dalamnya. Kita tidak ragu bahawa itu adalah persekongkolan berbahaya melawan syariat Islam yang dibawa Muhammad bin Abdullah s..a.w. yang tidak lain adalah penutup para nabi dan pemimpin para rasul.

Tidak ada persekongkolan yang lebih besar dan lebih berbahaya daripada persekongkolan ini mencakupi penghapusan syariat Allah s.w.t. yang terakhir dan kenabian Muhammad s.a.w., kerana jika syariat Allah s.w.t. adalah perintah-perintah dan hukum-hukumNya yang masih turun, petunjuk-petunjuk Nya yang diilhamkan, dan maklumat-maklumat yang boleh diketahui dengan kasyaf, maka terputusnya kenabian, penutupan risalah, penyempurnaan agama, dan nikmat menjadi tidak ada ertinya.

Jika Al-Quran belum cukup untuk menyeru umat dan menyeru manusia, maka banyak hal masih diperlukan diturunkan lagi.

Jika sunnah Nabawiyah belum lengkap, pasti diperlukan penurunan sunnah-sunnah setelah kewafatan Rasulullah s.a.w. Jika sunnah belum diperjelaskan Rasulullah s.a.w. kepada murid-muridnya, iaitu para sahabat, bagaimana boleh dikatakan bahawa baginda telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah? Dan kenapa Allah s.w.t. memberi kesaksian untuk baginda dengan firman Nya.

"Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib" (Surah At-Takwir: ayat 24)

Dengan demikian, dakwaan kasyaf dan ilham adalah bertujuan meniadakan ilmu dan kaedah-kaedah Syar'iah tanpa dasar yang kuat, menyebarluaskan kekacauan agar setiap orang tidak mempunyai sebarang panduan dan tidak diminta apa-apa kerana kewujudan kasyaf dan ilham yang berbeza dengan sesuatu tersebut, juga kerana kewujudan bermacam ilham dan kasyaf dari banyak orang pada masa yang sama , akal dan fikiran tidak boleh ikut campur di dalamnya, sebagaimana disebutkan oleh tokoh besar sufi Muhyiddin bin Arabi dalam "Futuhatnya":

Sebahagian pengamal tariqat tidak boleh dikecam meskipun seseorang melihat mereka berzina atau meminum minuman keras, atau melakukan hal-hal yang keji, atau melakukan hal-hal yang diharamkan, kerana boleh jadi jiwa orang sufi tersebut menjelma ke dalam bentuk seperti dirinya kemudian jelmaan jiwanya mengerjakan hal-hal yang diharamkan manakala orangnya terpisah dari perbuatan tersebut.

Dahsyat sekali persekongkolan sebahagian pengamal tariqat terhadap Islam dan syariatnya yang suci bersih dalam bentuk seperti falsafah-falsafah syaitan tersebut. Falsafah-falsafah syaitan tersebut tidak mengenal sesuatu apa pun dari tipu muslihat yang dibuat sebahagian pengamal tariqat untuk memperkecilkan syariat dan perintah-perintahnya serta merosak kehormatannya.

Tentang orang-orang seperti para pengamal tariqat ini, Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Maka celakalah orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka berkata: Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu, maka celaka besar bagi mereka akibat dari apa yang ditulis tangan mereka sendiri dan celaka besar bagi mereka akibat dari apa yang mereka lakukan".
(Surah al-Baqarah : ayat 79)

Allah s.w.t. juga berfirman:

"Dan mereka mengatakan: "Ini dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedangkan mereka mengetahui".
(Surah Ali Imran: ayat 78)

Posted at 08:48 am by khadafi
Post comment |